Sam Ratu Langie pada umur 24 tahun

Sam Ratu Langie pada umur 24 tahun

Sam Ratu Langie ke Nederland (1913)

Peta kecil Eropa Asia

Peta kecil Eropa Asia

Pada peta kecil diatas kita dapat melihat betapa besar jarak antara Manado, Jawa dan Amsterdam.

Perjalanan Batavia-Amsterdam di awal abad yang lalu memakan waktu kurang lebih satu bulan, yakni sekitar 3-4 minggu per kapal dari Batavia sampai Genoa, Italia, lalu dua-tiga hari per kereta api dari Genoa ke Amsterdam.

Walaupun demikian banyak pemuda dan pemudi dari “Nederlandsch Indie” yang memimpikan kemungkinan dapat melakukan perjalanan ini dengan maksud khususnya untuk menimba ilmu dinegeri jiran.

Sam Ratu Langie bersama sepupu2nya di Manado
Sam Ratu Langie bersama sepupu2nya di Manado

Sam Ratu Langie (kanan) dengan saudara-saudara sepupunya (1905)

Dibulan Nopember 1912 nenek saya:Augustina RATU LANGIE – GERUNGAN yang adalah ibunda dari Sam Ratu Langie meninggal di Tondano, sedangkan suaminya telah wafat beberapa tahun sebelumnya.

Sam dan kedua kakak perempuannya: Kayes dan Wulan lalu membagi peninggalan kepemilikan pasangan Ratulangie-Gerungan dan membuat satu laporan dari pewarisan ini. Dokumen ini kemudian menjadi bahan rujukan penting pada penyusunan daftar kepemilikan yang dibuat oleh Sam beberapa bulan sebelum ia meninggal ditahun 1949, yakni sewaktu ia ditahan oleh rejim pendudukan Belanda.

Dalam pembagian yang dilaksanakan antara lain ada satu kintal berupa rumah di Kampung Pondol kini berada di pusat kota dan merupakan gereja di Jalan Sam Ratulangi, Manado diwarisi oleh Wulan dan Sam.

Rumah ini dijual dan hasilnya digunakan untuk pendidikan lanjutan bagi keduanya. Wulan belajar menjadi guru di Jawa dan Sam ingin berangkat ke negeri Belanda

Pada seri halaman web ini dan yang berikutnya saya mencoba menuturkan perihal informasi yang saya temukan di berbagai dokumen dan buku mengenai masa Sam berada di Eropa. (Lihat referensi dibawah).

Maka dibulan Mei atau Juni (??) 1913 Sam berangkat dari Manado ke Amsterdam.Menurut buku yang ditulis oleh Taulu perjalanan Sam adalah bersama satu keluarga Belanda yang tadinya memiliki percetakan di Manado dan pada waktu itu akan pulang kenegaranya.

Beberapa waktu setelah tiba di negeri Belanda maka Sam sadar bahwa ia perlu meningkatkan sumber finansialnya dengan segera bekerja. Menurut satu sumber yang belum terkonfirmasi Sam mula-mula bekerja selama beberapa bulan disalah satu pelabuhan di Belanda.

Namun karena Sam adalah seorang pemuda yang cerdas maka ia segera menyesuaikan dirinya dengan baik dengan situasi setempat. Dan ia juga menyadari bahwa bakatnya sebagai pengarang dapat membantunya dalam pencarian nafkah untuk dapat membiayai suatu kehidupan yang sederhana.

Ia teringat bahwa di sekolah di Tondano maupun di Batavia ia selalu meraih angka-angka tinggi untuk mata pelajaran Bahasa Belanda. Karena itu kini ia berupaya dan dapat sukses dalam penulisan naskah-naskah mengenai “Nederlandsch Indie”, nama tanah airnya pada waktu itu.

Berbagai tulisan-tulisannya berhasil diterbitkan di surat kabar dan mingguan di Nederland.

Tercatat bahwa diakhir 1913 di majalah “Onze Kolonien” telah dimuat satu tulisan dari tangan Sam yang berjudul “Serikat Islam” . Dalam uraian ini ia mengkritik pemerintah (Hindia) Belanda dan pers Eropa yang tidak mengerti keadaan sebenarnya dari pertumbuhan Serikat Islam di Jawa. Pertumbuhan ini menurut hematnya adalah ekspresi yang tulus dari perasaan rakyat di Jawa dan bukan sebagaimana secara diskriminatif digambarkan oleh pers Belanda sebagai satu organisasi yang berbahaya dan perlu dilarang. Kesalah fahaman ini telah mengakibatkan satu kesenjangan antara rakyat dan pemerintah kolonial.

Ia sangat memuji pergerakan “Boedi Oetomo” dan pemimpin-pemimpinnya seperti Tjipto Mangunkusumo dan Soewardi yang dinilainya adalah orang-orang dengan kepribadian tinggi. Pada penutup uraiannya ia berkata:

“De geschiedenis kan geen enkel volk aanwijzen dat eeuwig overheerscht is. Moge dan de onvermijdelijke scheiding een vriendschappelijke zijn, opdat hierna toch steeds de weldadige wisselwerking van cultuurelementen blijven bestaan tusschen Indie en Nederland, die zooveel eeuwen door de historie met elkander vereenigt zijn geweest”

Dalam bahasa Indonesia:

“Sejarah tidak dapat memperlihatkan adanya satupun diantara bangsa-bangsa terjajah yang mengalami penjajahan untuk selama-lamanya. Semoga perpisahan (antara Indie dan Nederland) yang memang tidak akan dapat dielakkan akan berlangsung dalam persahabatan, karena sesudahnya diharapkan dapat ada hubungan timbal-balik yang berguna dari unsur-unsur budaya antara Indie dan Nederland yang telah mengalami  kebersamaan dalam sejarahnya selama berabad-abad. ‘

Tulisan ini mencengangkan publik Nederland ditahun 1913 karena seorang dari Minahasa yakni suatu daerah yang pada waktu itu terkadang dijuluki Propinsi ke-12 (Twaalfde Provincie) dari Nederland, dan nota bene berpenduduk mayoritas Kristen itu dapat menulis suatu analisa yang cermat mengenai satu perkembangan keadaan di pulau Jawa. Juga pandangannya yang jauh kedepan mengenai “perpisahan” antara Indie dan Nederland, kata-kata mana tak lain berarti kemerdekaan Indonesia, yang jelas kurang berkenan ditelinga penjajah.

Akibat dari kegiatan tulis-menulis ini adalah bahwa ia mulai terkenal dikalangan para pemerhati “Indie” ini dan sering kali diundang untuk memberikan ceramah mengenai aneka topik tentang negerinya. Ia juga mulai berkenalan dengan baik dengan pemuda-pemuda Indonesia lainnya yang pada waktu itu mulai datang untuk belajar di Holland.

Sam bersama kawan di Nederland
Sam bersama kawan di Nederland

Sam juga sering menghadiri pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh “Indische Vereeniging” . Perhimpunan ini didirikan oleh mahasiswa dan pelajar dari “Indie” namun acara-acara dan aktivitas lainnya kemudian juga dikunjungi oleh para senior-senior berbangsa Belanda yang kebanyakannya adalah pensiunan. Mereka ini setelah selesai tugas mereka di Indie kembali ke tanah airnya akan tetapi tetap menaruh perhatian terhadap hal-ihwal negeri tropis yang menjadi tempat berdiam mereka selama bertahun-tahun.

Penting diketahui bahwa dengan semakin banyaknya hadirnya putera-puteri dari  Indie “Indische Vereeniging” ini kemudian (ditahun 1928) menjadi  “Perhimpoenan Indonesia”.

Kesan yang saya peroleh sewaktu membaca buku “In het Land der Overheerschers” (“Di Negari Penjajah”) adalah bahwa pada awalnya para pengunjung Holland dari Indie biasanya terdiri dari para pangeran-pangeran dan bangsawan dari Jawa Tengah yang lazimnya hanya  tinggal untuk waktu yang singkat di Holland. Namun ada juga para pekerja atau pembantu rumah tangga yang diajak oleh majikannya sewaktu yang terakhir ini pulang setelah selesai melaksanakan tugasnya di  Indie.

Akan tetapi pada awal dari abad ke 20 semakin banyak mulai berdatangan pemuda-pemudi brilyan dan terpelajar dari Indie ke negeri Belanda. Kedatangan pemuda-pemudi ini tentunya adalah dalam rangka menuntut ilmu. Seiring dengan hasrat mereka untuk menimba ilmu timbul pula keinginan untuk dapat memperbaiki keadaan sosial ditanah air. Hal ini disebabkan oleh karena setelah beberapa waktu di Nederland terasa oleh mereka betapa tertekan sebenarnya bangsa terjajah dinegeri sendiri. Di Nederland mereka berdiri setaraf dengan orang-orang Belanda pada hal dinegeri sendiri mereka selalu harus tunduk dan berada dalam status yang lebih rendah dari pada penguasa kolonial.

Dibawah ini saya akan menuturkan perihal informasi yang antara lain saya temukan disuatu berkas dokumen yang saya peroleh dari “Nationaal Archief”, den Haag, Holland, mengenai masa Sam berada di Eropa.

Menimba ilmu untuk menjadi guru matematika

Pada halaman-halaman web saya yang terdahulu saya menulis mengenai pengalaman-pengalaman ayah saya setelah tiba di Nederland. Mungkin oleh karena tekanan ekonomi Sam mulai menulis artikel-artikel mengenai daerahnya dan juga mengenai tanah airnya pada umumnya, yang dimasa itu masih dinamakan “Nederlandsch Indie”. Tulisan-tulisannya sempat dimuat diberbagai media cetak.

Topik-topik yang sering ia pilih adalah yang mengenai hal-hal di kampung halamannya: Minahasa. Berkaitan dengan kegiatan ini maka Sam mulai terkenal bagi para pemerhati “Nederlandsch Indie”. Orang-orang ini adalah terutama para pensiunan yang kembali ke Holland setelah melaksanakan tugas kolonialnya di Indie.

Namun bukan saja orang-orang yang cukup tua ini yang tergolong pembaca yang setia dari tulisan Sam, akan tetapi juga pemuda-pemuda yang brilyan yang datang untuk belajar di Nederland tertarik untuk membacanya.

UVA, Fakultas Ilmu Pasti, Alam dan Informatika
UVA, Fakultas Ilmu Pasti, Alam dan Informatika

Adapun sesungguhnya cita-cita Sam adalah untuk dapat menjadi guru matematika agar dapat turut mencerdaskan bangsa dengan menjadi pengajar bagi putera-puteri bangsanya.Oleh karena itu ia mendaftarkan dirinya pada sekolah guru matematika dari Universitas Amsterdam (UVA), yang waktu itu belum lama sebelumnya didirikan oleh Prof. Dr. Korteweg dan asistennya Dr. de Vries. Lembaga ini sampai kinipun masih ada dan bernama: “Korteweg de Vries Instituut voor Wiskunde (KdVIW)” dan merupakan bagian dari Faculteit der Natuurwetenschappen, Wiskunde en Informatica” dari Universiteit van Amsterdam.

Kebetulan pada masa itu (akhir abad ke 19) ilmu alam klasik sedang  berada pada puncak pertumbuhannya, khususnya di Eropa. Dan agaknya Sam terpukau akan peran matematika dalam mendasari ilmu alam ini dan juga ilmu-ilmu fisika terapan yang semakin berkembang.

Demikianlah maka setelah dua tahun Sam menempuh ujian untuk memperoleh Sertipikat K I dan berhasil. Adapun pemegang ijazah ini mendapat otorisasi untuk menjadi guru ilmu matematika pada sekolah lajutan.

Ternyata ini hanyalah mungkin JIKALAU seandainya Sam Ratu Langie berkebangsaan Belanda dan bukan adalah “inlander” yang adalah nama penghinaan bagi orang pribumi di “Nederlandsch Indie” pada masa itu. Hal ini dialami oleh Sam sebagaimana diuraikan dibawah ini.

Ditahun 1916 Sam mengajukan satu permohonan kepada Menteri Urusan Jajahan agar dapat diangkat menjadi guru matematika di sekolah menengah atau sekolah teknik yang sesuai di Indie. Hal ini adalah sesuai dengan cita-citanya seperti yang tersebut diatas. Rupa-rupanya permohonan ini oleh Menteri diteruskan ke Nederlandsch Indie melalui Gouverneur Generaal van Nederlandsch Indie (yakni pejabat tertinggi dari pemerintahan penjajah) dan Sam menunggu jawaban atas surat lamarannya ini. Sambil menunggu ia berusaha memperoleh pekerjaan pada kementerian urusan Jajahan ini. Ia diterima dan ditempatkan dibagian statistik dari kementerian ini.

Adapun rupa-rupanya kinerja Sam pada jabatan ini bagus, sampai-sampai atasannya  mempertimbangkan untuk mengusulkan Sam sebagai pimpinan pada pendirian “Pensioen Fonds” (Jawatan Dana Pensiun) yang pada masa itu sedang dipersiapkan dan akan ditempatkan dikota Bandung. Namun ini jelas hanyalah harapan belaka. Dan seperti disebut diatas, Sam tetap berpegang pada cita-citanya untuk menjadi guru matematika dinegeri di tanah airnya dan menunggukan jawaban atas surat permohonannya. Bagi Sam memang cukup jelas bahwa pemerintah di Nederland tidak berwenang untuk menentukan secara  langsung penempatan pejabat-pejabat di Indie.

Dalam pada itu Sam telah bertemu dengan seorang gadis Belanda bernama Emilie Suzanne Houtman kelahiran Batavia, 12 Agustus 1890. Iapun menikah dengannya pada tanggal 21 Oktober 1915 di Amsterdam. Suzanne waktu itu telah lulus menjadi dokter dan sedang mengerjakan disertasinya di Utrecht. Rupa-rupanya ia adalah seorang yang menaruh perhatian pula akan perkembangan-perkembangan politis di Indie. Ia juga berpartisipasi secara aktip pada kegiatan-kegiatan Indische Vereniging di Holland.

Kembali kepada surat balasan GG yang ditunggu-tunggu dan diharapkan oleh Sam dan isterinya memang tiba akan tetapi tidak memberikan jawaban positip . Mula-mula disebutkan bahwa pemilikan Ijazah K I tidak merupakan bukti langsung bahwa ybs. berkemampuan untuk mengajar, lalu kemudian diberitakan bahwa kalaupun ada mungkin ia dapat diterima menjadi guru pada kelas 3 dari suatu Sekolah Dasar Cina-Belanda (“Hollandsch-Chinese Lagere School”) berarti satu Sekolah DASAR dan bukan sekolah MENENGAH.

Kembali pula Sam harus merasakan satu penghinaan rasial seperti  yang pernah dialaminya sewaktu ia pada umur 18 tahun akan memulai pekerjaannya sebagai teknisi pada Jawatan Kereta Api (“Staats Spoorwegen”) di Jawa Barat. Namun pengalaman-pengalaman ini tidak mematahkan semangat Sam karena ia mengerti bahwa perlakuan semacam ini adalah akibat dari sistim kolonial dimana penduduknya dianggap manusia kelas dua jika dibandingkan terhadap manusia penjajah dan hal ini tak tergantung dari pada status intelektualnya.

Ada pula satu surat dari GG yang menyatakan bahwa isteri Sam (Suze Ratu Langie-Houtman) dapat memperoleh pekerjaan sebagai dokter pemerintah dengan gaji Fl 300,-  per bulan.

Kasus Ratu Langie ini, yang tidak dapat diberikan posisi sesuai dengan kwalifikasinya sempat sampai masuk dan dibahas di “Tweede Kamer” (DPR Belanda). Oleh beberapa Anggauta DPR diajukan pertanyaan kepada Menteri Urusan Jajahan mengapa bisa sampai ada pemuda terdidik sekalipun tidak dapat memperoleh pekerjaan ditanah airnya sendiri. Jawaban yang diberikan oleh menteri adalah bahwa (seperti disebut diatas) tidak ada bukti bahwa Ratu Langie itu mampu mengajar dan olehnya ditambahkan bahwa itu hanya dapat dibuktikan bila ia memiliki ijazah Ilmu Keguruan (“Paedagogiek”).

Adapun keinginan Sam begitu besar untuk dapat mengajar di tanah airnya, sehingga segera setelah ia mendengar jawaban Menteri Urusan Jajahan atas pertanyaan mengenai kasusnya, iapun segera mempersiapakan diri dan mendaftarkan namanya untuk menempuh ujian Ilmu Keguruan tersebut. Dalam jangka waktu 4 (empat) hari ia mempersiapkan diri untuk melaksanakan ujian tertulis dan ia lulus. Untuk ujian lisan ia perlu mengambil les privat selama dua bulan, dimana ia sambil bekerja sekalipun mempersiapkan dirinya. Ternyata kali inipun ia berhasil lulus.

Keberhasilan ini segera dilaporkan olehnya kepada Menteri Urusan Jajahan yang meneruskannya ke Nederlandsch Indie, namun berbulan-bulan ia menunggukan jawabannya yang tak kunjung-kunjung tiba.

Suze menulis surat terbuka yang diterbitkan diharian “Bataviaasch Handelsblad” tanggal 10 September 1917 berjudul “De Kortzichtigheid van de Regering” (Pemerintah yang tidak mempunyai visi) dalam mana pada intinya menilik pada “kasus Ratu Langie” ia mengatakan bahwa “Ethische Politiek in Indie” (politik etis di Indie) yang katanya ditempuh di Indie hanya merupakan lipservice saja dan sama sekali tidak diimplementasikan. Ia juga memberitakan bahwa kini ybs. telah berangkat ke Zuerich (Swis) untuk melaksanakan disertasinya dalam Ilmu  Matematika di jurusan Filsafat Alam dari Universitas Zurich, ketimbang menunggu-nunggu pada hasil keputusan sesuatu pemerintahan yang tidak berkenan pada dirinya.

Belajar dan membina persahabatan internasional.

Universitas Zurich (Swiss) tampilan belakang
Universitas Zurich (Swiss) tampilan belakang

 

Sebenarnya keinginan Sam adalah untuk meneruskan pelajarannya pada Prof. Dr. Korteweg dari Universiteit van Amsterdam. Kepribadian,jiwa kepeloporan, pandangan dan pesona professor ini agaknya cocok dengan jiwa Sam. Jiwa pembaharu yang membutuhkan suatu keyakinan yang tentunya juga ditopang oleh penguasaan keahlian dibidangnya seperti iyang dimiliki oleh Prof. Korteweg seakan-akan mejadi suri tauladan bagi Sam.

Sam ingin melaksanakan disertasi dibidang matematika di lembaga ini dan rupa-rupanya telah meminta tugas ataupun tema untuk ini. Prosedur administratip pun dimulai dengan mengajukan permohonan kepada pihak universitas. Namun nama Ratu Langie telah mulai mendengung diarena politik Belanda berkaitan dengan tulisan-tulisannya di berbagai media dan juga terkait interpelasi di Tweede Kamer mengenai tidak diperolehnya bidang pekerjaan bagi Sam di Nederlandsch Indie.

Walaupun didukung oleh Prof. Korteweg permohonan Sam ditolak oleh Dewan Universitas. Alasannya adalah karena Sam tidak memiliki Ijazah Hogere Burgerschool (HBS), Lyceum ataupun Gymnasium hal mana (katanya) dipersyaratkan untuk dapat diizinkan menempuh ujian doktor. Sam “hanya” memiliki ijazah Sekolah Teknik, dan ternyata ijazah K 1-nya sama sekali tidak dipertimbangkan. Pada hal ada satu kasus pendahulu (preseden) mengenai seorang yang berkebangsaan India yang pernah berhasil mengerjakan dan lulus pada ujian doktor di UVA walaupun tidak memiliki ijazah HBS, Lyceum atau Gymnasium.

Berkat hubungan baik yang diperoleh Sam melalui Indische Vereeniging, dimana ia pernah menjadi ketua selama satu periode (1915-1916) maka Sam mempunyai banyak kenalan orang Belanda (senior) antara lain seorang yang bernama Mr.J.H.Abendanon . Adapun Mr. Abendanon ini adalah pensiunan Direktur Pendidikan dan Kebudayaan (Departement Onderwijs en Eeredienst) di Batavia dan merupakan sosok pemerhati putra-putri bumi putera yang berbakat.

Isteri Mr. Abendanon adalah kawan pena dari R.A. Kartini yang mana surat-suratnya kemudian diterbitkan dalam satu buku: “Door Duisternis tot Licht” (Dari gelap terbitlah terang).

Sam memohon nasihat kepada Mr. Abendanon dan beliau mengusulkan agar Sam berupaya meneruskan studinya ke Negeri Swis, misalnya di Universitas Zuerich. Hal ini dilaksanakan oleh Sam, dan dengan membawa Ijazah serta surat rekomendasi dari Prof. Korteweg mendaftarkan dirinya pada Natur-Philosophischen Fakultaet Universitas Zuerich. Ia berhasil diterima untuk meneruskan studi doktoralnya.

Untuk membiayai kehidupannya di Swis Sam harus banyak menulis dan juga memberi ceramah. Ia sempat ditugaskan sebagai wartawan oleh suatu media cetak dari Nederland untuk mengcover satu Konperensi Internasional di Wina.

Di celah-celah pembahasan resmi konperensi itu di Press-room ada pula diselenggarakan satu pertandingan tidak resmi, dimana antara para wartawan yang hadir ditandingkan kemampuan penguasaan berbagai bahasa. Yang menguasai paling banyak bahasa ternyata adalah kakak kandung dari R.A. Kartini, bernama R. Sosrokartono yang diutus dari Amerika Serikat dimana ia sedang bekerja  sebagai wartawan. Beliau ini menguasai lebih dari duapuluh macam bahasa sedangkan pemenang yang kedua adalah Sam yang mampu berbahasa Belanda, Jerman, Inggeris, Perancis, Melayu dan Tondano.

Pada waktu itu negeri Swis banyak dikunjungi pemuda-pemudi dari berbagai negara. Hal ini disebabkan oleh karena Swis adalah negara yang netral dalam Perang Dunia ke I yang waktu itu sedang melanda di

Eropa. Universitas-universitas Swis Juga menarik bagi para pemuda dari Asia untuk belajar. Sam yang bersifat mudah bergaul banyak mendapat kawan dari berbagai negara. Konon sebagai rekan Sam tercatatJawaharlal Nehru, pejoang kemerdekaan India. Bersama kawan-kawannya mereka bersefaham untuk mendirikan satu asosiasi: “Association d’Etudiantes Asiatique” (Asosiasi Mahasiswa Asia), dan Sam dipilih untuk menjadi Ketua yang pertama asosiasi ini.

Dalam pada itu di Holland, khususnya di Ministerie van Kolonien (Kementerian Urusan Jajahan) masih terus diproses permohonan Ratu Langie untuk memperoleh pekerjaan sebagai guru matematik di Indie.

Dalam kumpulan dokumen-dokumen dari Nationaal Archief ada laporan dari satu rapat pada sekretariat kementerian tersebut dimana dinyatakan bahwa Menteri ingin mengetahui APA yang sebenarnya sedang diperbuat Ratu Langie itu di Swis.

Kebetulan Menteri mengenal Rektor dari Universitas Zuerich yang bernama Prof. Dr. C. Schroeter. Menteri pernah bertemu dengan profesor ini sewaktu berkunjung ke Suriname. Iapun melayangkan surat kepada profesor tersebut dalam mana ia memohon kiranya dapat diberikan informasi secara konfidensial perihal seorang mahasiswa yang bernama Ratu Langie yang katanya membuat disertasinya dalam ilmu matematika.

Ternyata Rektor menjawab atas permintaan ini dalam dua surat: dalam surat pertama (23 Oktober 1917) rektor mengatakan bahwa ia telah mengecheck pada pengajar ilmu matematika : Prof. Dr. Fueter, yang mengatakan bahwa memang ada mahasiswa yang bernama Ratu Langie sedang rajin mengerjakan disertasinya dan akan selesai dalam beberapa waktu lagi. Dalam surat yang kedua (15 Desember 1917) beliau mengucapkan terima-kasih atas kiriman majalah-majalah (mungkin khusus mengenai Suriname) dan juga memberi kabar bahwa beliau telah sempat menghadiri satu seminar yang diselenggarakan oleh Persatuan Mahasiswa Belanda di Zuerich, bernama “Hollandia”. Pada acara ini Sam Ratu Langie menjadi penceramah dan ia membahas perihal “Volksbewegung” (Pergerakan Nasional) di negerinya: Ned. Indie. Prof. Schroeter menilai presentasi ini sangat menarik dan komentarnya adalah bahwa materi disajikan dengan sangat objektip dan “loyaal” (Editor: Mungkin dimaksudkan disini adalah “setia kepada Kerajaan Belanda”). Rektor menyatakan bahwa pada umumnya ia mendapat kesan yang sangat baik dari pemuda itu.

Memang pada waktu itu sekalipun, Sam sudah tahu bahwa ia harus berhati-hati dalam tutur kata, agar tidak diberikan predikat “opruier” (penghasut). Namun karena ia memiliki perbendaharaan kata yang cukup luas ia berhasil menjaga keselamatan dirinya, dan tidak pernah mendapat kesulitan dengan pihak berwajib selama di Eropa.

Selain dari pada upaya untuk mengetahui tindak-tanduk Ratu Langie di Swis melalui para pengajar, menteri juga merasa perlu mengetahui mengenai persyaratan dan peraturan yang berlaku untuk dapat melaksanakan “doktorarbeit” (karya doktor) pada universitas di negeri Swis. Informasi ini diperolehnya dari tangan Mr. Abendanon. Dibulan Maret 1918 Mr. Abendanon menyampaikan dua surat kecil yang dalam bahasa Belanda disebut “kattebelletje” yang mana mencantum nama pengirim dipojok kiri atas.

“Kattebelletje” (1) dari Mr. Abendanon

Gambar 1.

Dalam surat yang pertama ia memberitahukan bahwa judul thesis yang sedang dilaksanakan oleh Sam adalah: “Lineare Kegelschnitten (Systemen/Geweben) in vollstaendigen Ebenen und ihre raumliche analogen.”. Diberitahukan juga bahwa topik ini termasuk bidang “Synthetische Geometrie” dimana ahli-ahli khusus bidang ini yang ada di Nederland adalah: Dr. Hendrik de Vries, Amsterdam (Editor: murid dari Prof. Korteweg, Amsterdam), Dr. Jan de Vries dari Utrecht dan Prof. Dr. Schuh dari Delft. Selain dari pada itu sebagai lampiran beliau sampaikan sebuah booklet berjudul “Reglement ueber die Erteilung der Doktorwuerde an der mathematisch-naturwissenschaftlichen Abteilung der philosophischen Fakultaet der Universitaet Bern” yang dititipkan oleh Sam Ratu Langie kepadanya. (Sebagaimana diketahui: Bern adalah satu kota di Swis yang berdekatan dengan Zurich.)

abb60

Gambar 2.

Dalam surat kedua (Lihat Gambar 2) tercantum nama-nama 6 (enam) Orang Belanda yang lulus Doktor di Universitas Swis dan mendapat kedudukan yang cukup tinggi di Ned. Indie yakni: Dr. Bernard, Kepala dari “Stasiun” teh (Bogor), Dr. …. (?) Kepala dari …..”Stasiun” garam(?), Dr. Visser (?), Kepala dari “Stasiun” tembakau (Medan), Dr. Schmidt, Kepala dari “Stasiun” gula (Pasuruan), Dr. Nieuwenhuis, Pejabat Pemerintah (Kolonial) di Batavia dan Dr. Burger, Pejabat pada Departemen Pertanian. Data-data ini disampaikan oleh Mr. Abendanon kepada Kementerian Urusan Jajahan dari dan atas permintaan Sam Ratu Langie.Dari isi kedua kattebelletje ini kita dapat simpulkan bahwa hubungan Mr. Abendanon dengan Sam Ratu Langie adalah sangat dekat dan bagaikan hubungan seorang “mentor” terhadap anak didiknya.

Menteri Urusan Jajahan, Gubernur Jenderal dan Sam Ratu Langie

Membaca dokumen-dokumen dari Nationaal Archief sangat mengasyikkan. Pertama-tama perlu dikagumi ketekunan dalam berarsip dimana semua dokumen yang saya dapatkan tertata rapih. Kemungkinan besar selama bertahun-tahun disimpan dengan baik dan belakangan ini mungkin dalam bentuk microfiche.

Adapun dokumen-dokumen yang saya peroleh kebanyakannya berupa draft (konsep) surat (karena pada masa itu belum ada mesin fotokopy) dan juga ada beberapa laporan intern dan beberapa surat masuk. Sebagaimana biasa, draft ini disusun oleh Sekretaris. Pada dokumen-dokumen yang saya temukan draft setiap halaman dibagi dua. Paruh halaman sebelah kanan dipakai untuk menulis draftnya.Paruh halaman sebelah kiri dipakai untuk koreksi yang dirasakan perlu ditulis oleh pejabat yang berwenang, dalam hal ini Menteri Urusan Jajahan waktu itu. Kesemuanya ditulis tangan dengan tulisan zaman dulu yang dalam bahasa Belanda disebut “schoonschrift” (tulisan indah).Cara menulis ini saya masih sempat pelajari, yakni dengan irama “dun-dik” (tipis-tebal). Namun jikalau yang harus ditulis berjumlah besar maka tulisan sang sekretaris sudah tidak begitu “schoon” lagi, bahkan sulit bagi saya untuk membacanya.

Perlu diingat bahwa waktu itu belum semua instansi yang mampu membeli mesin tik, sedangkan  seperti diesebut diatas mesin fotokopy belum ada sama sekali. Jadi kebanyakan dokumen yang saya peroleh berupa “surat keluar” hanya draft-nya saja, sedangkan asli dari surat keluar tidak ada. Hal ini walau bagaimanapun memberikan satu “insight” juga mengenai nuansa-nuansa yang (mungkin) ada dalam pemikiran pejabat kolonial terkait. Disamping ini perlu juga diingat bahwa bahasa Belanda seratus tahun lalu (sangat) berbeda dengan yang digunakan sekarang. Apalagi bahasa resmi yang wajib digunakan dalam surat/dokumen dulu terkadang sangat sulit dikomprehensikan oleh saya.

Misalnya antara lain terdapat satu DRAFT untuk surat dari Menteri Urusan Jajahan masa itu (1917 – 1919) kepada Gouverneur Generaal (masa itu). Surat ini dikirim tanggal 16 Maret 1918 dimana satu potongan dari draftnya adalah seperti tertera pada Gambar 3. Didalamnya tertera bahwa setelah uraian panjang lebar mengenai temuan-temuan yang diperoleh dalam rangka penelitian (lihat Website terdahulu) yang telah dilaksanakan oleh Menteri mengenai “de zaak Ratu Langie” (Kasus Ratu Langie) ia menulis (lihat koreksi diparuh kiridibawah ini):

Draf surat dengan koreksi
Draf surat dengan koreksi

Gambar 3.

“…… en alsdan dient mijns inziens, …. ter voorkoming van den indruk, dat de Regering het ondernemen van hoogere studien door Inlanders onwelwillend gezind is, over formeele bedenkingen tegen de plaatsing van den heer Ratu Langi in Landsdienst, zoveel mogelijk te worden heen gestapt. Gaarne zou ik dan ook van U.E. vernemen of na kennisneming van het voorstaande, nog bepaald overwegende bezwaren tegen de uitzending van den heer Ratu Langie blijven bestaan, zoo niet dan stel ik mij voor hem na zijn promotie daarvoor uit te zenden.”

” ….. dan menurut pendapat saya, …. untuk menghindari kesan bahwa Pemerintah tidak menyukai upaya para “Inlander”, untuk menuntut ilmu pendidikan tinggi, kiranya keragu-raguan formal mengenai penempatan tuan Ratu Langi sedapat mungkin dapat teratasi. Karena itu saya akan sangat menghargai untuk dapat mengetahui apakah dari pihak Yang Terhormat Tuan (Gubernur Jenderal) masih ada keberatan-keberatan tentang pengiriman Ratu Langie, dan jika tidak maka saya mengusulkan untuk mengirimnya setelah ia menyelesaikan promosinya.”

Jawaban atas usul ini disusun oleh Gouverneur Generaal dalam satu telegram yang dikirim dari “Weltevreden”(Jakarta, Menteng) tanggal 19 Nopember 1918 dan diterima di ‘s Gravenhage (den Haag) pada tanggal 29 Nopember 1918.Telegram adalah sebagai balasan dari surat tanggal 13 Maret 1918 (!!!) dan pada intinya menyampaikan bahwa Gubernur Jenderal setuju dengan usul Menteri.

Surat penting dari Dr.G.S.S.J. Ratu Langie dan lampiran yang hilang.

Didalam berkas saya ada kopy dari 9 (sebilan) surat dari Sam Ratu Langie kesemuanya diarahkan kepada Y.M. Menteri Urusan Jajahan. Surat yang ke enam tertanggal 2 Januari 1919 saya scan dan hasilnya adalah seperti dibawah ini:

Surat Sam yang lampirannya
Surat Sam yang lampirannya “hilang”

Gambar 4.

Surat itu pada pokoknya memberitakan bahwa : Pada tanggal 17 Desember 1918 ia telah lulus di Zurich memperoleh “Doctorsgraad” dalam bidang Ilmu Pasti dan Alam (Filsafat). Juga bahwa ia mendengar tentang adanya lowongan untuk pengajar (“leeraar”) ilmu pasti (pada sekolah menengah di Indie) dan memohon agar ia dipertimbangkan untuk mengisi lowongan itu.Disamping itu pula bahwa bersama surat itu ia melampirkan “Afschrift”  dari Ijazah Doktor-nya dimana “aslinya telah dilihat oleh Yang Mulia  Tuan Sekretaris Menteri”.

Namun, sayang dibalik sayang, dalam berkas yang saya peroleh “Afschrift” (SALINAN) Ijazah Doktor itu TIDAK ADA. Entah bagaimana mungkin hal ini dapat terjadi saya sampai kini tidak mengerti. Apakah ada tangan2 jahil yang sengaja menghilangkan SALINAN ini dan LUPA menghilangkan surat pengantarnya?

Dokumen-dokumen selanjutnya adalah mengenai persetujuan Menteri Urusan Jajahan untuk mengangkat (Draft Surat Keputusan) Dr. G.S.S.J. Ratu Langie untuk ditempatkan di Indie sebagai guru ilmu pasti pada salah satu sekolah menengah, sedang isterinya diangkat sebagai pejabat kesehatan, masing-masing dengan gaji bulanan yang cukup besar sehingga memberikan kesempatan kepada kedua-duanya untuk hidup layak bagaikan layaknya orang kolonial di Nederlandsch Indie.

Ternyata jabatan ini oleh Sam Ratu Langie hanya diemban selama 2 tahun lebih. Alasan untuk berhenti dari jabatan yang telah diperjuangkannya selama bertahun-tahun dengan begitu gigih belum saya temukan, akan tetapi satu kemungkinan adalah bahwa ia jenuh dengan hidup bagaikan “zwarte Hollander” (Belanda Hitam). Pergaulan dengan berbagai Ondernemings Directeuren (Direktur-direktur Perkebunan) dan orang-orang Bule sejenisnya sesuai dengan “rang en stand” (pangkat dan tingkat hidup) pegawai negeri Belanda. Rekreasi di “Societeit” yang hanya teruntuk bagi orang kulit putih yang arogan dan melihat rendah pada “inlander” yang patutnya (menurut mereka), hanya cocok sebagai jongos dan babu saja. (Mengenai episode Jogya itu, kini, ditahun 2009 telah berhasil saya peroleh beberapa dokumen dari Arsip Nasional Republik Indonesia , sehingga dimasa mendatang dapat saya susun hasil evaluasi dari dokumen2 itu).

Dalam satu kesempatan Sam Ratu Langie turut serta dalam satu Seminar mengenai Ilmu Pasti di Bandung dan menyampaikan satu kertas kerja yang berkenaan dengan Euclides. Mungkin disana pula ia bertemu dengan rekan-rekan seperjuangan dulu di Nederland dan atas dasar pertemuan ini ia memutuskan untuk mengakhiri masaa kerja sebagai pegawai negeri Nederlandsch Indie dan mulai bekerja sebagai  swasta dan pindah ke Bandung. Ia mendirikan perusahaan asuransi yang dinamakannya “Assurantie Maatschappij Indonesia”.

Papan nama yang terpampang didepan kantor domana tercantum: “Indonesia”menarik perhatian dari seorang mahasiswa Technische Hoogeschool yang kebetulan liwat dengan bersepeda. Mahasiswa itu masuk dan bertemu dengan pemilik Assurantie Maatschappij ini. Ternyata mahasiswa tersebut adalah Soekarno, bakal Presiden Pertama Republik Indonesia.

Meninjau kembali sambil menulis ini, hanyalah dua pertanyaan yang timbul pada benak saya pertanyaan pertama adalah: “Mengapakah mesti begitu sulit untuk Ayah saya agar ia dapat mengajar kepada anak-anak bangsanya sesuai dengan haknya dan keahliannya?” Jawaban akan pertanyaan ini bagi kita telah tahu dan tak perlu dikemukakan disini lagi. Jawabannya adalah sama dengan jawaban pada pertanyaan:

“Mengapakah Ayahanda dari Sam Ratu Langie yakni Jozias Ratu Langie (Kakek saya) setelah selesai dengan studinya menjadi guru di negeri Belanda ditahun 1887 – 1889 tidak diizinkan meneruskan pendidikan untuk menjadi pendeta karena ditolak oleh Pemerintah (kolonial) Nederlandsch Indie?”

Sedangkan pertanyaan kedua adalah: “Mengapakah setelah lebih dari 50 tahun ayah saya meninggal masih ada pihak2 tertentu yang merasa perlu untuk menjelekkan namanya dengan melancarkan berbagai isyu?” Bahkan sekarang juga masih ada dilaksanakan “penelitian” yang bertujuan dijadikan isyu baru untuk mendiskreditkan Alm. Ayah saya.Pertanyaan kedua ini tidak terjawab semudah pertanyaan pertama, namun kita simak sendiri-sendiri saja.

Diundang ke istana setelah dilepaskan NICA
Diundang ke istana setelah dilepaskan NICA

Diundang ke istana Negara Presiden Soekarno setelah bebas dari pembuangan dari Serui pada 22 Maret 1948.

First uploaded at geocities April 28th 2007, for wordpress blog:  22 September 2009                       by M. Sugandi-Ratulangi