Tulisan terakhir yang tak terselesaikan, dari tangan Dr. G.S.S.J. Ratu Langie ditahun 1949

Indonesia dalam Gelora Internasional

PENDAHULUAN(*)

I.             Aliran Atas

Faham liberal mendjadi filsafat – dasar dari bentuk sosial – politik Eropah-Barat dan Amerika dalam abad XIX. Berdasarkan filsafat kesusilaan ini kemudian berkembang suatu susunan social- ekonomi jang berbentuk free – trade liberalism, ialah kebebasan dalam mentjari nafkah dan jang kemudian mendjelma dan mendjadi kapitalisme.

Dilihat dari sudut politiek maka kemungkinan berkembangnja faham kapitalis itu ditjiptakan oleh Revolusi Perantjis. Apakah kapitalis itu pada hakekatnya susunan sosial-ekonomis seperti yang dimaksudkan oleh para pemikir revolusioner dari abad ke 18 itu masih disangsikan dan pula bukan tempatnja disini mendahului hal itu. Tetapi suatu kenjataan ialah bahwa Revolusi Perantjis dengan akibatnja berupa perobahan-perobahan sosial dan politik diseluruh Eropah memungkinkan tumbuhnja faham kapitalis.

Untuk tumbuh ini dibutuhkan, pertama kemerdekaan politik dan sosial dari individu (seseorang) sebagai anggota dari masjarakat dan sjarat kedua, bahwa tiap anggota dari masjarakat mendapat kesempatan jang sama dan jang tidak dihalangi.

Kedua sjarat itu mendapat pengakuan dalam sembojan jang terkenal jaitu “liberté, egalité et fraternité” (kemerdekaan, persamaan dan persuadaraan) asal sadja dengan bidjaksana hal persaudaraan itu didiamkan.

Akan tetapi masih dibutuhkan sjarat jang ketiga, jaini : sjarat psychologis, jaitu sesuatu faham perseorangan jang berderadjat setinggi – tingginja..

Faktor psychologis ini pada saat itu memang terdapat pada bangsa – bangsa Eropah Barat dan jang dapat dilihat dengan njata sekali pada seni lukis dan kesusasteraan mereka, pada susunan sosial dan pada konstruksi (bentuk) politiek mereka, dengan singkat pada irama penghidupan mereka.

Faktor – faktor ini perseorang jang asli dari bangsa – bangsa Eropah Barat dan filsafat kesusilaan dari faham liberal, sepandjang masa seabad telah membentuk di Eropah Barat dan Amerika suatu susunan masjarakat. Dan karena permainan jang bebas dari gaja – gaja masjarakat maka terdjadilah pemusatan alat – alat penghasil, jang djatuh kedalam tangan beberapa golongan orang, golongan jang agak ketjil.

Baik sardjana – sardjana agama maupun filsuf – filsuf ilmu lain – lainnja dari berbagai – bagai bangsa dan intelek – intelek jang tertjakap dari ilmu alam memberikan tenaganja untuk kepentingan susunan itu, memperkembangkannja, menjempurnakannja dan mengonsolidernja hingga pada achir abad ke XIX, bentuk kapitalis itu di Eropah Barat dan Amerika berdiri dengan megahnja dipuntjak segala tjiptaan dan mendjadi darah daging dari tiap-tiap bangsa serta dapat menaklukkan bagian – bagian lain dari majapada ini.

Dengan tjara demikian maka unsur baru dibutuhkan pada sedjarah dunia, hingga kapital mendjadi imperialistis dan berhasrat berkuasa diluar tapal batas negara – negara masing – masing.

Kemadjuan dalam pengetahuan ilmu alam dan teknik mengakibatkan radius kekuasaan dari pusat kapitalis memandjang dan mendalam hingga pimpinan dari buana ini ditata menurut kaidah dari adjaran composia kapitalis.

Hasil-hasil dari pedalaman Afrika, baik dari Asia Sentral maupun dari pulau- pulau Melanesia di Pasifik diatur menurut pendapat dagang dari pusat-puat faham imperialis dunia jang kapitalis itu.

Pusat-pusat itu ialah negara-negara jang terletak disekitar panggul Samudra Atlantik disebelah Utara, ja’ni Eropah Barat dan Amerika Utara. Dari situlah berasal semua pimpinan untuk perekonomian dunia.

Karena kekuasaan modal dari negara- negara disekitar Samudra Atlantik itu maka pada achir abad jang lampau ia mendjadi lautan dunia dimana pada hakekatnja berlangsung perebutan untuk hegemoni dunia, ialah world hegemony atau kekuasaan tertinggi didunia.

Dan perkembangan dari perbandingan kekuasaan dibagian – bagian lainnja dari dunia hanjalah pantjaran dari apa jang terdjadi disekitar Samudra Atlantik atau apa jang ditentukan disana.

Mendahului pertimbangan – pertimbangan jang akan diuraikan selandjutnja maka mungkin ada manfaatnja sambil lalu memadjukan pertanjaan apakah Pactum Atlantica Utara, jang baru – baru ini (Maret 1949) ditandatangani di Washington oleh Amerika Serikat, Canada, Inggris, Perantjis dan negara – negara Benelux, apakah pactum itu barangkali dapat dilihat dari sudut sebagai tersebut diatas tadi ?

Dibawah ini kita akan mendapat kesempatan untuk mendalami hal tersebut.

Kembali lagi kepada themata (= soal) susunan dunia kapitalis maka dalam perpustakaan umumnya diakui bahwa puntjak dari perkembangan susunan kapitalis itu kira – kira djatuh pada achir abad jang lalu dan pada permulaan abad ini. Susunan tersebut sebagai dilukiskan tadi memperoleh intinja jang sosial -psychologis itu dari adjaran bahwa perkembangan tenaga dan daja itu harus bebas dan merdeka dan tak mendapat suatu rintanganpun djuga.

Oleh karena susunan itu muntjul beberapa orang jang sebenarnja tak sesuai lagi dengan zaman sekarang karena zaman mereka, zaman memuntjaknja perkembangan susunan dunia kapitalis sebagai diterangkan diatas tadi, telah lampau.

Orang – orang sebagai Rockefeller, Stinnes, Astor, Morgan, Rotschild, Krupp, Basil Zacharof, Lowenstein, Kreuger untuk zaman sekarang hampir – hampir meninggalkan hikajat – hikajat mereka sendiri – sendiri. Mereka ialah exponen dari susunan kapitalis. Pada kumpulan orang – orang itu dapat ditambahkan pemimpin – pemimpin “Mammouth concerns”: Mitsui, Mitsubishi dan Sumitomo di Djepun jang dahulu dan pemimpin industri badja Tata di India.

Kebanjakan dari orang – orang itu ialah laksana bintang kelarat jang tampak dilangit ekonomi dan kemudian setelah mati jang mena’djubkan dan tidak djarang setelah mati jang penuh romantik, lenjap dari muka bumi ini dengan tidak meninggalkan suatu bekaspun.

Tapi ada djuga diantara mereka itu, jang mendjadi pembentuk keluarga – keluarga jang karena wudjud kekuasaannja, dapat disebut ‘dynasti’ jang daerah kekuasaannja tersebar di seluruh dunia ekonomi.

Dynasti – dynasti kapitalis itu, lambang dan inti dari susunan jang berkuasa itu, berkedudukan dan berpusat di Inggris, Amerika Utara, Perantjis dan Djerman. Dan dari negara itu berpantjarlah keaktifannja ketiap djurusan.

“Faham Kapitalis jang sebenarnja” – demikian kata Ferdinand Fried dalam bukunja jang bernama “Das Ende des Kapitalsmus” ditulis dalam tahun 1932, djadi sesudah Perang Dunia I, jang dengan tjerdasnja merangkai susunan dunia, pada hakekatnja tidak lain dari pada puntjak kesanggupan dari peradaban Barat jang berinti disekitar panggul dari Samudra Atlantik disebelah Utara ………

Perebutan, pembukaan dan penjebaran peradaban buat dunia dari segitiga “London – Paris – New York” jang semata – mata kapitalis itu, ialah salah satu triumphus (kemenangan) jang terbesar dari pikiran Barat, sedang perang (Jang dimaksudkan ialah Perang Dunia I R.L.) terhadap Djerman jang bertabiat lain sekali dan jang pula menderita perpetjahan dalam negeri, adalah suatu manifestasio jang maha besar dan jang terachir dari djiwa Barat, jang setelah itu letih dan lelah turun dari tachtanja dan kemudian karena seluruh pinggirnja bertjaruk – tjaruk lambat laun menemui adjalnja.

Hal jang tersebut diatas ini dikatakan oleh Fried dalam tahun 1932, djadi sebelum Perang Dunia II.

Kedjadian – kedjadian sesudah itu membantah pendapat, bahwa Perang Dunia I ialah “suatu manifestasio jang maha besar dan jang terachir dari faham kapitalis dunia jang setelah itu turun dari akan menemui adjalnja”.

Djuga pikiran bahwa Djerman sebelum Perang Duni I bertabiat lain sekali dari bagian – bagian Eropah Barat lainnja, tak dapat disetudjui. Djerman sebelum 1914 dalam segala hal sama tabiatnja dengan negara – negara jang oleh Fried disebut “negara – negara kapitalis”. Sebagai negara kapitalis pada saat itu Djerman masih “negara jang muda”. Semua tanda – tanda dan sifat – sifat djuga sjarat – sjarat untuk tumbuh sempurna pada ketika itu telah ada pada Djerman. Dalam politik international ia telah ikut serta dengan “chorus” (njanjian bersama) dari Negara – negara jang besar. Hal itu menggaduhkan dan membimbangkan negara – negara kapitalis jang agak “tua” seperti Perantjis dan Inggris.

Perkembangan industri dari Djerman mentjapai tingkat jang tinggi dan pada permulaan abad ini, hal tersebut mendorongnja untuk turut serta dalam perdagangan dan perkapalan dunia, dengan langsung menjaingi Inggris dan Perantjis.

Terutama dalam tahun – tahun permulaan abad ini atjapkali timbul insiden – insiden (kedjadian – kedjadian) antara Djerman dipihak jang satu dan Inggris dan Perantjis dipihak jang lainnja.

Insiden – insiden itu dikatakan disebabkan oleh sikap mendjadjah jang bersifat imperialis feodal dari Kaisar – Radja Wilhelm II jang pada waktu itu masih muda.

Tapi sebenarnja ia hanja exponen dari djiwa dari bangsa Djerman muda, bangsa Djerman Serikat dari Bismarck..

Faktor – faktor jang mendorong terutama dari politik luar negeri Djerman sama dengan faktor – faktor dari Inggris dan Perantjis, ialah potensi modal dan industri dari bangsa jang mentjari “Lebensraum” diluar batas negara sendiri. Modal Djerman pada saat itu djuga telah berhasrat hendak mendjadi kapital dunia.

Djadi Djerman pada ketika itu telah mendjadi kapitalis – imperialis. Hanja ia datang terlambat digelanggang, tempat perebutan hegemoni dunia. Waktu ia tiba disana, maka negara – negara kapitalis jang agak “tua” itu telah mempunjai djika kita mempergunakan istilah jang atjapkali salah dipakainja, ialah – hak – hak jang timbul dari pada sedjarah = historische rechten =

Sedang negara – negara kapitalis Eropah Barat (termasuk djuga Djerman) memperkembang susunan kapitalis itu, tumbuhlah satu pusat jang lain, “jang mewaris barang – barang jang berharga itu dari Barat” ja’ni Djepang. Ia mewaris bentuk perusahaan kapitalis dan organisasi – organisasinja; menjerapnja memberinja modulus (tuangan) dan djika perlu mengadakan perubahan dasar, disesuaikan kepada psychologi masjarakat Djepang. Di negeri Djepang terdjadi kelas, golongan kapitalis jang besar dan dipuntjaknja berdiri Zaibatsu, concern – concern jang besar dari keluarga Mitsui, Mitsubishi, Sumitomo dan Jasuda. Sebenarnja agak sukar untuk mengatakan bahwa tehnik Zaibatsu itu ialah versio atau “salinan” dari badan – badan monopoli kapitalis Barat.

Mereka mempunjai watak sendiri sesuai dengan konstruksi masjarakat Djepang dalam hubungannja dengan  buruh “halus” (buruh intelektual) dan buruh “kasar” mereka jang sedang pada menempati djabatan – djabatan atas mereka masih berpegang pada tradisio, adat – istiadat keluarga Djepang. Akan tetapi bentuk luar mereka ialah semata – mata copy (salinan) dari bentuk Barat dari “holding companies”, trust, kartel dan badan – badan bank sendiri. Mereka mengadakan infiltrasi (penjebukan) pada pemerintah dan badan – badan pemerintah dan bekerdja sama dengan para opsir tinggi dari angkatan darat, udara dan laut, serta menjalankan politik luar negeri sendiri. Dalam pikiran maka mereka memadukan bentuk organisasi dan djalan pikiran realis dan rationalis dari Barat itu dengan faham mutlak feodal dari Timur.

Faham kapitalis Asia inipun sekali akan memainkan rolnja, rol jang bebas dan jang berpendirian sendiri, dengan sasaran kapitalis – imperialis sendiri.

Akan tetapi pada permulaan abad ini faham kapitalis Asia itu merasa belum tjukup kuat untuk memikul tanggung djawabnja sendiri. Ia pada ketika itu setidak – tidaknja masih seolah – olah tunduk pada kapital Barat – Amerika. Dalam tahun 1914 ia masih segaris dengan faham kapitalis Barat. Dan faham kapitalis Barat itu sebagai telah diterangkan berpusat disekitar Samudra Atlantik. Samudra itu pada permulaan abad ke XX ialah lautan dunia, jang bersulam benang – benang dari usaha politik dan keuangan, jang menentukan djalan hidup diseluruh dunia.

II.         Aliran Bawah

Tiap – tiap sesuatu dalam dirinja mengandung hama – hama jang akan memusnahkannja. Ilmu dogmata akan menimbulkan tahanan kritik, djika batas tertentu dari paksaan kepertjajaan tertjapai; faham rationalis akan berachir dengan pikiran – pikiran jang djuga didjeludjur setjara rationalis akan tetapi jang logikanja berlawanan. Logika sendiripun djika didjalankan dengan keras sekali akan menimbulkan tjara berpikir jang berlawanan.

Djuga dalam masjarakat kapitalis terdjadi aliran berlawanan jang bermula sebagai aliran bawah dan baru kemudian mendjelang kepermukaan. Faham Marxis sebagai pengupasan soal masjarakat menurut ilmu pengetahuan mendjelma bentuk politik serupa faham komunis, faham sosialis dan varietas – varietas, bentuk – bentuk ubah lainnja dari faham – faham tersebut.

Kemerdekaan dari faham liberal memberi kemerdekaan untuk berorganisasi sosial dan politik bagi golongan proletar, golongan jang tak mampu dan kemudian untuk mengadakan pergerakan buruh menurut tjara berorganisasi jang berdasarkan ilmu pengetahuan. Sembojan “kemerdekaan”, persamaan dan persaudaraan ” dari faham liberal achirnja ternjata dalam masjarakat liberal – kapitalis tak sanggup membukakan pintu ke sorga dunia untuk kemanusiaan.

Kemerdekaan berarti atjapkali “kemerdekaan untuk memerah”, persamaan berarti seringkali ketidak-adilan terhadap dua kebesaran jang berbeda, djadi tak seharga, dan persamaan itu tak pernah berlaku dalam masjarakat kolonial, masjarakat djadjahan.  Tentang persaudaraan sebaiknja kita diamkan sadja. Perkataan itu berbunji laksana behana dari sjaitan tertawa terbahak – bahak diangkasa medan peperangan dari Eropah, Asia dan Amerika.

Akan tetapi aliran bawah ini pada pertukaran abad tersebut belum lagi tjukup kukuh berdiri dalam masjarakat untuk pada saat itu betul – betul dan actualis dapat mempengaruhi kedjadian – kedjadian dalam mekanis dunia. Mereka tetap tinggal sebagai aliran bawah walaupun gaja dan potensinja selalu bertambah dan walaupun tiap kekalahan dalam pergelutan selalu berarti satu pengalaman lebih. Pengalaman – pengalaman itu ditjatat dan menghasilkan ramuan – ramuan untuk teori dari ilmu methodik jang revolusioner dan jang sosial psychologis, berdasarkan ilmu pengetahuan dan jang kemudian dipraktekkan dalam berbagai – bagai negara dari dunia untuk membasmi faham kapitalis.

Akan tetapi aliran bawah itu, bagaimanapun pentingnja karena sifatnja jang universus atau umum itu, untuk perkembangan pikiran kita dengan mengingat tahun permulaan abad ini lagi mempunjai arti jang actuel. Jang mempunjai arti actuel pada tahun – tahun itu ialah permusuhan antara Inggris, negara kapitalis jang tua dan Djerman, negara kapitalis jang muda dan baru terbit.

Karena rakjat Djerman hidup radjin dan hemat maka tertjiptalah didalam tapal batasnja Djerman kemakmuran jang membawa kekajaan dan adanja kapital. Modal untuk sementara dimasukkan kedalam industri – industri jang bekerdja untuk pasar – pasar dipedalaman. Akan tetapi pasar – pasar itu dengan segera dibandjiri oleh hasil – hasil industri itu, sedang teknik Djerman makin lama makin sempurna dan makin banjak menghasilkan barang – barang jang baru. Kapital Djerman tumbuh dan beranak – anak hingga bertimbun – timbun. Potensinja menjebabkan ia mendjadi expansif. Semangat Djerman mentjari diluar negeri perusahaan – perusahaan untuk memasukkan modalnja dan mentjari pasar – pasar untuk industri – industrinja jang senantiasa bertambah sempurna itu.

Suatu pengaruh jang reciprocus jang bertimbal balik terdapat antara golongan usahawan industri jang merasa dirinja makin lama makin kuat dan jang dibantu oleh ilmu pengetahuan Djerman, ilmu pengetahuan jang seolah – olah baginja tak ada sesuatu jang tak mungkin dalam hal menguasai materi. Semua itu berakibat bahwa dengan segera berdirilah suatu Djerman diatas panggung dunia jang menuntut bagiannja dari dunia, sebagai djuga 30 tahun kemudian Djepang di Orient akan memperlihatkannja kepada kita.

Akan tetapi Djerman jang muda itu pada permulaan tahun – tahun dari abad ini, dimana – mana selalu berselisihan, disini dengan Albion, negara kapitalis jang tua, disana dengan Perantjis, djuga suatu negara kapitalis jang tua, akan tetapi terutama dengan Inggris, negara jang dalam masa 300 tahun mendjadjah telah mentjiptakan suatu daerah kekuasaan didunia ini, daerah dimana matahari tak kundjung terbenam.

Pertentangan antara Inggris, negara kapitalis tua, dan Djerman negara kapitalis muda makin lama makin meruntjing. Politik international Eropah Barat dalam decennia pertama dari abad ke XX berputar di sekitar pertentangan itu sebagai inti. Golongan – golongan utama jang terdjadi mempunjai sebagai pusat atau Inggris atau Djerman. Entente Cordiale (perhubungan erat) antara Inggris, Perantjis dan Rusia menemui sebagai “pendant”nja atau satirannja, Dreibund (tiga sekawan) Djerman, Austria – Hongaria dan Italia.

Antara consentrasio – consentrasio ini terhujung – hujung politik luar negeri dari negara – negara Skandinavia. Iberia dan Balkan. Negara – negara disekitar lautan Utara (ja’ni Nederland, Belgi, Denmark) tidak mendjalankan politik luar negeri, melainkan mentjoba tinggal diluar kombinasi manapun djuga. Hal ini ternjata dalam Perang I untuk Belgia dan dalam Perang II untuk ketiga negara itu, suatu politik naief dan kurang pengertian.

Tak ada suatu negara didunia ini jang dapat menganggap dirinja sendiri maha mulia terhadap politik internasional, suatu politik jang pada achirnja dapat dipandang sebagai pernjataan dari kemauan dunia. Pengabaian kemauan dunia karena keangkuhan jang dungu, achirnja ajan membawa permusnahan diri sendiri. Pengalaman jang didapat sewaktu kedua Perang Dunia itu menundjukkan bahwa kepentingan bangsa – bangsa ketjil akan dikorbankan, djika petjah perang antara kekuasaan – kekuasaan besar.

Satu – satunja negara di Eropah Barat jang dapat mengalami kedua Perang Dunia dengan tak mendapat gangguan ialah negara Swiss, “negara jang tak berpantai”, negara jang dikelilingi oleh linea pertahanan dari gunung barisan jang tinggi – tinggi. Akan tetapi hal ini menjimpang dari pembitjaraan. Pandanglah sebagai suatu “penglihatan kesamping” sadja.

Keadaan international di Eropah Barat pada decennium pertama makin lama makin genting. Perang Balkan (1912 – 1914) waktu Turki dirungkap oleh djadjahann – djadjahannja jang dahulu, tidak djuga mengakibatkan perang jang diduga dan ditakutkan ja’ni Perang Umum Eropah.

Mega mendung ini masih berarak – arak meliwati Eropah Barat dengan tidak menimbulkan badai dan taufan. Rupanja tak satupun dari kekuasaan – kekuasaan besar, jang ada pada ketika itu berani bertanggung djawab atas sesuatu catalisyms (malapetaka) terhadap consciensis – dunia.

Akan tetapi dapat dikatakan bahwa pada saat itu jaitu pada achir decennium pertama kekuasaan – kekuasaan besar dari dunia itu telah memasuki gelanggang berdiri berhadap – hadapan siap sedia untuk mengadu kekuatan dan ketangkasan mereka.

III.        Caraclysme, Perang Dunia I (1914 – 1918)

Atjapkali muntjul dalam sedjarah dunia orang – orang jang samasekali tak mempunjai arti jang oleh nasib dipilih dan ditundjuk untuk melakukan suatu perbuatan dengan akibat – akibatnja jang mempunjai arti untuk sedjarah dunia.

Dapat djuga dikatakan bahwa Pengendali alam bertjampur tangan dengan peristiwa dunia dengan memilih orang – orang untuk melakukan perbuatan jang tertentu atau mengalaminja sendiri.

Marilah kita melajangkan pikiran kepada kedjadian – kedjadian pada pertengahan bulan Djuli 1914 didusun Serajewo dipropinsi Bosnia jang dahulu , jang pada waktu itu masuk keradjaan Austria – Hongaria. Serajewo pada saat itu dan sekarang djuga ialah suatu dusun jang tak mempunjai arti sedikitpun. Akan tetapi djuga dusun – dusunnja baru. Hal tersebut terdjadi djuga di Serajewo pada tanggal 14 Djuli 1914. Sebagai telah ditakdirkan maka pada saat itu “Erzhertog” (Pangeran) Franz Ferdinand von Habsburg jang pada ketika itu mendjadi ahli waris makota dan isterinja kebetulan berada disana, mungkin sedang bertamasja dimusim panas.

Kebetulan djuga pada ketika itu didusun tersebut terdapat seorang mahasiswa jang berliburan disana, ja’ni mahasiswa Princep, anggauta organisasi Mahasiswa Servo-Krovatia, bagian activis. Kedua kedjadian itu menghasilkan dua tembakan dengan revolver hingga Erzhertog Franz Ferdinand dan “Erzhertogin”nja kedatangan maut dan Princep meneruskan liburannja dalam pendjara.

Jang achir ini menurut riwajat – riwajat ialah seorang mahasiswa jang kehilangan kesetimbangan maknawi, pada saat itu dengan sendiri akan akibat – akibat raksasa dari tindakannja itu. Kedjadian – kedjadian jang pada hakekatnja disebabkan oleh Princep itu berdjalan dengan mengadakan perobahan seluruhnja dari ketatanegaraan dan geografi Eropah Timur dan – Selatan dan negara – negara disekitar lautan Baltik, sedang neratja perekonomian dan politik dari kekuasaan – kekuasaan dunia sama sekali dirobah. Tentang hal ini akan kita bitjarakan kemudian.

Dalam bulan Djuli itu djuga Baron von Giesl Gieslingen pula seorang jang tak berarti, jang oleh nasib rupanja dipilih untuk melakukan suatu perbuatan jang bersedjarah dunia, menjampaikan sebagai duta dari Austria di Belgrado ultimatum Austria pada Servia. Baron itu suatu type dari “Junker” Djerman menampik dengan angkuhnja djawaban Servia karena negara itu tak ingin mengabulkan tuntutan – tuntutan dari “Keradjaan-rangkap” itu dengan tak ada perbatasan dalam semua fasal – fasal. Persurat-Kabaran Djerman dan Austria pada waktu itu memudji sikap baron jang gagah perkara dan “ganz militaerisch” (prawira) itu.

Akan tetapi karena kita sekarang dapat melihat kembali ke zaman jang lampau dan mengetahui apa jang kemudian terdjadi sesudah peristiwa itu, maka timbullah pertanjaan dalam hati kita apakah tidak ada baiknja djika seorang jang tak begitu “gagah perkasa” pada saat itu menjampaikan ultimatum itu.

Karena sikap jang gagah perkasa dari Baron Vladimir von Giesl Gieslingen itu maka petjahlah perang antara Austria-Hongaria dan Servia dan belum sebulan sesudah itu maka Inggris, Perantjis, Rusia dan negara – negara Balkan (ketjuali Bulgaria) turut serta dengan membantu Servia sedang Djerman memilih pihak Austria-Hongaria. Italia jang mula – mula berada dalam keragu – raguan kemudian melepaskan diri dari ikatan dari Dreibund dan berdjoang disamping Inggris, Perantjis dan Rusia menurut keterangan menteri luar negeri Italia dari zaman itu ja’ni Sonino; karena pertimbangan jang berdasarkan “sacro egoismo”, kepentingan diri sendiri jang kudus.

Golongan – golongan kapitalis jang tua dari Inggris dan Perantjis, melihat kesempatan jang baik itu kesempatan untuk memusnahkan kapital Djerman jang muda itu dengan berselimut sembojan – sembojan kebangsaan, menggabungkan diri pada gerombolan – gerombolan ultra – nationalis dan kemiliteran dari negara mereka masing – masing.

Bagi kedua golongan kekuasaan itu Entente dan Central (sedjak pengchianatan Italia itu maka tak lagi dipergunakan kata Dreinbund) maka petaruhannja ialah expansi dari usaha keuangan dan industri. Djadi perang itu ialah perang antara kapital Inggris – Perantjis jang tua dan kapital Djerman jang muda.

Inilah aliran utama. Ia mendapat makanan dari tjabang – tjabangnja, aliran simpang, suatu antithesa raciologis.

Bagi Djerman dan Austria peristiwa tersebut memberi kesempatan untuk menghantjurkan hidup kembali dari bangsa – bangsa Slavia, jang telah memulai “renaissance” (pembaruan) dinegara – negara Balkan dibawah lindungan Rusia. Tindakan Princep, orang Servo Kravatia itu di Sarajevo ialah salah satu puntjak dari antithese antara suku Germania dan Slavia.

Aliran samping jang lainnja, jang djuga bersifat raciologis ialah antithesis antara Anglo – Saxon dan Teuton (Germania) dan aliran samping raciologis jang ketiga ialah pertentangan antara bangsa – bangsa Latin (Italia dan Perantjis) dan Germania.

Semua pertentangan – pertentangan racioligis ini menghasilkan “slogan – slogan” bagi Perang Dunia I untuk menghasut bangsa – bangsa dunia satu terhadap jang lainnja dan untuk membawa mereka kedalam tingkat dari delirium – membentji ja’ni kekatjauan pikiran jang bersifat membentji. Dengan tak adanja keadaan – keadaan itu maka “levée en masse” atau mobilisasi umum dari bangsa – bangsa tak mungkin akan tertjapai.

Desakan tinggi jang imperialis – kapitalis itu, jang djuga diperkuat oleh aliran – aliran samping jang berasal dari sumber – sumber jang nationalis – chauvinis, oleh tembakan di Sarajevo itu mendapat kesempatan untuk meletus dalam Perang Dunia I. Perang jang berachir berbeda sekali dari pada apa jang diharapkan oleh pembuat – pembuat perang dikedua belah tepi dari garis demarkasi dalam tahun 1914.

Ketiga keradjaan Djerman, Austria – Hongaria dan Rusia mengachiri riwajat mereka jang kurang lebih megah itu dalam Perang Dunia I. Ketika bangsa – bangsa Eropah dalam tahun 1919 mulai bangun dari bius perang itu dan mendjadi sadar insjaflah mereka bahwa perbandingan politik telah berobah seluruhnja.

Pada constitutio Weimar (1919) Djerman mendjadi republik sosialis dengan Kaisar – Radja Wilhelm LL diganti oleh Ebert bekas tukang pelana sebagai kepala negara. Austria – Hongaria petjah dalam tiga buah republik, Austria, Tajecho – Slovakia dan Hongaria setelah kedua propinsi Bosnia dan Hezegowina diserahkan pada Servia, jang diperbesar mendjadi Yugoslavia sedang keradjaan Montenegro djuga dianaksirnja.

Satu keradjaan baru ditjiptakan, Albania.

Rusia dari Tzar ditjipta kembali kedalam bentuk Kesatuan Republik – Republik Sovjet setelah disobek dari padanja propinsi – propinsi Finlandia Estonia, Latvia dan Lithuania jang memproklamirkan dirinja sendiri hingga republik – republik jang merdeka. Semua negara – negara jang baru itu terdjadi karena kekuatan rumus dari presiden Amerika Serikat, Woodrow Wilson almarhum ja’ni “hak menentukan nasib sendiri” untuk bangsa – bangsa ketjil. Hal ini pada waktu itu dipandang sebagai satu – satunja indjil, sebagai satu – satunja Kebenaran untuk mendapat perdamaian jang abadi dihari – hari jang akan datang.

Sekarang, 30 tahun sesudah itu setelah dunia mendjadi lebih kaja dengan pengalaman – pengalaman, sekarang kita hanja mungkin tersenjum sadja. Senjuman jang mendjatuhkan iba kasihan terhadap pandangan itu.

Perobahan – perobahan jang berlangsung selama dan sedjenak sesudah Perang Dunia I dan jang disebabkan oleh perang itu tak sadja terbatas hingga Eropah. Turkipun mendjadi republik akan tetapi menjusut hingga wilajahnja (propinsi) jang dahulu, Anatolia, sedang dari propinsi – propinsinja di bagian Selatan timbul negara – negara Arab jang asli, di semenandjung Arab dan seterusnja Irak, Syria, Libanon – Trans – Jordania dan Mesir.

Akan tetapi untuk politik dunia jang mempunjai arti jang mendalam ialah perobahan – perobahan dalam perbandingan kapital internasional, jang timbul dari Perang Dunia I terutama kemunduran jang menjusul perang itu, kemunduran dari negara – negara industri Eropah Barat jang telah bersedjarah itu, kemunduran jang tak disangkakan oleh radja – radja wang dari 1914. Waktu kapital tua dari Inggris dan Perantjis dan kapital muda Djerman bergelut – gelutan jang satu terhadap jang lainnja untuk mendapat hegemonia dunia, mereka tak menjangka bahwa mereka sedang memotong akar – akar dari pohon – penghidupan mereka sendiri.

Perobahan – perobahan inilah dalam perbandingan kapital, jang disebabkan oleh Perang Dunia I, jang memindahkan lingkungan Pacific ketingkat pertama dari kedjadian – kedjadian dunia. Sedang lingkungan Atlantik, tempat faham kepitalis berketjambah, tumbuh dan achirnja hidup dengan suburnja, lingkungan itu didesak ketingkat kedua.

Pada lingkungan Pacifik tergabung renaissance (pembaharuan) Asia, pembaharuan Asia Purba, jang, djika tanda – tanda tak salah memperlihatkannja, sekarang dipilih untuk memainkan rolnja dihari – hari jang akan datang.

Apakah sebenarnja lingkungan Pacifik itu ?

LINGKUNGAN PACIFIK

IV.        Daerah Geografik dari Pacifik

Dilihat semata – mata dari sudut geografik maka seharusnja dikatakan bahwa Pacifik itu ialah Lautan Teduh (Samudra Pacifik) dengan pulau – pulaunja dan jang dibatasi oleh pantai Barat dari Amerika Utara dan Selatan dan pantai Timur Asia jang bertemu satu dengan jang lainnja di Selat Bering. Selat jang didaerah kutub Utara amat sempit hingga hampir – hampir kedua benua itu (Asia dan Amerika) disitu bersintuk – sintukan. Kedua garis pantai itu dapat merupakan sisi – sisi tegak dari segitiga – bola, sedang garis – dasarnja dibentuk oleh rangkaian pulau – pulau Indonesia, Australia dan New-Zealand.

Djika kita menilik soal ini dari sudut politik geografik maka dalam daerah Pacifik termasuk semua negara dari Amerika Utara, Tengah dan Selatan. Rusia (atau Siberia), Korea, Djepang, Tiongkok, Muang Thai (Siam), Indo-China, Filipina, Burma, Malaya, Indonesia, Australia, New Zealand dan pulau – pulau di Lautan Teduh.

Untuk kepentingan ichtisar maka dibawah ini dilukiskan beberapa negara dengan banjaknja penduduk :

1.            Pacifik Barat :

DAERAH PENDUDUK
Da erah Rusia di Asia (Siberia) 11.752.000
Djepang 73.114.059
Korea 24.326.327
Manchuria 43.233.954
Tiongkok 461.000.000
Indo-China 23.750.000
MungThai (Siam) 15.717.000
Burma 16.824.000
Malaya 5.469.087
Djumlah 675.186.427

2.            Pacifik Timur :

DAERAH PENDUDUK
Canada 12.307.000
U.S.A. 140.387.000
Panama 673.0002
Mexico 632.000
Colombia 10.702.000
Equador 3.241.311
Peru 7.719.276
Chili 5.237.000
Djumlah 201.898.587

3.            Garis Dasar Pacifik

DAERAH PENDUDUK
Indonesia 72.000.000
Australia 7.446.000
New-Zaeland 1.746.319
Djumlah 81.192.319

4.            Pulau – Pulau dalam segitiga Pacifik

DAERAH PENDUDUK
Philipina 18.400.000
Micronesia 144.000
Melanesia 966.000
Polynesia (termasuk Hawai) 547.000
Djumlah 20.057.000

5.  Titik berat segitiga Pacifik terletak di :

Hawai 423.000

Djadi kita dengan pasti dapat menentukan bahwa kira – kira 1000 djuta manusia atau lebih dari 1/3 dari djumlah penduduk dunia ini langsung turut berkepentingan dalam perkembangan politik dan eknomi dari Pacifik.

Dalam hal itulah terletak arti dari Pacifik. Sesuatu daerah jang lebar dan luas tetapi kosong tak akan mempunjai arti untuk sedjarah dunia. Ia baru akan mendapat arti untuk sedjarah karena usaha – usaha dari penduduk jang mendiami daerah itu. Individum dan masjarakat mempunjai kebutuhan mereka masing – masing dalam penghidupan.

Djika masih mengenai  kebutuhan madi sadja maka hal ini hanja dapat dipenuhi dengan mempergunakan tenaga manusia (baik djasmani maupun rochani atau tjendekia) terhadap barang sesuatu jang terdapat dalam alam. Tjawat dan tjamping dari suku – suku bangsa kurang beradab dari Sentral – Afrika, suku – suku bangsa jang peradabannja tak dapat dipandang tinggi, dibuat menurut tjara tersebut. Akan tetapi djuga bom  – bom jang hyper – modern dihasilkan menurut procedure diatas tadi.

Pada wudjudnja proses – proses dalam masjarakat manusia bersahadja sekali, asal djiwa memberanikan diri membuang perhiasan – perhiasan jang biasanja tak mempunjai arti sedikitpun.

Berbagai – bagai bangsa jang atjapkali mempunjai tudjuan jang bertentangan ikut serta dalam proses peleburan di Pasifik itu. Dibagian Barat – Laut dari daerah Pacifik bangsa – bangsa Mongolia berdesak – desakan dipantai – pantai dari Lautan Teduh sedang dibagian Barat – daja bangsa – bangsa Melaju dan Anglo – Saxon (Australia dan New Zealand).

Dibagian – bagian Tenggara berdiam dalam republik – republik Amerika – Selatan bangsa – bangsa Latin jang berasal dari Semenandjung Iberia, dibagian Timur – laut dari daerah Pacifik terdapat conglomerate, tjampuran dari turunan – turunan dari semua bangsa – bangsa Eropah dan dari bangsa – bangsa di pantai Barat dari Afrika.

Belum lagi disebut turunan – turunan dari penduduk asli dari Amerika ja’ni bangsa Indian, jang terutama di negara – negara Amerika Selatan mulai memperlihatkan tanda – tanda renaissance jang bersifat raciologis. Tersebar diseluruh kepulauan Pacifik didjumpai bangsa – bangsa Polynesia, Melanesia dan Micronesia, turunan – turunan dari suku – suku bangsa jang barangkali meninggalkan benua asalnja, Asia Tenggara, untuk pergi merantau.

Daerah Pacifik ialah suatu gedung artja untuk anthropolgi dan ethnologi. Akan tetapi jang mempunjai arti jang lebih aktualis dari pada perbedaan anthropologi dan ethnologi dari penduduk Pacifik ialah peristiwa, bahwa sebagian besar dari bangsa – bangsa ini sekarang sadar akan hak mereka, hak jang berbanding seharga terhadap kemungkinan – kemungkinan kemakmuran, jang dapat diberikan oleh Pacifik.

Sebab, oleh karena perihal tersebut diatas terdjadi antagonisma dan pertjideraan – pertjideraan jang akan berachir dengan petjahnja perang. Daerah Pacifik mengandung kekajaan jang tak terhingga, kekajaan diatas dan bawah tanah, dilaut dan disungai – sungai.

Djalan – djalan laut jang bersedjarah jang menudju kedaerah Pacifik terletak dibagian Barat-daja dikepulauan Indonesia dan dibagian Tenggara, antara Tierra del Fuego (=Pulau berapi) dan Cape Horn (Tandjung Tanduk), bagian jang paling Selatan dari Amerika Selatan. Meliwati djalan – djalan laut itu tibalah dizaman dahulu pelajar – pelajar jang gagah perkasa di Lautan Teduh dan dengan tjara demikian mereka menjebabkan pembukaan daerah itu untuk pergaulan dunia. Dalam abad ke 19 dibuat 2 buah djalan kereta api Trans Siberia jang menghubungkan Eropah via Rusia dengan Pacifik dan dalan tahun 1914 Panama canal (= terusan Panama) dibuka, jang menghubungkan Lautan Atlantik dengan Lautan Teduh.

Perhubungan – perhubungan dengan bagian – bagian lainnja dari dunia makin lama makin bertambah dan dalam waktu jang terachir perhubungan – perhubungan itu disempurnakan dengan perkembangan lalu lintas udara.

Semua itu terdjadi karena pengaruh timbal balik dari perhatian jang bertambah, perhatian jang ditjurahkan oleh bagian – bagian lain dari dunia terhadap Pacifik dan karena bangsa – bangsa di Pacifik sendiri makin lama makin auto-actief.

Mula – mula sebagai object passif ditarik kedalam lalu lintas dunia, daerah itu achirnja mendapat kedudukan sendiri karena potensi – potensinja jang bertambah itu. Ia tak lagi taruhan pada permainan, melainkan telah mendjadi sendiri salah seorang pemain.

Tumbuhnja akan kita uraikan menurut bagan dalam paragraf – paragraf, bagian – bagian, jang tertjantum dibawah ini.

V.        Pacifik, daerah djadjahan

Dalam tiap buku tentang sedjarah dunia dapat dibatja bahwa pada permulaan abad 16 ja’ni dalam tahun 1513 seorang Spanjol jang gagah perwira, Vasco Nunes de Balboa, menjeberangi daerah Panama jang sempit itu. Berdiri disalah satu puntjak dari bukit – bukit maka laut jang tak terhingga itu, jang terhampar dimuka kakinja menimbulkan perasaan dihati sanubarinja, perasaan jang mempengaruhinja, jang menggetarkan djiwanja hingga timbullah hasratnja untuk berdjoang sebagai seorang djohan pahlawan. Disangkanja, dan dengan tepatnja, bahwa lautan itu memisahnja dari kepulauan Hindia jang diimpi – impikannja, untuk mana ia menjeberangi Samudra Atlantik. Ia memutuskan, menurut adat kebiasaan Eropah diwaktu itu, memiliki daerah jang luas dan tak terbatas itu bagi milik – miliknja.

Apakah penduduk daerah itu setudju atau tidak, rupanja bagi si “avonturier”, si pahlawan Dewi Fortuna itu, hal tersebut tidak merupakan soal jang harus dipertimbangkan.

Kedaulatan rakjat pada saat itu njata belum lagi didapat atau ditemui. Balboa itu menjatakan atas nama Ratu dari Castillia dan Aragon memiliki dengan sebenar – benarnja dan sesungguh – sungguhnja lautan tersebut dan negara – negara dan pantai – pantai, bandar – bandar pelabuhan dan pulau – pulau dibagian Selatan dan daerah – daerah jang ditaklukkan, keradjaan – keradjaan dan propinsi – propinsi jang termasuk padanja, dengan tjara apapun atau dengan hak manapun atau dengan gelar apapun didapat, jang sedang berada, atau jang akan berada, lama atau baru dizaman jang lampau, sekarang atau jang akan datang dengan tak ada satu pengetjualianpun.

Selandjutnja Balboa menjatakan Ratu dari Castillia dan Aragon sebagai satu – satunja Radja jang berkuasa di negara – negara, pulau – pulau dan benua – benua Hindia, dibagian Utara dan dibagian Selatan dengan laut – lautnja Arktik dan Anarktik, dikedua belah sisi dari chattul’listiwa, didalam atau diluar daerah panas, jang terletak antara garis balik Utara (Cancer) dan garis balik Selatan (Capricornus).

Dengan tidak memperhatikan kesombongan dari si Spanjol jang hidup dalam abad XVI itu dapat diterangkan bahwa dengan tindakan Balboa itu Pacifik ditjap sebagai : “djadjahan in optima forma” ja’ni daerah djadjahan dalam bentuk sebaik – baiknja. Karena selama lebih dari empat abad sesudah proklamasi jang angkuh itu, proklamasi dari “memiliki atas nama Ratu dari Castillia dan Aragon” dunia dengan sungguh – sungguh menghormati proklamasi itu. Dengan peristiwa itu mulailah status kolonial dari daerah Pacifik.

Oleh karena itu dianggap penting mengingatkan tindakan Balboa itu. Selama empat abad Proklamasi Balboa itu mengutuki bangsa–bangsa di Pacifik. Baru dalam abad ke XX akan menjingsinglah fadjar, fadjar kemerdekaan, untuk bangsa – bangsa itu karena rumus “hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa – bangsa jang ketjil” (1917) dari Woodrow Wilson, presiden dari Amerika Serikat dalam amanatnja kepada congres dan untuk kedua kalinja karena Atlantik Pact (1941) dari Roosevelt dan Churchill. Akan tetapi kita tak akan mendahului kedjadian – kedjadian.

Karena proklamasi Balboa itu maka Pacifik berabad – abad tak mempunjai suasana sendiri. Ia adalah suatu daerah djadjahan dan tak mempunjai penghidupan ketatanegaraan sendiri jang bersifat internasional. Soal – soal daerah ini berobah sedikit waktu Amerika Utara muntjul dalam pertengahan abad ke 20. Pada waktu itu maka soal – soal Pacifik ditentukan oleh perbandingan sesama dari negara – negara jang terletak dipantai Utara dari Samudra Atlantik. Samudra itu tetap mendjadi lautan dunia karena kapital dunia dan kekuasaan dunia jang bersangkutan dengan kapital tersebut tetap berpusat pada pantai – pantai lautan itu. Kekuasaan dunia dan kekuasaan kapital pada waktu itu ialah synonimus atau pengertian jang sama : pengertian jang identiek.

Perobahan letak dari kekuasaan di Samudra Atlantik memprojeksi sebagai perobahan “pemilik” dari benua Pacifik. Di Eropah selalu terdapat perselisihan tentang “pemilikan” daerah – daerah itu dan daerah – daerah itu selalu mengalami penggantian jang memilikinja. Hal ini bergantung apakah negara Eropah jang satu dapat mengalahkan negara jang lain dan kemudian jang pertama mendapat gilirannja dirampas dari “hak – milik”nja oleh negara jang ketiga.

Mengabaikan perobahan detail, perobahan ketjil – ketjil maka berhubungan dengan keadaan tersebut diatas tadi dalam hal jang mengenai Indonesia dapat dikatakan, bahwa pada permulaan abad jang lampau kekuasaan berpindah dari tangan Belanda ketangan Perantjis, kemudian ketangan Inggris dan achirnja kembali ketangan Belanda.

Philipina hingga 1898 ialah kepunjaan Spanjol dan pada tahun itu mendjadi djadjahan Amerika karena Perang Spanjol  – Amerika,  perang untuk memperebutkan Cuba. Cuba mendjadi negara jang merdeka akan tetapi Philipina hanja berganti “jang empunja” sadja karena kepulauan itu didjual oleh Spanjol kepada Amerika pada perdamaian di Paris untuk 20 djuta dollar.

Seluruh daerah Pacifik, termasuk djuga negara – negara jang pro forma merdeka dan berdaulat seperti Djepang, Tiongkok dan Siam dan kesultanan – kesultanan jang merdeka di Semenandjung Malaka, biasa dipandang sebagai daerah djadjahan sadja untuk kepentingan negara – negara di Lautan Atlantik, jang pada saat itu hanja tjukup mempunjai kekuasaan dan tenaga militer untuk mendjalankan kehendak mereka terhadap negara – negara jang lain.

Tak usah diterangkan dengan pandjang lebar, bahwa berhubungan dengan negara – negara jang pro forma merdeka itu, hal tersebut disembunjikan dengan tjermat sekali. Mereka tak mempergunakan kekuasaan ketatanegaraan dengan langsung, melaiknan tjara – tjara ekonomi – keuangan untuk mentjapai tudjuan – tudjuan djadjahan.

Pacifik mendjadi daerah pengusahaan untuk kepentingan Eropah Barat selama lebih dari 4 abad dan achirnja sebagai akibat dari keangkuhan jang fatalis atau tjelaka itu dari nachoda badjak laut Spanjol (mungkin djuga pedagang budak) Vasco Nunes de Balboa (editor: Vasco Núñez de Balboa), jang dalam tahun 1513 menjatakan seluruh daerah sebagai “milik” dari maliknja, Ratu dari Castillia dan Aragon. Dapat dikatakan suatu tragi-comedia, suatu permainan sedih bertjampur gembira selama 400 tahun perbudakan kolonial dan kenistaan, karena chajal dari keangkuhan jang dungu : “Der Dummheitsmacht”.

Akan tetapi tiap-tiap susunan kekuasaan mengandung unsur-unsur untuk menghantjurkan dan memusnahkan diri sendiri. Demikian djuga susunan djadjahan jang dikendalikan dengan sembojan – sembojan jang murni akan tetapi jang hanja maja belaka. Hal tersebut ialah proses jang gaib, proses dari pembetulan dari keadilan. Seolah-olah dengan proses itu Pengendali Alam bermaksud membetulkan kechilafan-kechilafan dengan mempergunakan tenaga manusia, akan tetapi diluar kesadaran penglaksana insani sendiri.

(*)  ORIENTASI

(Pendjelasan : Uraian diatas ini dikutip daripada bab pertama “Pendahuluan”, dari sebuah buku jang berkepala “Indonesia dalam gelora internasional”, dari kalam Dr. Ratu Langie. Buku in dalam waktu singkat akan terbit).

Catatan Editor:

Ejaan dalam tulisan diatas adalah sesuai yang digunakan oleh Penulis.

Video berikut, yakni penyajian Prof. Naom Chotsky, Guru Besar Ilmu Philosophy dari MIT didepan pendengar di Massachusetts Institute of Technology,  dapat dianggap sebagai lanjutan dari URAIAN SAM RATULANGIE (1949) diatas, kini 64 tahun kemudian.