Keterangan pendahuluan: Pada 26 Juli 1999 di Pineleng Minahasa diselenggarakan “SARASEHAN KELUARGA”  dalam rangka memperingati 50 tahun wafatnya SAM RATU LANGIE. Salah seorang diantara para pemrasaran adalah Bapak Harry Kawilarang, dan berikut naskah yang disampaikan.

Tabea, atas permintaan tamang-tamang, kita diminta untuk lebih menyebar-luaskan artikel ini yang katanya sangat berguna voor torang samua.
Tulisan ini kita ada sampaikan di seminar Memperingati 50 Tahun Wafatnya Dr.GSSJ Ratulangie pada 27 Juni 1999. Tetapi masih cukup relevan untuk diketahui. Selamat babaca.
Harry Kawilarang

Harry Kawilarang (1999)

Harry Kawilarang (1999)

SAM RATULANGIE DI MATA WARTAWAN
Oleh : Harry Kawilarang

De kracht van de Indonesische (pers) ligt in de bewustheid, dat men het op den duur moet winnen, zooals men nu reed voet voor voet terrein heft gewonnen. De ontwikkelingslijn van de Indonesische pers toont een voortdurende opgaande tendenz.

Er kan eens een blaadje over den kop gaan, maar de Indonesische pers in zijn geheel neemt in omvang steeds toe. De qualiteit toont een voortdurende perfectie, en wat belangrijkste is, de zelfstandige meening-vorming accentueert zich met den dag. – GSSJ Ratulangie

Istilah publisis pada buku kamus, Random House Unabridged Dictionary mengandung tiga pengertian. Yang pertama, konsultan penerbit media pers atau hubungan masyarakat ; yang kedua, ahli pengamat kemasyarakatan atau politik; dan yang ketiga ahli memahami masalah masyarakat ataupun masalah internasional.

Istilah ini memang tidak pernah terdengar, apalagi sebagai gelar. Tetapi menjadi obrolan kami dengan Profesor S. I. Puradisastera di bulan Juni 1985 ketika membahas isi buku Dr. GSSJ Ratulangie, “Indonesia in den Pacific”, yang diterjemahkannya dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia. “Saya kagum pada Ratulangie. Sebenarnya ia patut memperoleh gelar publisis ulung yang pernah dimiliki bangsa Indonesia”, ujar ilmuwan sejarah ini. Puradisastra mendefinisikan publisis sebagai jurnalis yang sudah memperoleh tingkat kesempurnaan dalam dunia jurnalistik yang tersimpul pada buku karya Oom Sam Ratulangie.

Penyajian analitis faktual dan kontekstual yang dilakukannya biasanya dilengkapi referensi nara sumber untuk memahami latar belakang permasalahan. Pembaca digiringnya menatap ke arah masa depan (futurologi). Penyajian cukup singkat. Namun bila diuraikan lebih mendalam, maka tulisannya akan menjadi buku tebal hingga terungkap posisi letak geo-strategis Indonesia dalam percaturan politik, ekonomi dan keamanan dunia.
Seorang penulis tak terlepas dari proses gemar menulis dan membaca mengikuti setiap situasi perkembangan menjadi syarat mutlah seorang wartawan untuk meningkat menjadi analis.

Proses ini dikembangkan Oom Sam ketika mendirikan dan mengelola mingguan politik, Nationale Commentaren. Oom Sam Ratulangie mengikuti, mempelajari dan menganalisa setiap perkembangan dan peristiwa dari Samudra Atlantik hingga Pasifik yang berdampak terhadap Indonesia.  Sebagai hasilnya, muncul karya buku tulisannya, Indonesia in den Pacific.
Pemikiran Oom Sam Ratulangie di tahun 1930-an mengenai Pasifik baru menjadi trend sekitar 50 tahun kemudian oleh kalangan praktisi negeri- negeri lain.

Misalnya saja, buku Megatrends Asia tulisan John  Naisbitt. The Rise and Fall of the Great Powers atau Preparing for the Twentieth Century karya Paul Kennedy, Peace and War : A Theory of international Relations karya Raymond Aaron, Complexity, Global Politics, and National Security tulisan Thomas J. Czerwinski dll. Kesemuanya ditulis tahun 1980’an, dan mereka semua menyadari prospek dan peranan Pasifik di dunia internasional pada abad XXI.  Dilihat dari riwayat perjalanan hidup Oom Sam Ratulangie, tidak ada bayangan bahwa ia memiliki kekuatan “pena” dengan kapasitas sebagai publisis, dan prestasi mengelola mingguan politik, Nationale Commentaren. Praktek sebagai sarjana matematika yang diraih di Zurich juga tidak menonjol. Oom Sam terkesan penuh percaya diri dalam melakukan kegiatan disesuaikan dengan tuntutan zaman, yakni memperjuangkan nasionalisme kemerdekaan berbangsa. Trend dunia di awal abad ke-20 diwarnai oleh demam kebangkitan Nasionalisme sebagai dampak dari kolonialisme memperluas wilayah di Asia dan Afrika bagi kepentingan roda industri akibat Revolusi Industri di Eropa dan Amerika Utara di pertengahan Abad ke 19. Nasionalisme diawali dengan penyatuan Jerman dengan Kanselir Otto von Bismarck tahun 1871 mengubah wajah dunia terbagi oleh petak-petak politik wilayah kedaulatan negara-bangsa (nation-state).
Kebangkitan nasionalisme di Eropa menjalar ke Asia terutama di kalangan pelajar pribumi yang mengikuti pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Eropa awal abad ke-XX. Dengan pengetahuan yang diperoleh, mereka mengembangkan nasionalisme dengan mewujudkan nilai-nilai solidaritas kebersamaan di kalangan pelajar pribumi dan disatukan oleh nasionalisme sekuler yang saling berbagi rasa dan menyatu memperjuangkan kemerdekaan bagi penghuni nusantara. Dari solidaritas kebangkitan nasionalisme terbentuk
identitas nama sebagai legitimasi bangsa, yakni Indonesia.
J. Ingleson dalam tulisannya pada majalah Perhimpunan Indonesia, edisi keenam mengemukakan bahwa ide dari nama ini dikaitkan dengan sebutan indologi, fakultas ilmu – ilmu sosial jurusan Hindia-Belanda di Universitas Leiden, oleh pelajar pribumi yang belajar di negeri Belanda yang lahir di bulan November 1917. Sebutan itu berawal dari kelompok studi peminat masalah Hindia-Belanda (yang ketika diketuai oleh Humbertus J. van Mook). Kemudian berkembang menjadi organisasi pelajar dengan nama Perhimpunan Pelajar
Indonesia
(waktu itu Indonesich Verbond van Studeerenden). Istilah Indonesia sebagai nama suatu bangsa di Hindia-Timur (waktu itu) diresmikan pada Kongres PPI bulan April 1918 di Belanda. Sam Ratulangie turut memperkenalkan dan mengkampanyekan sebutan ini ketika mendirikan perusahaan Asuransi Indonesia pada tahun 1925 di Bandung. Sejak itupun nama Indonesia sebagai negeri kepulauan terbesar di dunia di kenal sebagai nama bangsa di dunia internasional.

Peranan Nationale Commentaren Memperjuangkan Kemerdekaan Mingguan Nationale Commentaren yang dikelola dan dipimpin oleh Oom Sam Ratulangie cukup populer dan menjadi bacaan utama bagi masyarakat cendikiawan pribumi di tahun 1930-an.

Terbitan perdana Nationale Commentaren muncul pada Desember 1937 saat rezim kolonial Hindia-Belanda (waktu itu) giat melakukan aksi represif terhadap barisan nasionalis kemerdekaan.Mingguan politik ini diterbitkan di Bandung dan beredar luas di Batavia (kini Jakarta) di dukung para pemuka intelektual, politisi dan praktisi nasionalis pribumi, seperti Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Poerbohadidjojo, Dr. Philip Laoh, Dr. Soeratmo, Soetardjo Kartohadikoesoemo dll., dan beredar diberbagai kota di nusantara. Sasaran utama dari Nationale Commentaren untuk melepaskan pribumi dari rasa “minder” dari tekanan supremasi “Pax Neerlandica” kolonialisme rezim Hindia Belanda di Indonesia.
Penyajian analisis dalam persepsi politik “pribumi” yang diekspresikan pada Nationale Commentaren berbahasa Belanda, di sajikan dengan pola jurnalistik modern. Bentuk format dnegan rancangan design selera gaya majalah dengan rancangan design  selera gaya majalah serius Eropa berpenampilan prestisius berhasil mengimbangi bahkan berkompetisi dengan media-media bahasa Belanda seperti: Java Bode, Locomotief, Niewsgier, dll.  Daya tarik dari isi Nationale Commentaren adalah pembahasannya terhadap berbagai peristiwa internasional dalam persepsi pribumi yang berdampak terhadap kehidupan masyarakat kepulauan Zamrut Khatulistiwa. Tulisan-tulisan dalam media ini berhasil meraih readership tidak hanya dari kalangan pejabat pemerintah (kolonial), tetapi juga politisi di negeri Belanda. Bahkan isyu yang dilontarkan media ini ditanggapi serius oleh kalangan pengulas dan praktisi Eropa dan menghiasi Nationale Commentaren. Hal ini terungkap pada buku, “H. J. van Mook and Indonesian Independence,” tulisan Yong Mun Cheong, ilmuwan Singapura. Banyak dari pemikiran Oom Sam Ratulangie tentang masa depan Indonesia di ikuti Hubertus “Harry” Johannes van Mook, yang ketika itu menjabat Letnan Gubernur pemerintahan Hindia Belanda pada 1930-an, mengikuti peristiwa dan perkembangan dunia yang berdampak terhadap Indonesia melalui analisa mingguan Nationale Commentaren. Sumbangan tulisan ilmuwan dan praktisi dari Eropa pada Nationale Commentaren turut menyemarakkan proses transformasi pengetahuan dan pendidikan bagi kemajuan kalangan intelektual dan praktisi pribumi.   Ulasan Nationale Commentaren pada waktu itu sudah menyentuh perkembangan dunia internasional dan memperingatkan ancaman Perang Dunia II akan terjadi dan bakal melanda Pasifik.

Tetapi persepsi pribumi di abaikan oleh arogansi supremasi kulit putih. Pada akhirnya arogansi itu harus dibayar mahal, hingga Belanda harus angkat kaki di Hindia Belanda oleh dorongan kebangkitan nasionalisme Asia sejak 1940-an yang di ikuti pula dengan Deklarasi “Four Freedoms” oleh Presiden Franklin D. Roosevelt, yang memperjuangkan penghapusan kolonialisme di muka bumi (yang menjadi dasar PBB), hingga tidak mungkin dapat dihadang.
Nationale Commentarenn berfungsi meningkatkan pendidikan politik hak kemerdekaan dan menyadarkan ambtenaar pegawai negeri pribumi melepaskan diri dari tekanan supremasi kulit putih yang lama mendominasi pemerintahan kolonial. Masyarakat pribumi digiring berpikiran modern, intelektual dan berwawasan luas memperjuangkan azasi persamaan hak. Juga menjadi medium konsolidasi membangkitkan nasionalisme dikalangan cendikiawan memperjuangkan nasionalisme itu –khususnya “cubitan” pada kolom catatan pinggir (block-notes) di halaman depan yang sangat menggigit pihak rezim (kolonial)– membuat media ini menjadi sorotan tajam badan sensor pemerintah kolonial. Tetapi Nationale Commentaren dapat berkelit dengan menggunakan kekuatan argumentasi intelektual hingga berhasil menangkal berbagai tuduhan
pemerintah kolonial hingga terhindar dari pembreidelan.  Nationale Commentaren turut memperkaya khazanah jurnalistik dan membangkitkan media-media pribumi yang menggunakan bahasa Indonesia dan meningkatkan mutu jurnalistik serta memasyarakatkan budaya membaca bagipenduduk pribumi. Juga membantu memotivasi media – media pribumi seperti: Pemandangan, Bintang – Timur, Warta Celebes, Sin Po, Pewarta Deli dll., lebih banyak melayani penduduk desa dan daerah luar kota.  Mulanya media – media pribumi bahasa Indonesia tidak populer di kota-kota besar, dan banyak di antara kalangan cendikiawan dan “ambtenaar” pribumi di berbagai departemen ataupun cendikiawan pribumi diperguruan tinggi yang hanya menguasai bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar akademis, bahasa resmi ataupun bahasa pergaulan sehari-hari. Media media pribumi mempunyai peranan penting dalam meningkatkan proses kesadaran berpolitik bagi masyarakat luas pada tahun 1930-an. Juga tercipta solidaritas kerja sama antara Nationale Commentaren dengan media-media bahasa Indonesia yang saling membantu untuk meningkatkan jurnalistik modern, membentuk pendapat dan opini masyarakat pribumi.

Sumber – sumber berita dan perkembangan dunia yang diperoleh Nationale Commentaren ditransformasikan dan digunakan berbagai media pribumi bahasa Indonesia.
Tingkat pengetahuan jurnalistik dan mempromosi media pribumi bahasa Indonesia juga dikembangkan oleh Nationale Commentaren. Banyak diantara jurnalis yang mengelola media bahasa Indonesia seperti Parada Harahap, Mr.Sumanang, Djamaloedin (Adi Negoro), H.A.M.K. Amaroelah (HAMKA), Soeroto, M.Soetardjo, L. Datoek Toemanggoeng, M.M. Daroesman dll., menyumbangkan tulisan mereka dan dimuat oleh mingguan Nationale Commentaren, sekaligus mengangkat tingkat intelektualitas pribumi. Budaya menulis berkembang, terutama di kalangan cendikiawan pribumi dalam menyampaikan pandangan dan opini mengenai kebebasan intelektual.   Mingguan ini memprofilkan pemuka – pemuka nasionalis pada ruang “Makers der Geschiedenis van Indonesia” (para pelaku Sejarah Indonesia) ataupun “De leiders van Indonesia” (pemimpin-pemimpin Indonesia) menjadi daya tarik tidak hanya bagi masyarakat pribumi, tetapi juga kalangan ilmuwan sosial Eropa yang ingin mendalami masalah Indonesia.

Di lain pihak, sebagian besar wartawan “kulit putih” yang mengelola media-media bahasa Belanda tidak menguasai ataupun berbicara bahasa Indonesia. Pers bahasa Belanda tidak dapat memahami pandangan masyarakat pribumi.  Sebaliknya, banyak diantara pers pribumi menguasai selain bahasa Belanda, juga berbagai bahasa asing lainnya yang diperoleh dari pendidikan formal di masa pemerintahan kolonial Hindia – Belanda.  Faktor-faktor ini telah menempatkan posisi Nationale Commentaren sebagai penghubung antara masyarakat kota dengan masyarakat daerah melalui media dan wartawan pribumi. Pada Nationale Commentaren, edisi no. 7 terbitan 19 Februari 1938 Oom Sam Ratulangie mengemukakan :
“De kracht van de Indonesische (pers) light in de bewustheid, dat men het op den duur moet winnen, zooals men nu reeds voet voor voet terrein heft gewonnen. De ontwikkelingslijn van de Indonesische pers toont een
voortdurende opgaande tendenz. Er kan eens een blaadje over den kop gaan, maar de Indonesische pers in zijn geheel neemt in omvang steeds toe. De kwaliteit toont een voortdurende perfectie, en wat belangrijkste is, de zelfstandige meeningvorming accentueert zich men den dag”

(Kekuatan dari pers Indonesia erletak dalam kesadaran bahwa pada akhirnya pihaknya harus menang, seperti kenyataan bahwa sekarang ini, tahap demi tahap pers sudah memperoleh kemajuan. Garis perkembangan pers Indonesia menunjukkan tendensi naik terus.Memang, ada kalanya sebuah surat kabar (pribumi) gulung tikar, tetapi secara keseluruhan, pers Indonesia semakin besar. Mutunya menunjukkan kesempurnaan yang tetap, dan yang paling penting, pembentukan pendapat yang independen semakin tampak dengan jelas, dari hari ke hari)

Korban Vandalisme
Nationale Commentaren tutup usia pada 11 Maret 1942 akibat Perang Asia-Timur Raya dan Jawa diduduki oleh invasi militer Jepang yang sekaligus mengakhiri kolonialisme Hindia-Belanda. Peninggalan Sam Ratulangie mengembangkan pendidikan nasionalisme dan intelektualisme di masa pra kemerdekaan terkubur dan hanya berbau nostalgia. Pengabdian Oom Sam dalam dunia pers sekarang ini tidak menonjol hingga tidak banyak diketahui. Tidak banyak, terutama di kalangan generasi (yang lahir diatas 1940’an) mengetahui peran mingguan Nationale Commentaren membangkitkan pendidikan nasionalisme kemerdekaan di kalangan cendekiawan pribumi dan mengembangkan intelektualisme Indonesia antara 1937-1942. Pengabdian Oom Sam menumbuhkan masyarakat intelektual Indonesia melalui mingguan yang dipimpinnya hanya menjadi cerita lisan dari orang-orang tua yang hidup di masa itu. Tidak terlihat adanya usaha berbagai lembaga resmi dan yang berwenang untuk menggalinya hingga terkubur begitu saja. Banyak peristiwa penting yang turut menumbuhkan proses bangsa Indonesia tidak menghiasi sejarah terutama pers nasional hingga tidak diketahui generasi “Baby Boomer” (lahir diatas 1940-an). Yang di tonjolkan hanyalah pengembangan nasionalisme berbangsa oleh kaum chauvinisme radikal yang berlebihan dan sangat vandalistik dengan melarang berbicara dan membaca bahasa Belanda ataupun membakar buku-buku pengetahuan mengenai Indonesia berbahasa Belanda yang terjadi di awal 1950-an. Hal berdampak buruk bagi masyarakat Indonesia sendiri, karena melalui bahasa Belanda menjadi jembatan bagi kalangan pelajar dan mahasiswa “pribumi” hingga akhir 1930’an di kenal “multi-linguist,” karena selain mahir bahasa Belanda, juga Inggris, Prancis, Jerman, Latin dll. Bahkan “orang Indonesia” pernah disegani oleh bangsa-bangsa sekelilingnya, yang hanya menguasai satu bahasa. Bahasa Belanda yang diperoleh pribumi sama sekali tidak gratis dan pendidikan harus pula dibayar mahal di masa kolonial untuk meningkatkan pendidikan berpengetahuan dan memperluas masyarakat intelektual. Kekayaan penguasaan bahasa justeru sangat menguntungkan di masa memperjuangkan nasionalisme, yaitu menghantam kolonialisme dengan menggunakan hukum dan bahasa kolonial oleh cendikiawan Indonesia di masa lalu.

Sebaliknya, sistem pendidikan yang ditebali oleh chauvinisme serba radikal dan ekstrim yang menitikberatkan pada politik sentimen emosional, justeru telah merugikan pendidikan, karena membendung perluasan wawasan dan menekan kreativitas pembangunan bangsa. Di masa lalu, sebagian besar dari masyarakat intelektual Indonesia rata-rata menguasai berbagai bahasa asing (misalnyabahasa Jerman, Prancis, Latin, Inggris dll.) yang diawali dengan bahasa Belanda sebagai dasar.

Dengan menguasai banyak bahasa asing, orang dapat memperluas pengetahuan dan wawasan. Pengetahuan ini tergambar pula dalam penyajian mingguan Nationale Commentaren.  Dengan menguasai berbagai bahasa banyak diantara pemuka-pemuka kemerdekaan mengharumkan martabat Indonesia di berbagai forum dunia karena dapat berkomunikasi dengan berbagai bahasa asing sebagai modal utama. Contohnya, perjuangan diplomasi kemerdekaan Indonesia oleh Sultan Syahril, Haji Agus Salim, Nicodemus Palar diberbagai forum internasional berhasil karena fasih berbagai bahasa asing hingga mudah berkomunikasi dengan dunia luar, hingga Indonesia meraih simpati dunia internasional dan mendukung kemerdekaan bangsa ini. Mendiang Presiden Soekarno dikagumi dunia ketika berpidato tanpa teks dalam bahasa Inggris dicampur dengan berbagai istilah bahasa Prancis dan Latin dengan fasih di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa di pertengahan 1950’an.

Namun kesemuanya ini hanya kenangan nostalgia, dan Indonesia sekarang ini miskin berkomunikasi karena tidak banyak menguasai bahasa asing dan menjadi tertutup oleh bahasanya sendiri, akibat dari provokasi chauvistik sempit para penguasa rezim yang ditebali oleh penyakit sektarian dan sentimen premordialisme.
Sekarang ini ilmuwan sosial yang mendalami pengetahuan ataupun latar belakang sejarah tentang Indonesia harus melanjutkan kenegeri Belanda.  Disana mereka mendapatkan “harta karun” sejarah pengetahuan leluhurnya diberbagai perpustakaan yang tersimpan dan terawat rapih. Dari buku-buku berbahasa Belanda tentang Indonesia, banyak terungkap masa kebesaran dan kejayaan Indonesia di masa silam sebelum kolonialisme Eropa hasil penelitian arkeolog dan antropolog Eropa. Misalnya saja candi Borobudur yang lama terkubur oleh vandalisme ditemukan oleh arkeolog Belanda pada abad ke-19.

Kebesaran sejarah ternyata menjadi modal kebangkitan berbagai bangsa memperjuangkan jati diri dan  melakukan langkah-langkah kedepan agar penjajahan yang penuh kegelapan tidak terulang.
Yang dikhawatirkan, bila pendidikan masih ditutup oleh selimut chauvinisme supremasi ketertutupan dari birokrasi berwawasan sempit yang kian memiskinkan dan mengucilkan masyarakat untuk kemudian kembali menjadi kolonoalisme. Hal ini dikhawatirkan Oom Sam Ratulangie pada tulisannya: Rijk land, armvolk …..
Men vraagt zich dan af, hoe hen mogelijk is, dat in Indonesia, door God gebenetijd met een vruchtbaren bovengrond, een rijken ondergrond men
denke aan de petroleum en andere minerale schatten van dit land – als bij kan geen ander land ter wereld, visrijke zeeen en binnenwateren, en een mild tropisch klimaat, toch een arme bevolking woont”

(Negeri Kaya, penduduk miskin Siapapun akan heran, bagaimana mungkin, Indonesia yang oleh Tuhan diberikan tanah yang subur dan kekayaan di bawah tanah tambang minyak dan mineral lainnya yang tidak dimiliki negeri manapun di dunia, dan kaya dengan ikan di laut dan daratan, iklim tropis sepanjang masa, tetapi dihuni oleh penduduk yang masih saja miskin …. )
(Nationale Commentaren, edisi No. 2, 15 Januari 1938).

Penghapusan kekayaan sejarah bangsa yang menjadi korban distruksi vandalisme ternyata menjadi penyebab kemiskinan. Warisan kekayaan intelektual yang ditinggalkan Oom Sam Ratulangie dan pemuka – pemuka “pribumi” untuk memerangi kemiskinan tidak dimanfaatkan karena kendala bahasa akibat vandalisme. Hasil pemikiran intelektual pribumi, justru banyak dimanfaatkan dan menjadi modal bangsa – oleh bangsa-bangsa lain yang rajin mengumpulkan dokumentasi kepustkaan yang mengandung nilai sejarah untuk mengetahui lebih banyak tentang Indonesia.  Masa kepemimpinan dua rezim setelah pasca kemerdekaan mengalami pendangkalan intelektual. Itulah tantangan generasi kini menghadapi generasi mendatang yang terancam kolonialisme gaya baru bila masih saja tetap hanyut dengan supermasi ketertutupan menghadapi era globalisasi.***

Dari Kanan ke kiri: Harry K. Ir. Sugandi, M. Supit SH.
Dari Kanan ke kiri: Harry K. Ir. Sugandi, M. Supit SH.