Majalah Forum edisi 41, 2001.

 

Visioner dari Masa Silam

Anton Bahtiar Rifa’i

 

Suatu hari pada tahun 1922. Soekarno sedang berjalan-jalan di Jalan Braga, Bandung. Di depan sebuah gedung, tiba-tiba pandangan matanya tertumpu pada papan nama bertuliskan Algemene Levensverzekering Maatschappij Indonesia. Yang membuat si Bung tertarik adalah penggunaan kata “Indonesia” yang kala itu tergolong langka. Maka, Soekarno pun mampir dan berkenalan dengan pemilik perusahaan asuransi di gedung itu, Gerungan Saul Samuel Jacob Sam. Lelaki yang akrab dipanggil Sam itu pun berkata, “Itulah ideku, yakni agar Tanah Air kita yang terdiri dari beribu-ribu pulau itu bersatu dan diberi satu nama. Namanya telah saya tetapkan bersama pemuda-pemudi kita yang berada di Eropa, yaitu Indonesia.” Memang, Sam adalah orang Indonesia pertama yang berani memperkenalkan nama Indonesia secara resmi di depan publik.

 

Pertemuan dengan Sam menyisakan kenangan berkesan di hati Soekarno. Setelah terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia, dalam salah satu pidatonya Soekarno pernah menceritakan lagi pertemuan tersebut. Bahkan, Soekarno menyebut Sam sebagai gurunya di bidang politik. Sejarah pergerakan nasional yang tak menyebut peran G.S.S.J. Sam, ucapnya, adalah pincang dan tidak lengkap.

 

Ya, memang tak lengkap jika tak menyebut nama itu. Jauh hari sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Sam sudah menuliskan bahwa suatu hari Hindia akan menjadi bangsa merdeka. Sebab, sejarah tak pernah memperlihatkan adanya satu bangsa pun yang sepanjang masa dijajah. Sejak 1913, ia berusaha menyita perhatian Belanda dan Hindia agar menyiapkan sebuah perpisahan mutlak yang tak dapat ditawar-tawar. Dalam pikirannya, perpisahan itu sebaiknya diatur dalam bentuk perceraian yang penuh persahabatan, yang dikemas dalam bentuk pertukaran unsur-unsur budaya yang bermanfaat bagi kedua pihak.

 

Memang, pemikiran itu tergolong prematur. Daniel Dhakidae, dalam tulisannya “Gerungan Saul Samuel Jacob Sam, Pijar-pijar Bintang Kejora dari Timur” (Kompas, 1 Januari 2000), mengibaratkan perkataan Sam di tahun 1913 itu sama saja dengan mengucapkan bahwa Orde Baru akan hancur di tahun 1974. Artinya, benteng yang dihadapi terlalu keras. Namun, itu menunjukkan pemikiran Sam sangat visioner dan meneropong jauh ke depan.

 

Analisisnya dalam meneropong masa depan tergolong tajam. Lihat saja, ketika menyampaikan pidato di Amsterdam, Belanda, 22 Mei 1915, berjudul “Cita-cita Minahasa”, Sam membuat analisis tentang perkembangan negara imperialis. Perang Pasifik merupakan sesuatu yang telah dihitung Sam. “Kita jangan melihat keadaan di Indonesia saja. Di luar Indonesia ada kekuatan-kekuatan yang sewaktu-waktu membahayakan Tanah Air kita. Kejadian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa salah satu negara di Asia Utara akan mempergunakan kesempatan dengan adanya kerusuhan-kerusuhan di Eropa untuk melebarkan daerahnya ke Indonesia. Perbuatan Jepang yang boleh dinilai sekehendak hati dapat dianggap sebagai jawaban atas ini,” katanya.

 

Pemikirannya tersebut menunjukkan keyakinan Sam bahwa suatu hari sejarah penjajahan di Indonesia akan berlanjut pada pendudukan Jepang. Benar saja, serangan Jepang atas Indonesia memang benar-benar terjadi pada 1942.

 

Dengan melihat kemampuan daya pikirnya, tak berlebihan jika sejumlah pakar menyebutnya sebagai salah seorang futurolog yang pernah dimiliki Indonesia. Seperti dituturkan Dhakidae, kebangkitan Islam pun sudah diprediksikan oleh Sam setelah melihat berbagai gejala dunia pada saat itu. Bagi Sam, kesadaran nasional hanya bisa bangkit bersama agama. Dalam hal ini, agama merupakan antitesis terhadap kenyataan politik dan ekonomi kolonial.

 

Pantaslah jika ia disebut sebagai pejuang yang lebih menekankan aspek intelektualitas. Lagi pula, ia bukanlah pejuang yang radikal. Lihat saja, ketika PKI dan PNI diporak-porandakan pada 1926 dan 1927, sikap Sam nyaris tak terdengar. Padahal, kedua peristiwa itu merupakan bentuk perlawanan terbesar atas pemerintah kolonial.

 

Bisa jadi, Sam memang menerjemahkan perubahan melalui polanya sendiri. Dan, ia telah banyak memberikan kontribusi bagi perubahan sosial. Pada saat menjabat Ketua Minahasa Raad (Dewan Minahasa) di Manado pada 1924 hingga 1927, misalnya, ia berhasil menghapuskan kerja rodi terhadap rakyat Minahasa. Selain itu, Sam berhasil membuka daerah baru melalui program transmigrasi lokal di Minahasa Selatan. Dengan demikian, terbukalah kesempatan bagi rakyat Minahasa untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

 

Ia juga menaruh perhatian besar pada pendidikan. Ia mampu menggalang dana dari para dermawan melalui sebuah yayasan yang diketuainya sendiri. Yayasan tersebut didirikan untuk membantu pemuda-pemuda berbakat yang tak memiliki biaya dalam melanjutkan studi.

 

Semua cerita tentang Sam bermula dari Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara. Di daerah itu, Sam dilahirkan pada 5 November 1890. Seperti para pejuang pergerakan nasional lainnya, ia berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya, Jozias Sam, adalah Kepala Distrik Kasendukan. Kakak perempuan Sam, Kayes Rachel Wilhemina Maria, adalah wanita Indonesia pertama yang bisa memperoleh ijazah Kleinambtenaar Examen pada 1898.

 

Sebagai seorang aristokrat, saat berusia enam tahun ia bisa bersekolah di Europesche Lagere School (ELS). Kepala sekolahnya mengajarkan bahasa Belanda dengan sungguh-sungguh. Akibatnya, Sam lebih mahir berbahasa Belanda ketimbang kebanyakan orang-orang Belanda sendiri. Lulus dari ELS, ia melanjutkan ke Hoofdenschool, sekolah elite lokal bagi kalangan atas.

 

Beginilah watak orang cerdas, Sam merasa jengah terhadap mutu pendidikan di Hoofdenschool. Ia menganggap mutu sekolah itu sangat rendah sehingga ia merasa tak banyak memperoleh pengetahuan. Maklumlah, pelajaran di sana banyak yang sudah diketahuinya lewat buku-buku ayahnya. Sam pun mulai melirik Pulau Jawa karena seorang sepupunya ada yang belajar di Batavia, tepatnya di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) atau sekolah kedokteran. Sejumlah tokoh, seperti Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo pernah bersekolah di sana. Sam merasa tertarik terhadap sekolah itu setelah melakukan korespondensi dengan saudara sepupunya.

 

Tak dinyana, belakangan Sam mendapat beasiswa untuk bersekolah di sana. Maka, kesempatan tersebut tak disia-siakannya, walaupun ibunya merasa sedih atas kepergian anak bungsunya itu. Wajarlah, untuk ukuran orang Minahasa saat itu, Pulau Jawa adalah suatu tempat yang sangat jauh. “Sekarang pergilah, engkau. Tapi, janganlah kembali dengan kopor kosong,” kata ayahnya berpesan. Tekad Sam memang sudah bulat. “Saya akan belajar sungguh-sungguh. Dokter Jawa yang sudah tua di Tondano itu akan saya gantikan tugasnya,” ujarnya seolah untuk meneguhkan tekadnya.

 

Ternyata, STOVIA tak sebagus yang dibayangkannya. Karena merasa lebih berbakat di bidang teknik, akhirnya Sam memilih belajar di sekolah teknik Koningin Wilhelmina School yang juga berada di Jakarta. Selesai belajar di sini, pada 1908 Sam bekerja di bagian teknik mesin pada proyek pembangunan kereta api di Priangan Selatan.

 

Di sinilah ia mulai merasa kecewa atas perlakuan tidak adil terhadap kaum pribumi. Misalnya, ia memperoleh gaji lebih kecil ketimbang teman-temannya yang Indo-Belanda. Ia mendapat penginapan di perkampungan, sedangkan teman-temannya menginap di hotel. Pengalaman itu membuatnya bertekad menuntut ilmu setinggi-tingginya.

 

Maka, pada usia 22 tahun, ia berangkat ke Belanda untuk kembali bersekolah. Yang menjadi pilihannya adalah sekolah guru Middelbere Acte en Paedagogiek yang diselesaikannya pada 1913. Setelah itu, ia melanjutkan studi sebagai mahasiswa jurusan ilmu pasti di Vrije Universiteit Amsterdam. Sayang, saat hendak mengikuti ujian pada 1915, Sam tidak diperkenankan. Alasannya, ia tidak memiliki ijazah hoogere burger school (HBS) ataupun algemeene middelbare school (AMS), yaitu ijazah sekolah menengah umum. Namun, Sam tak terlalu berkecil hati. Oleh Mr. Abenden, seorang Belanda yang dijuluki “sahabat Hindia”, ia disarankan melanjutkan kuliah di Universitas Zurich, Swiss. Saran itu pun dituruti Sam. Dalam waktu empat tahun, tepatnya pada 1919, Sam berhasil menyelesaikan kuliah di Universitas Zurich dan menyandang gelar doktor untuk bidang ilmu pasti dan ilmu alam.

 

Yang pasti, selama belajar di Eropa, Sam giat sebagai aktivis di Indische Vereniging yang kelak menjadi Perhimpunan Indonesia. Bahkan, ia sempat menjadi ketua organisasi itu pada 1914. “Marilah kita menganggap ini suatu tugas suci bahwa kita mempunyai satu pikiran mengenai hari kemudian Indonesia, di mana kita semua harus mengambil bagian. Perbedaan pendapat di antara kita tentunya tidak mungkin kita hindarkan. Tapi, tujuan kita sama, yaitu mempertinggi derajat Indonesia. Kita masing-masing menjadi pejuang untuk tujuan kita itu,” demikian dikatakan Sam dalam pidatonya saat terpilih menjadi ketua.

 

Selain aktif di organisasi, ia juga rajin menulis di sejumlah surat kabar dan majalah, seperti Koloniale Tijdschrift, De Stuw, Onze Kolonien, dan Indische Gids. Malah, di harian Rotterdamsche Handelsblad, surat kabar yang berpengaruh di Belanda kala itu, ia menjadi pembantu tetap. Salah satu tulisan Sam yang tergolong cemerlang ada dalam buku kecil Serikat Islam yang diterbitkan dalam serial Onze Kolonien di Belanda pada 1913.

 

Di situ, Sam memaparkan bahwa Serikat Islam merupakan sebuah keharusan sejarah. Terutama bila dikaitkan dengan perlakuan terhadap pribumi. Serikat Islam merupakan wujud solidaritas pribumi atas perlakuan orang Eropa yang di luar batas. Perlakuan itu menyakitkan bagi rasa keadilan. Menyedihkan dan merendahkan bila seseorang menyaksikan bagaimana pengawas Eropa, opzichter, yang hanya karena sebuah kesalahan kecil akan menyiksa dan mencaci seorang pribumi. Mengenai kegelisahan Sam itu, Dhakidae mengatakan, “Bisa diduga, dari sinilah rasa harga diri sebagai pribumi dan rasa kebangsaan itu mulai bersemi dalam diri dan pengalaman pribadi Sam.”

 

Toh, penghinaan dari orang-orang Belanda tetap mendera Sam. Itu dirasakannya ketika ia, sepulang dari Eropa, mengajar ilmu pasti dan ilmu alam di sekolah teknik Prinses Juliana School (setingkat STM) di Yogyakarta, yang muridnya sebagian besar adalah orang Belanda. Sam harus melihat kenyataan tentang orang-orang Belanda yang berpikiran kolot. Mereka merasa tidak ikhlas jika anak-anaknya diajar oleh orang Indonesia. Sam tetap dipandang sebagai inlander, sebutan yang tidak mengenakkan kala itu. Bisa jadi, faktor itulah yang menyebabkan waktu mengajarnya sangat singkat: hanya tiga tahun.

 

Kecewa di Yogyakarta, Sam hijrah ke Bandung untuk mendirikan Maskapai Asuransi Indonesia atau Algemene Levensverzekering Maatschappij Indonesia. Seperti telah disebutkan, penggunaan nama “Indonesia” itu sempat membuat Soekarno terkesan. Toh, menggeluti bisnis asuransi tak memberikan kepuasan baginya. Berbagai kekecewaan itu menggiringnya kembali ke Manado. Di sinilah ia terpilih sebagai Ketua Minahasa Raad. Sebenarnya, Sam tidak disukai pemerintah kolonial untuk menduduki jabatan itu. Namun, apa daya, sebagian besar rakyat di sana memang memilihnya.

 

Sebagai penganut politik “ko”, pada 1930 ia menjadi anggota Volksraad. Di dewan itu, bersama Husni Thamrin dan Soetardjo Kartohadikoesoemo, Sam ikut meminta agar Indonesia menjadi suatu negara sendiri sebagai dominion Belanda. Namun, karena Indonesia dianggap belum matang, Belanda menolak keinginan itu. “Tiga serangkai ini tak lain dari serigala nasionalis yang berbulu domba bagi Belanda. Pada dasarnya mereka bermental ‘non-ko’ yang diselundupkan dalam kaum ‘ko’ dalam Volksraad,” kata Dhakidae.

 

Lidah memang tajam. Dan, lama-lama ucapan-ucapan Sam di Volksraad membuat Belanda gerah. Akhirnya, dilakukanlah rekayasa “menjebak” Sam dalam sebuah skandal keuangan. Tudingan tidak jujur diarahkan kepadanya dalam laporan perjalanan dinas anggota Volksraad, yang mengakibatkan Belanda dirugikan sebesar 100 gulden.

 

Berbagai surat kabar nasionalis menentang “jebakan” itu. Mereka menganggap hal itu hanya tipu daya pemerintah kolonial. Masuk akal. Seperti dikatakan Tjaja Timoer, jika nafsunya kepada uang memang seburuk itu, maka ia dengan mudah menjual tenaganya kepada kaum kapitalis. Namun, sikap protes mereka itu tak berarti apa-apa. Sebab, setelah menjalani proses hukum di kejaksaan kolonial, Sam divonis empat bulan penjara, serta diskors dari Volksraad. “Sam akhirnya menjadi korban Belanda dan ‘pers putih’, pers kolonial Belanda,” begitu tulis Dhakidae.

 

Selanjutnya, Sam menjalani masa tahanan di Sukamiskin, Bandung, pada 1936. Toh, justru karena dipenjara itulah ia memiliki kesempatan untuk merenung dan menulis buku keduanya tentang masalah Indonesia di Pasifik. Yang menjadi pokok perhatian dalam tulisannya itu adalah Jepang. “Saya pikir bukan tanpa sengaja ia memilih Jepang. Dengan jitu ia mencatat perkembangan ekonomi Jepang dan peran Jepang dalam ekonomi Hindia Belanda,” kata Dhakidae.

 

Di mata Dhakidae, Sam memiliki kekaguman pada Jepang. “Ia yakin pada demokrasi. Namun, demokrasi dalam pandangannya adalah de nationale demokratie, mungkin dengan nuansa yang sangat lain,” kata Dhakidae. Dan, itu pula yang diyakini Dhakidae sebagai alasan yang membuat Sam tidak ragu-ragu menjadi penasihat Jepang untuk Minseibu, pemerintah Angkatan Laut Jepang yang berkuasa di Indonesia Timur. Sjahrir pun menganggap Sam tak jauh berbeda dengan Soekarno dan Hatta, “Yang pernah membudak pada fasis kolonial Belanda atau fasis militer Jepang.”

 

Yang pasti, masih banyak momen-momen penting yang dialami Sam. Saat menjabat Gubernur Sulawesi, 1946, Sam ditangkap Belanda dan dipenjarakan di Makassar dan Serui, Papua Barat. Di sana pula ia sempat mensponsori pendirian Partai Kemerdekaan Irian. Setelah dibebaskan dari tahanan pada 1948, Sam kembali aktif di dunia pergerakan dan sempat menjadi penasihat pemerintahan Soekarno-Hatta di Yogyakarta. Saat Istana Yogyakarta diserang Belanda pada Desember 1948, Sam ikut tertangkap. Namun, ia tak sempat dibuang karena keburu sakit-sakitan. Sam pun wafat pada 30 Juni 1949. Sebelum meninggal dunia, Sam sempat berkata kepada anak-anaknya, “Orang akan mengatakan, kami mengenal baik ayahmu.” Ya, kami mengenal baik.

 

Anton Bahtiar Rifa’i