Sejak Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dibacakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, sebagai realisasi daripada kemerdekaan tersebut maka pada tanggal 5 Oktober 1945 Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dibentuk, hal ini merupakan langkah pertama bagi pengisian kemerdekaan dengan membentuk suatu alat kekuasaan yang terorganisir. Segenap rakyat di seluruh Nusantara tua-muda, laki-perempuan mengangkat senjata rela berkorban baik harta maupun nyawa untuk membela nusa dan hangsa.

Disamping Tentara resmi yang terbentuk dalam organisasi Tentara Keamanan Rakyat, terdapat pula berbagai macam organisasi-organisasi lain seperti Barisan Pelopor, Barisan Benteng Indonesia, Laskar Hisbullah, Barisan Rakyat Indonesia, Angkatan Pemuda Indonesia, Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi, Gabungan Pemuda Indonesia Sulawesi dan lain-lain.

Para pemimpin Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi (APIS) dan Gabungan Pemuda Indonesia Sulawesi (GAPIS) mengadakan perundingan, yang kemudian diperoleh kesepakatan bahwa organisasi APIS dan GAPIS bersepakat untuk meleburkan diri kedalam satu wadah, yang akhirya pada tanggal 10 Oktober 1945 terbentuklah satu badan baru secara resmi dengan nama Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), dengan formasi pimpinan sebagai berikut:

Ketua : A.R.S.D. Ratu Langie

Wakil Ketua : Baharuddin

Sekretaris I : Kahar Muzakar

Sekretaris II : J. W. Waworuntu

Bendahara I : S. A. Pakasi

Bendahara II : H. M. Idrus

Pembantu Umum : M. Idris, Mahmud

Pembantu Bidang : Frans Panelewen

Penerangan Program Perjuangan sebagai berikut :

1. Berusaha tetap memelihara perjuangan dengan sistem perlawanan rakyat total, serta selalu kerjasama bahu membahu dengan badan-badan perjuangan lainnya : Koordinator : Daan Mogot, Kepala Pasukan : J. Rapar

2. Mengirimkan utusan ke daerah-daerah pedalaman untuk membentuk cabang-cabang KRIS, serta menampung keluarga-keluarga Minahasa

3. Sekolah Rakyat PEKASE dilanjutkan dengan nama baru yaitu Sekolah KRIS. Mengingat keadaan di Jakarta sering terjadi pertempuran-pertempuran, para guru diwajibkan mengantar jemput murid-murid Sekolah KRIS.

4. Disamping itu, juga Sekolah KRIS dijadikan markas KRIS cabang Jakarta Raya yang bertugas mengatur strategi perjuangan para pemuda KRIS

5. Menjalankan usaha-usaha sosial, antara lain menangani para pengungsi akibat peperangan

6. Mengobarkan peperangan diseluruh wilayah Jakarta dengan taktik “Hadang-Tempur-Rampas”.

Para Pemuda KRIS di Jakarta mengadakan perlawanan dalam bentuk pertempuran-pertempuran yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil terdiri dari 3 sampai dengan 5 orang. Dengan keberanian yang luar biasa mereka mengadakan serangan dari berbagai penjuru kota Jakarta seperti daerah Senen, Keramat, Cikini, Jatinegara, Petojo hingga Tanjung Priok secara serentak tanpa memperdulikan siapa komandan mereka, bertempur dengan hasil yang gilang gemilang.

Kelompok-kelompok kecil seperti Kelompok Lukas Palar, Jopi Pesak, Endi Ruminggit, Piet Sumilat, Piet Sibih, Alex Pangemanan dan lainnya, mereka bertempur dengan gayanya masing masing. Mereka inilah yang membawa harum nama KRIS dimata masyarakat, tanpa adanya hasil daripada perjuangan kelompok-kelompok kecil ini, kiranya KRIS tidak akan mungkin menjadi faktor yang menentukan langkah-langkah perjuangan dalam arti perjuangan kemerdekaan Rakyat Indonesia kita ini.

Selain perjuangan-perjuangan fisik yang telah disebutkan diatas, KRIS cabang Jakarta Juga memikul beban tugas untuk mengadakan infiltrasi ke dalam tubuh pasukan KNIL, guna mencari kontak dengan daerah-daerah Sulawesi yang masih di bawah kekuasaan KNIL. Untuk merealisasi tugas tersebut pimpinan KRIS menempuh dua jalan yakni : pertama : mengadakan infiltrasi langsung ke dalam tubuh KNIL untuk merongrong kekuatan militer Belanda; kedua, mengurus dan membentuk barisan-barisan rakyat yang berjuang di daerah kekuasaan KNIL.

Dengan kedua cara ini perjuangan KRIS sangat berhasil, hal ini terbukti dengan terjadinya pernberontakan di Manado yang terkenal dengan peristiwa 14 Februari 1946. Sabotase-sabotase yang terjadi di dalam markas Belanda seperti di Makassar, Jayapura dan Kupang. Terorganisirnya gerakan pasukan gerilya di Sulawesi Selatan dibawah pimpinan Nan Pondaag, bekas ketua KRIS cabang Jakarta yang dikirim ke Makassar.

Organisasi tersebut ialah Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS). Demikianlah salah satu sumbangsih para Pemuda Indonesia tergabung dalam organisasi KRIS, yang lahir dalam kancah Revolusi rakyat Indonesia, dengan konsep perjuangan Nasional sendiri, tanpa menuntut balas jasa ataupun penghargaan, itulah salah satu sumbangan daripada para Pemuda Sulawesi bagi tuntutan perjuangan kemerdekaan Bangsa dan Negara Indonesia.

Diatas telah dibicarakan secara singkat tentang perjuangan para pemuda KRIS dalam perjuangan bersenjata, berupa pertempuran-pertempuran melawan pemerintah kolonial Belanda, yang ingin tetap menjadikan negara kita sebagai negara jajahannya, dimana dapat diperlakukan bagaimana saja sesuai dengan keinginan dan kemauan mereka secara semena-mena.

Di samping itu KRIS juga berjuang di lapangan pendidikan, setelah perjuangan senjata berakhir, dalam fase itu para pemuda memerlukan ilmu pengetahuan yang merupakan syarat mutlak untuk terjun ke dalam masyarakat sebagai pengganti generasi tua yang harus digantikannya, untuk itu harus mempunyai bekal ilmu pengetahuan yang cukup sebagai senjata perjuangan guna mengisi kemerdekaan.

Untuk mewujudkan hal tersebut harus mewujudkan dan memajukan dunia pendidikan, maka pemimpin-pemimpin KRIS yang berpusat di Jalan Asam Baru No. 26 (sekarang Jalan Dr. Ratu Langie No. 26) pada tanggal 15 Januari 1946 membuka Sekolah Rakyat KRIS, mula-mula sekolah di buka di jalan Mampang, kemudian pada bulan Mei 1945 pindah ke Jalan Asam Baru No. 26 Jakarta.

Sekolah Rakyat KRIS dibuka untuk segenap lapisan masyarakat. Murid-murid diterima tanpa memandang suku ataupun agama, sekolah terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar disitu. . Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer ke I pada bulan Juli 1947, secara paksa sekolah-sekolah Pemerintah Republik Indonesia di Jakarta dirampas oleh Belanda (NICA), disebabkan kebanyakan guru serta para orang tua murid menolak untuk menjadi pegawai Belanda (NICA), juga para muridnya pun tidak mau lagi masuk sekolah pemerintah akan tetapi memilih sekolah swasta seperti : Taman Siswa, Muhammadiyah, Perguruan Rakyat, Perguruan Sinar Baru, Perguruan KRIS, dan lain-lain yang waktu itu tergabung dalam badan Koordinasi Perguruan Nasional, yang diketuai oleh M. Said dari Perguruan Taman Siswa.

Pada waktu Belanda menjalankan kembali Agresi Militer ke II pada bulan Desember 1948, seluruh pimpinan Pengurus KRIS antara lain : H. A. Pandelaki, A. J. Supit, A.Z. Abidin, W.H.M. Kaunang di tangkap oleh Belanda karena dianggap orang-orang republik, dengan adanya kejadian itu, menjadikan Perguruan KRIS bertambah teguh baik semangat maupun pendiriannya, untuk mengikuti jejak langkah Pemerintah Republik Indonesia.

Untuk mencapai stabilitas dan penyelenggaraan yang sebaik-baiknya, yang sesuai dengan ketentuan Hukum dan Undang-Undang, maka pada tanggal 28 Januari 1949, Perguruan KRIS diberi status hukum, dengan diresmikan sebagai satu yayasan yakni “Yayasan Perguruan KRIS” (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi) dengan akte Notaris R. Kardiman No. 47 tahun 1949.

AKTIVITAS GEDUNG YAYASAN PERGURUAN KRIS

Jalan Dr. Sam Ratu Langie No. 26, Jakarta

Apabila kita berbicara mengenai peranan dan perjuangan para Pemuda KRIS, sebagai salah satu sumbangannya untuk tercapainya kemerdekaan Negara Republik Indonesia kita ini, kita tidak akan terlepas dari pada sebuah gedung yang terletak di Jalan Dr. Sam Ratu Langie No. 26 Jakarta (dulu Jalan asam Baru 26), yang merupakan pusat kegiatan politik perlawanan rakyat serta usaha-usaha sosial dan pendidikan pada masa sebelum dan sesudah Prokarnasi 17 Agustus 1945.

Sejak zaman Pendudukan Tentara Jepang sampai pada masa revolusi fisik, berbagai macam kegiatan, baik politik maupun sosial, telah dipikirkan digerakkan dan dikendalikan dari gedung Jalan Dr. Sam Ratu Langie No. 26 ini, yang hingga saat ini ditempati “Yayasan Perguruan KRIS” yang menjalankan kegiatan dalam bidang pendidikan yang meliputi SD, SMP, SMA dan AMI/ASMI.

Pada zaman pendudukan tentara Jepang, Gedung Sekolah Yayasan Perguruan KRIS dipergunakan sebagai tempat kantor Badan amal PEKASE (Penolong Kaum Selebes) dalam kegiatan sosialnya menampung keluarga-keluarga Pelaut, Pelajar / Mahasiswa yang tidak mendapat lagi kiriman biaya dan orang tuanya akibat keadaan perang, keluarga-kelaurga ex KNIL yang ditawan Jepang dan lam-lain.

Selain menangani kegiatan sosial dan pendidikan Kantor PEKASE di Jalan Dr. Ratu Langie, juga merupakan tempat pertemuan para pemuda Sulawesi ex anggota MAESA yang kegiatannya dibekukan oleh Tentara Jepang. Kontak hubungan tetap berjalan antara Pemuda MAESA dengan para mahasiswa Ika Dai Gakku, hal mana membuka kesempatan untuk berdiskusi tentang situasi politik, yang menjurus pada persiapan dan peranan pemuda untuk masa depan bangsa dan tanah air Indonesia. Para pemuda segera membuat rencana penyusunan kekuatan masa untuk mempersiapkan diri dan menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.

Setelah tersiar kabar bahwa Tentara Jepang telah menyerah kalah kepada Tentara Sekutu, terjadi saat-saat yang menentukan, Bung Karno dan Bung Hatta di bawa ke Rengasdengklok, sekembalinya dari Rengasdengklok yang kemudian pada tanggal 17 Agustus 1945 jam 10.00 pagi Bung Karno dan Bung Hatta atas nama Bangsa Indonesia membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, dimuka eksponen Pemuda dan masyarakat lainnya, saat itu semakin bergelora tekad perjoangan untuk membela dan mernpertahankan Kemerdekaan Bangsa dan Tanah Air Indonesia.

Sejak Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, segera dibentuk organisasi Angkatan Muda Sulawesi (AMS) di bawah pimpinan Gajus Gagola, mereka mengadakan aksi pencoretan seperti pada tembok-tembok, kereta api dan lain-lain, hal ini dimaksudkan untuk membangkitkan semangat oang dan seluruh pemuda beserta rakyatnya.

Usia AMS tidak lama, ketika Barisan Keamanan Rakyat (BKR) terbentuk, AMS bergabung ke dalam BKR ini, dalam wadah organisasi inilah para pemuda AMS bertemu dengan para pemuda Rapar yang sejak lama telah dibina sebagai pasukan tempur istimewa dibawah bimbingan politis dari Mr. Ahmad Subardjo, Mr. A.A. Maramis dan Dr. G.S.S.J. Ratu Langie.

Perjuangan para pemuda beserta rakyat bergerak sangat cepat, komando pemuda berkumandang secara revolusioner dari markasnya di Menteng Raya 31. Serentak pula kelompok pemuda Sulawesi menggabungkan diri dengan para pemuda Menteng Raya 31, yang tergabung dalam satu wadah organisasi Angkatan Pemuda Indoensia (API), sehubungan dengan itu para pemuda Sulawesi pun membentuk organisasi di bawah koordinator API dengan nama Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi (APIS) dengan markasnya di Jalan : Dr. Sam Ratu Langie No 2, namun demikian APIS ini di dalam segala aktivitas perjuangannya bergerak searah dan satu tujuan dengan formasi perjuangan API Menteng Raya 31, APIS selalu memelihara persatuan dan kesatuan antara pemuda-pemuda Indonesia yang berjuang untuk melenyapkan segala bentuk penjajahan atas dasar perjuangan nasional seutuhnya.

DAFTAR BACAAN

1. Auwjong Peng Koen, Perang Dunia II Bagian Perang Eropah, Skamiddya Jakarta 1962

2. Auwjong Peng Koen, Perang Pasifik 1945-1959, Cetakan II, Keng Po,Jakarta 1956

3. Arcundatha Soetejo, Sejarah Perjuangan Pemuda Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta 1965

4. Badan Kontak Wanita KRIS Jakarta, Indonesia Merdeka Sekedar Sumbangsih Kami, Cetakan I, BKW KRIS Jakarta, 1977.

5. Hatta Muhammad, Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, Tinta Mas, Jakarta, 1969.

6. Indonesia Departemen Penerangan, 40.000. Korban Sulawesi, Depen RI, Jakarta 1949.

7. Kem-pen RI, Lukisan Revolusi Rakyat Indonesia 1945-1949, Kem-pen RI, Yogyakarta 1949

8. Nasution A.H., Sejarah Perjuangan Nasional Indonesia Bidang Bersenjata, Mega Bookstore, Jakarta 1966.

9. Oesman Raliby, Documenta Histroica, Bulan Bintang, Jakarta 1953

10. Pondaag W.S.T. Pahlawan Kemerdekaan Nasional Mahaputera Dr. G.S.S.J. Ratu Langie, Yayasan Penerbitan GSSJ Ratu Langie, Surabaya, 1966.

11. Pringgodigdo A.K., Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, Pustaka Rakyat, Jakarta 19493

12. Ratu Langie, Peninjauan, Surat Kabar Mingguan, tahun I, Batavia C, Januari 1934.

13. Ratu Langie, GSSJ, Indonesia in den Pacific. Kern Problemen van Den Aziatischen Pacific, Soekaboemische, Suel pers d’rukkerij, 1937.

14. Raliby Oesman, Sejarah Hari Pahlawan, cetakan III, Bulan Bintang, Jakarta 1952.

15. Suherly Tanu, Sejarah Perang Kemerdekaan Indonesia, Pusat Sejarah ABRI, Jakarta 1971.

16. Sitorus I.M., Sejarah Pergerakan Kebangsaan Indonesia, Cetakan II, Pustaka Rakyat, Jakarta 1951.

17. Watuseke, F.S., Sejarah Minahasa, Menado, 1962.

18. Wowor, B., 14 Februari 1946 di Menado dalam rangka revolusi Kemerdekaan Bangsa Indonesia, Japen Propinsi Sulawesi Utara, Manado 1972

19. Brochure Yayasan Perguruan KRIS Jakarta. 20. Wawancara dengan Ibu : Ratu Langie Tambajong .

*) Disalin dari: “DR.G.S.S.J. RATU LANGIE & YAYASAN KRIS” oleh Dinas Museum dan Sejarah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, 1978