FWT Homepage Translator

Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi

Pijar-pijar Bintang Kejora dari Timur

Daniel Dhakidae

Harian Kompas, 1/1/2000

Ratulangi dan nasionalisme

Ratulangi lahir sebagai putra bungsu dari kalangan aristokrat Minahasa, seorang kepala distrik Kasendukan, tanggal 5 November 1890. Sebagai seorang aristokrat dia boleh masuk Europesche Lagere School, ELS. Setelah menamatkan sekolah dasar itu dia masuk Hoofdenschool, sebuah sekolah elite lokal untuk pendidikan kaum ambtenaar, terbatas hanya untuk kalangan atas.

Dia tidak puas dengan sekolah itu. Dia ingin pindah dari sana untuk mengejar cita-cita besar dan terutama karena cerita-cerita besar tentang STOVIA, School tot Opleiding van Indische Artsen, yang mendidik dokter-dokter Jawa di Batavia. Ketika ada tawaran beasiswa dari STOVIA, Ratulangi mendaftar dan memenangkan beasiswa. Itulah saat untuk pertama kalinya dia meninggalkan tanah kelahirannya Minahasa menuju Jawa berbekal pesan standar seorang ayah luar Jawa: “…janganlah kembali dengan koper kosong”. Pada tahun keberangkatannya itu, tahun 1904, usianya sangat muda, 14 tahun.

Sekolah dokter Jawa ternyata tidak memenuhi harapannya dan bertentangan dengan minatnya. Dia pindah ke sekolah teknik Koningin Wilhelmina School di Batavia. Setelah tamat sekolah teknik itu untuk seberapa waktu dia bekerja pada Jawatan Kereta Api Lin Barat, yang meliputi jalur Priangan Selatan hingga Maos di Cilacap.

Dalam umur 22 tahun dia bertolak ke Belanda dan di sana dia mengambil kuliah tahun 1913-1915, dan dia mendapatkan ijazah guru Middelbare Onderwijs Akte di bidang Wiskunde en Paedagogiek yang memberikannya wewenang mengajar sekolah menengah di bidang ilmu pasti dan alam. Sambil kuliah dia juga menjadi aktivis dan menjadi ketua Indische Vereniging, yang kelak menjadi Perhimpunan Indonesia.

Dia juga tidak puas dengan ijasah itu dan ingin melanjutkan studinya ke S-3. Namun, middelbare onderwijs akte, ijazah guru sekolah menengah, tidak cukup untuk mengambil S-3 di Belanda. Oleh karena itu atas saran Mr Abendanon, mantan menteri pendidikan di Hindia Belanda, dia meninggalkan Belanda ke Zurich, Swiss, dan di sana menyelesaikan studi di bidang ilmu pasti dan alam.

Ketika dia menyelesaikan studinya dan menggondol doktor dalam bidang ilmu pasti dan alam dalam umur 29 tahun, dia menjadi orang pribumi pertama di Hindia Belanda dengan ijazah tertinggi di bidang itu.

Namun, seperti dilihat nanti studinya di bidang matematika dan fisika itu tidak mengantarnya menjadi seorang fisikawan di laboratorium atau seorang profesor di kursinya di universitas. Dia menjalani sesuatu yang sama sekali lain dari yang dimaksudkannya dalam seluruh jajaran studinya sejak Hoofdenscholen di Minahasa sampai Universitas Zurich di Swiss.

Tidak banyak catatan yang memungkinkan kita menunjukkan suatu pengalaman pribadinya dalam membangkitkan semangat nasionalisme yang begitu tinggi sejak umur mudanya. Satu-satunya jejak yang bisa diperoleh adalah dalam buku kecil Serikat Islam yang ditulis dan terbit dalam serial Onze Kolonien di Belanda, tahun 1913, ketika umurnya 23 tahun.

Di sana dia katakan bahwa Serikat Islam adalah keharusan sejarah terutama bila diperhatikan bagaimana seorang pribumi diperlakukan. Serikat Islam adalah tanda solidaritas pribumi terutama terhadap perlakuan orang Eropa di luar batas. Perlakuan itu menyakitkan bagi rasa keadilan. Menyedihkan dan merendahkan bila seorang menyaksikan bagaimana pengawas Eropa, opzichter, yang hanya karena kesalahan kecil saja menyiksa seorang pribumi sambil diumpat dalam caci-maki, met een “rammeling”, karena menurut perhitungannya sang pribumi tidak akan membela dirinya dan tidak akan ada orang yang mendengar tentang itu.

Dalam catatan kaki dia tambahkan sedikit tentang dirinya: Ik heb zelve menige “ranselpartij” door een Europeeschen opzichte bijgewoond”, saya sendiri beberapa kali dihajar dalam acara nista seperti itu. Sungguh ironis, apa yang dikatakan Ratulangi sungguh bertolak-belakang dengan dan malah menjadi ejekan terhadap logo pencetak dan penerbit buku tersebut di atas, Hollander-Drukkerij, yang menganut semboyan humanitas durat, kemanusiaan itu langgeng, yang terpampang jelas bersanding dengan judul bukunya.

Bisa diduga di sinilah rasa harga diri sebagai pribumi dan rasa kebangsaan itu mulai bersemi di dalam diri dan pengalaman pribadi Ratulangi muda di Bandung. Namun, buku yang ditulis di Amsterdam itu jauh-jauh dari buku luapan amarah. Suatu analisis tajam dan lebih merupakan kritik keras ke segala jurusan, kepada Pemerintah Belanda di Belanda, pemerintah Hindia Belanda di Batavia, kepada Gubernur Jenderal Idenburg pribadi, kepada Zending di Hindia Belanda, dan juga kepada Serikat Islam itu sendiri.

Semuanya bertolak dari satu titik kenyataan baru Hindia Belanda yaitu telah tumbuh stadium baru kemasyarakatan yang bertingkat-tingkat: kesadaran pribadi seorang Jawa, kesadaran masyarakat pribumi, menuju aksi nasional yang dasyat, een krachtige nationale actie.

Kehidupan pribumi sedang dan sudah memasuki suatu zaman baru. Sudah lewat masanya ketika seorang pribumi menghormati hukum semata-mata karena itulah hukum, betapa pun kejamnya hukum tersebut, dura lex, sed lex. Pemerintah di Hindia Belanda keliru karena menjalankan suatu politik di mana agama begitu berpadu dengan politik. Kristenisasi versi Gubernur Jenderal Idenburg memang merangsang didirikannya Serikat Islam itu. Karena itu SI, tidak lain dari “Salahnya Idenburg”. Di pihak lain Serikat Islam (1911) tidak bisa dilihat terlepas dari Boedi Oetomo(1908) dan Indische Partij (1912). Antara ketiganya ada suatu hubungan sebab dan akibat, een oorzakelijk verband.

Justru dengan pengetahuannya seperti itu, ada suatu garis pembedaan yang ditariknya sendiri dengan tajam. Dia tidak terlalu menekankan bewoestzijn, yang lebih mencerminkan suatu status kesadaran, statik sifatnya, tetapi proses menjadi sadarnya suatu komunitas politik, de bewustwording masyarakat nasional.

Namun, di pihak lain, betapa pun sentral peran agama dalam kasus Serikat Islam kesadaran nasional itu-demikian Ratulangi- tidak diperoleh door den godsdienst, tidak melalui agama per se. Yang berada pada tempat pertama adalah kesadaran nasional, dan tidak terbalik. Baginya kesadaran nasional itu hanya bisa lahir met religie, bersama agama, yaitu ketika agama itu menjadi anti-tesis terhadap suatu kenyataan ekonomi dan politik kolonial.

Ratulangi dan kemerdekaan

Sam Ratulangi menulis bahwa Hindia sudah pasti pada satu saat menjadi bangsa merdeka (een zelfstandig volksbestaan). Semuanya mungkin berdasarkan truisme bahwa sejarah tidak pernah menunjukkan adanya satu bangsa pun, yang sepanjang masa dijajah. Oleh karena itu sudah sejak tahun 1913 dia mencoba menarik perhatian Belanda dan Hindia untuk mempersiapkan suatu perpisahan yang tidak dapat ditawar dan tak terelakkan itu (de onvermiddelijke scheiding).

Perpisahan yang tak terhindarkan itu sebaiknya diatur menjadi suatu perceraian penuh persahabatan (een vriendschappelijke scheiding), dalam bentuk pertukaran unsur-unsur budaya yang membawa manfaat bagi dua belah pihak, yang sudah berabad-abad dipersatukan oleh sejarah satu sama lain.

Bagi Belanda semuanya hanya teriakan seorang nabi cilik setengah matang di padang gurun. Mengatakan itu pada tahun 1913 sama saja dengan mengatakan pada tahun 1974-dengan perbandingan rentang waktu sejajar antara masa Politik Etis penjajah Belanda sampai Indonesia merdeka dan Orde Baru-bahwa Orde Baru akan hancur. Bagi Belanda suatu yang mustahil, di satu sisi. Namun bagi kaum pergerakan, begitu memukau, di sisi lain.

Ketika Mohammad Hatta di depan pengadilan di Den Haag pada tahun 1921 mengatakan dalam pledoinya bahwa masalah kemerdekaan Indonesia bukan een probleem van ja of neen, maar een probleem van vroeger of later, bukan soal ya atau tidak akan tetapi soal lebih dini atau terlambat, maka itu lebih menjadi gema dari apa yang sudah dikatakan Sam Ratulangi delapan tahun terdahulu.

Setelah kembali dari Belanda dia mengajar kira-kira tiga tahun di Yogyakarta. Dengan ijazah yang sangat tinggi itu kehadirannya sendiri di Yogyakarta dibenci oleh kalangan Belanda yang sama sekali tidak suka melihat anak-anak Belanda diajar oleh seorang pribumi meski dengan kaliber Ratulangi. Mungkin itulah yang menjelaskan mengapa masa mengajar itu begitu singkat. Sesudah itu dia ke Bandung dan mendirikan suatu usaha dagang Maskapai Asuransi Indonesia dengan berani memakai nama Indonesia untuk suatu badan bisnis. Namun, bekerja di bidang bisnis tidak terlalu menarik perhatiannya.

Semuanya membawa Ratulangi kembali ke Manado dan di sana dia dipilih menjadi ketua Minahasa Raad, Dewan Minahasa, 1924, suatu dewan perwakilan di tingkat kabupaten. Itulah yang menjadi awal dari perjalanan panjang karier politik Ratulangi. Banyak yang dia kerjakan dengan posisinya itu.

Berkat usahanya heerendienst, kerja rodi, dihapus di tanah Minahasa. Dia membuka wilayah transmigrasi lokal, mendirikan semacam koperasi penanaman kelapa, mendirikan yayasan untuk mereka yang berbakat namun kekurangan dana untuk belajar. Dia juga mendirikan partai Persatuan Minahasa. Sebagai seorang yang berminat besar dan banyak dia juga mendirikan organisasi buruh laut.

Apa yang dia kerjakan di Hindia Belanda lebih merupakan kelanjutan pandangannya di Belanda. Dengan buku kecilnya Sam Ratulangi membuka suatu dimensi lain dalam politik Indonesia. Dia mungkin tidak percaya pada model kekerasan bentuk-bentuk revolusioner lainnya. Namun, harus membuka jenis hubungan kedua bangsa atas cara lain. Suatu bentuk hubungan baru harus dirumuskan kembali antara Indonesia dan Belanda khususnya, dan politik Indonesia di dalam lingkungan ekonomi-politik internasional masa kini pada umumnya.

Di sini bisa dipahami mengapa Sam Ratunglangi tidak pernah memilih suatu politik radikal. Bahkan ketika PKI diganyang tahun 1926 dan PNI dirangsek tahun 1927, Ratulangi sedang memimpin partai lokal di Minahasa. Hampir tidak terdengar apa pendiriannya, di mana posisinya tentang peristiwa menggemparkan, perlawanan terbesar terhadap pemerintah kolonial. Dia memilih politik “ko” dengan menjadi anggota Volksraad pada tahun 1930.

Di dalam dewan inilah bergabung dengan tiga orang yang membuat kepala kolonial berputar tujuh keliling yaitu Sam Ratulangi, Husni Thamrin, dan Soetardjo Kartohadikusumo. Di dalam dewan ini pula kesadaran tentang dan terutama keterlibatannya dengan masalah-masalah internasional terpupuk. Dia sudah mampu berbicara tentang Perang Pasifik jauh-jauh hari sebelum perang meletus yang juga menjadi perhatian bersama dengan Husni Thamrin.

Dalam perjalanan waktu, tiga serangkai ini tidak lain dari serigala nasionalis yang berbulu domba bagi Belanda karena mereka pada dasarnya bermental “non-ko” yang “diselundupkan” ke dalam kaum “ko” di dalam Volksraad. Dia tetap konsisten bahwa kepastian tentang kemerdekaan Indonesia harus dikerjakan dengan cara-cara yang konsisten pula. Oleh karena itu dia juga mendukung “Petisi Soetardjo” yang meminta Indonesia berparlemen, dan Indonesia menjadi suatu negara sendiri dalam dominio dengan Belanda. Semuanya ditolak Belanda dengan alasan Indonesia belum matang untuk itu.

Ratulangi dan Indonesia di Pasifik

Dalam posisinya di dalam nationale fractie dalam Dewan Rakjat mereka mendapat pertentangan keras dari kaum Belanda yang disebutnya sebagai kaum “sana”. Namun, lidah keras Ratulangi membuat Belanda tidak tahan dan Ratulangi dijebak dalam suatu skandal keuangan. Dalam suatu laporan perjalanan dinas sebagai anggota Volksraad, Ratulangi dianggap tidak jujur dalam memberikan laporan perjalanan, reisdeclaratie, sehingga Belanda dirugikan sebanyak f 100.00, seratus gulden.

Tuduhan tersebut yang diproses secara hukum di kejaksaan kolonial, langsung saja ditolak surat kabar-surat kabar nasionalis sebagai tidak masuk akal, suatu jerat tipu-muslihat Belanda. Seorang dengan kaliber Ratulangi, demikian kata Tjaja Timoer, kalau nafsunya pada uang memang seburuk itu maka dia dengan mudah menjual tenaganya kepada kaum kapitalis yang akan “menghasilkan uang dan untung lebih besar daripada pekerjaan di kalangan politik nasional”. Hanya, katanya, apakah masyarakat kita akan melepaskan tenaga sepenting itu dari kalangannya?

Ratulangi akhirnya menjadi korban Belanda dan “pers putih”, pers kolonial Belanda, dan diadili dan divonis empat bulan penjara dan diskors dari Volksraad selama tiga tahun. Hukum penjara dijalankan di Sukamiskin, Bandung tahun 1936. Namun, waktu itu digunakan dengan efektif untuk merenung dan menulis buku keduanya dengan suatu wawasan luar biasa tentang masalah Indonesia di Pasifik.

Tentang karyanya sendiri, Ratulangi mengatakan dia tidak ingin terjebak dalam sensasi sesaat tentang Pasifik yang kini sudah menyebarkan pandangan penuh panik. Oleh karena itu buku ini semata-mata dimaksudkan sebagai suatu studi untuk membuat perhitungan tentang posisi Indonesia di Pasifik. Seluruh visi yang secara empiris menjadi dasar tesis Sam Ratulangi adalah Jepang.

Saya pikir bukan tanpa sengaja dia memilih Jepang. Dengan jitu dia mencatat perkembangan ekonomi Jepang dan peran Jepang dalam ekonomi Hindia Belanda. Dengan jitu pula kesimpulan itu diambil dari performa ekonomi Jepang masa malaise. Semakin dunia dilanda oleh resesi tahun 1929 semakin tinggi nilai ekspor Jepang ke Hindia Belanda. Oleh karena itu dia melihat Jepang sebagai kekuatan besar yang sedang menghalau Barat.

Pertanyaan yang menarik perhatian adalah apa pandangan Ratulangi tentang pedudukan Jepang atas Indonesia? Hampir tidak ada dokumen yang memungkinkan saya menarik kesimpulan bahwa dia termasuk ke dalam kelompok anti-fasisme yang dipelopori oleh Amir Sjariffuddin. Akan tetapi dalam hal ini boleh dibilang Sam Ratulangi ambivalen. Semangat nasionalismenya sangat tinggi dan itu terbungkus pula oleh gairah etno-nasionalismenya yang tidak kurang besarnya. Namun, bersama semuanya harapannya pada regionalisme juga sangat kuat. Kepercayaan pada kebangkitan Timur (het gloren van den Nieuwen Dag in het Oosten) menggelora di dalam dirinya dan di sana Jepang adalah motor.

Mungkin inilah yang membangun simpatinya yang sangat besar pula pada Jepang. Dia yakin pada demokrasi namun demokrasi dalam pandangannya adalah de nationale demokratie, mungkin dengan nuansa yang sangat lain. Mungkin itu yang menjelaskan mengapa dia tidak ragu-ragu menjadi penasihat Jepang, Minseibu, pemerintah Angkatan Laut Jepang yang berkuasa di Indonesia Timur. Inilah jenis koperasi dengan Jepang yang tidak jauh berbeda dari pilihan Soekarno dan Hatta. Mungkin di mata Sjahrir, Ratulangi tidak ada bedanya dengan Soekarno dan Hatta dan para pemimpin lain “…yang pernah membudak kepada … fasis kolonial Belanda atau fasis militer Jepang” (Sjahrir, Perjuangan Kita).

Dengan dua penjajah utama Indonesia pada dasarnya dia “bersahabat” meski dengan daya kritis yang sangat tinggi. Dia menawarkan persahabatan kepada Belanda. Namun, Belanda menolak dua-dua dimensi “tawaran” Ratulangi yang pada dasarnya satu tawaran damai, een vriendschappelijke schijding, berpisah secara bersahabat. Memang sekali lagi Belanda yang kembali bersama Sekutu menangkap Ratulangi tahun 1946-pada waktu itu dia menjadi Gubernur Sulawesi, 1945-1946. Dia dipenjarakan Netherlands Indies Civil Administration, NICA, pemerintahan sipil Hindia Belanda, dari 1946-1948, yang dijalankannya di Makassar dan di Serui, tanah Papua Barat. Di sana dia mensponsori didirikannya Partai Kemerdekaan Irian.

Dia dibebaskan dari tahanan oleh tentara Sekutu yang ke Papua untuk mencari sisa-sisa tentara Sekutu yang ditawan Jepang dan diterbangkan ke Yogyakarta, tanggal 5 April 1948. Di sana dia bergabung dengan kaum pergerakan dan diangkat menjadi penasihat pemerintah Soekarno-Hatta di Yogyakarta. Dia berusaha mempersatukan kaum republiken dan kaum federalis dengan suatu seruan yang disponsorinya (November 1948). Dia berwibawa di dua kubu.

Ketika Belanda menyerang Istana Yogyakarta bulan Desember 1948, Ratulangi ikut tertangkap, namun tidak sempat dibuang karena dia jatuh sakit dan akhirnya meninggal tanggal 30 Juni 1949 karena serangan jantung di tengah keluarganya di Jakarta. Dikuburkan sementara di Jakarta, namun, kemudian dengan kapal laut dibawa ke Manado dan dia dikuburkan di sana dalam peristirahatan terakhir di tanah nenek-moyangnya. Seluruh karier politik pergerakan Doktor Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi seperti menjalani de-crescendo, tajam-menukik ketika semuanya ditutup oleh kematiannya yang begitu prosaik.

Beberapa catatan penutup

Kalau seorang berada di pusat Kota Manado, mata dengan mudah terpancang pada satu-satunya patung. Di sana berdiri seorang berpakaian serba putih, menebarkan pandangan ke seantero kota. Aura profesorial jauh lebih mengemuka daripada wajah politikal. Manado dengan demikian ingin mengambil dan memberikan kesan tentang Doktor Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi sebagai seorang pendidik. Kesan itu tentu saja tidak keliru, apalagi ketika semua itu melembaga dalam Universitas Sam Ratulangi.

Bagi masyarakat lokal, pujaan terhadap Ratulangi mendekati kultus. Tanpa cacat! Ketika berangkat ke pelabuhan menuju Jawa dia diarak dalam iring-iringan pedati ke pelabuhan Manado, yang disebut “dofoma” untuk mendoakan dan memberikan berkat baginya-acara ini masih dilaksanakan di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) untuk memperingati kematiannya setiap tahun.

Dia dianggap perumus filosofi lokal, “Sitou Timou Tumou Tou”, (manusia hidup untuk memanusiakan manusia, Prof Inkiriwang) tentang humanisme inklusif yang bertolak dari pengenalan diri sendiri-semacam nosce te ipsum, dalam filosofi helleno-kristiani-agar bisa mengenal orang lain, demikian pun didiklah dirimu sendiri agar bisa mendidik orang lain.

Dalam politik nasional, secara umum dia adalah seorang aristokrat dengan wajah halus humane, dengan kadar populisme tinggi. Dia terdidik sebagai ahli matematika dan fisika; namun, seorang politikus ulung. Dia menekuni sesuatu yang “bukan bidangnya” dan dengan itu menjadi seorang ahli ilmu ekonomi-politik tangguh.

Dalam dunia intelektual dan akademik, dia meninggalkan dua karya seminal, karya bermutu tinggi yang menjadi sumber inspirasi bagi karya-karya berikutnya. Karya pertama, Serikat Islam, yang ditulisnya di Belanda pada usia muda, 23 tahun, yang hampir tidak pernah disinggung orang. Sedangkan karya kedua Indonesia in den Pacific, yang ditulisnya di penjara Sukamiskin, sudah menjadi mitos. Karya ini pun mengalami nasib semua karya pengandung mitos-lebih sering menjadi buah-bibir daripada dibaca. Di sana Ratulangi menunjukkan ketajaman analisis dan pandangannya menunjukkan kemampuan prediktif tingkat tinggi. Kalau Orde Baru sedikit memiliki kesadaran historis, maka APEC 1996 seharusnya dibuka bukan di Bogor akan tetapi di Bandung untuk menghormati Samuel Ratulangi yang membuka wawasan Asia Pasifik dengan buku yang ditulisnya di penjara Sukamiskin.

Pada dasarnya dua karya di atas sama visionernya. Dalam karya pertama, dia mengatakan pada tahun 1913 bahwa perkembangan pergerakan, meski baru berada pada tahap awal, sebegitu rupa sehingga persoalannya bukan Hindia matang atau tidak matang untuk memerintah dirinya sendiri, tetapi semata-mata soal hak Hindia untuk memerintah dirinya sendiri. Oleh karena itu tidak ada tugas lain dari Belanda daripada menyiapkan dan mendidik Hindia untuk merdeka.

Dalam karya kedua, seperempat abad berselang, logika yang sama berbicara pula. Perkembangan dunia berjalan sebegitu rupa sehingga Barat memberikan tempat kepada Timur. Barat tidak bisa tidak harus memberikan tempat kepada Jepang dan Amerika Serikat dan Lautan Teduh berubah menjadi lautan dunia, wereldzee, dengan posisi sama pentingnya dengan lautan Atlantik sebelumnya. Indonesia berdiri di tengah-tengah kekuatan-kekuatan baru itu dengan kekuatannya sendiri dalam bidang ekonomi.

Solusi yang ditawarkan Ratulangi pada dasarnya sama. Pada yang pertama ditawarkannya suatu pertukaran unsur-unsur budaya yang menguntungkan dua belah pihak; sedangkan dalam yang kedua mempertahankan keserasian antara Timur dan Barat. Dia menekankan pertukaran budaya, bukan konfrontasi dan harmoni kekuatan, bukan konflik.

Dengan semuanya itu, dia lebih menunjukkan dirinya sebagai seorang pasifis dengan kemampuan clairvoyance menakjubkan, dan kesabaran seorang revolusioner. Kesabarannya bertolak dari kemampuan intelektualnya yang bersinar laksana pijar-pijar bintang kejora di pagi nan kelam dengan daya pandang tajam menembus zaman, jauh-jauh di depannya.

(*)Daniel Dhakidae, Kepala Litbang Kompas (2000).

Uploaded: Januari 2000 oleh M. Sugandi-Ratulangi