ANALISA SOSOK

MARIA CATHARINA JOSEPHINA RATULANGIE TAMBAJONG

Merpati Jinak yang mengangkasa laksana Garuda Perkasa

Oleh : Dr. W.M.Ratulangie-Sudjoko ( Uki Ratulangie)


Ibu M.C.J. RATULANGIE-TAMBAJONG
Ibu M.C.J. RATULANGIE-TAMBAJONG

Panggilan kawan-kawan adalah MARIETJE. Panggilan sayang adalah TJENNY, hanya bagi keluarga yang terdekat saja, seperti suami, anak-anak dari suami (perkawinan pertama) dan saudara-saudaranya (10 orang), yang memanggilnya dengan nama itu. Marietje adalah anak nomer 7 dari 11 bersaudara dan anak perempuan yang ke-3 dari 4 orang anak perempuan.

Ayah dan Ibu Marietj
Ayah dan Ibu Marietje

Bapaknya adalah Hukum Besar Tombasian, dan pada waktu itu merupakan pejabat yang termasuk tinggi, mungkin eselon kedua setelah kontrolir Belanda. Minahasa bagian selatan sebelum PD II termasuk daerah yang kaya, yaitu sumber  Kopra. Bapaknya yang bernama Jan Nicholaas Tambajong, telah berusaha sekuatnya memberikan pendidikan yang setinggi-tingginya kepada semua anaknya. Untuk itu diperlukan biaya yang sangat besar, sehingga beliau memang sering terjerat dalam hutang.Semua kakak dan adik laki-laki diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk pergi ke Jawa dan Batavia untuk menuntut ilmu lebih jauh agar dapat bekerja dan memang semua kakak lelakinya mendapat pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Pemerintah Belanda.

Sebagian kakak-beradik TAMBAJONG
Sebagian kakak-beradik TAMBAJONG

Dari anak-anak perempuan, hanyalah Marietje sendiri yang pada usia 15 tahun dikirim ke Batavia untuk belajar menjadi guru. Dua kakak perempuan yang lain, yaitu anak nomer 2 dan nomer 4, setelah selesai MULO langsung menikah. Sedang adik perempuan nomer  11 dan dalam urutan adalah anak yang bungsu, tidak mendapat kesempatan lagi karena pecah Perang Dunia ke II.

Keluarga BesarTAMBAJONG-LEFRANDT di Amurang
Keluarga BesarTAMBAJONG-LEFRANDT di Amurang
The four TAMBAJONG sisters
The four TAMBAJONG sisters or: THE FOUR SWANS of AMURANG
Tjennie merangkul keponakannya (Willy Pesik) dirumah mereka
Tjennie merangkul keponakannya (Willy Pesik) dirumah mereka
TJENNIE
TJENNIE
Tjennie 18 tahun lulus jadi guru
Tjennie 18 tahun lulus jadi guru

Rupanya Marietje termasuk cerdas. Sesekali ia menceritakan bahwa sebetulnya ia ingin menjadi Dokter dan sekolah di Stovia, tetapi tidak jadi. Mungkin biaya tak mencukupi. Seorang teman semasanya yang jadi dokter adalah Ny. Marie Thomas yang menjadi dokter wanita pertama di Indonesia.

Tjennie dimuka rmah di Amurang
Tjennie dimuka rmah di Amurang

Dari keluarga yang besar, dengan semua kakak-kakak bekerja dan seorang kakak perempuan menjadi Istri dokter yang pada masa tersebut sangat terpandang, dapat dibayangkan  bahwa Marietje besar dalam lingkungan manja yang berkecukupan dan dilindungi.

Tjennie bersama kakak dan anak2 kakaknya dimuka rumah di Amurang
Tjennie bersama kakak dan anak2 kakaknya dimuka rumah di Amurang
Tjennie bersama adiknya dan kakaknya dihalaman rumah Amurang
Tjennie bersama adiknya dan kakaknya dihalaman rumah Amurang
Tjennie bersama adiknya Alex di Amurang
Tjennie bersama adiknya Alex di Amurang
Tjennie bersama kakaknya dan keempat keponakannya: Fransje, Willy, Etty dan Leny
Tjennie bersama kakaknya dan keempat keponakannya: Fransje, Willy, Etty dan Leny
Tjennie bersama tamu keluarga dirumah di Manado
Tjennie bersama tamu keluarga dirumah di Manado

Akan tetapi ……………………….. Jodoh ditentukan oleh Tuhan dan Marietje memilih menikah dengan Sam Ratulangie seorang duda dengan 2 anak. Sam Ratulangie, yang kaya akan cita-cita tetapi miskin dalam harta.

Foto keluarga bersama kedua kakak beserta suami yang telah mapan
Foto keluarga bersama kedua kakak beserta suami yang telah mapan

Konon ceriteranya, dilingkungan keluarga timbullah pro dan kontra terhadap pasangan ini. Namun karena Sam Ratulangie cukup dihormati oleh masyarakat Minahasa, maka pernikahan ini direstui. Marietje membuktikan bahwa ia konsekwen dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Tjennie bersama suaminya bertamu ke kawannya di Manado
Tjennie bersama suaminya bertamu ke kawannya di Manado

Marietje langsung sempat merasa kapahitan menikah dengan orang pergerakan, yang tidak mempunyai pendapatan tetap, karena kegiatan-kegiatan politiknya. Pada permulaan pernikahannya, mereka harus tinggal di rumah kecil di Pengalengan di peristirahatan seorang kawan, karena tidak sanggup membiayai rumah di kota.

Di Pengalengan
Di Pengalengan

Anak pertama lahir di Pengalengan. Kehidupannya menjadi berubah sesudah Sam Ratulangie diangkat menjadi anggota Volksraad pada akhir tahun 1927 dan mereka mampu menyewa rumah di Jakarta sampai berhenti di tahun 1937.

Tjennie istri anggauta Volksraad
Tjennie istri anggauta Volksraad
1930 Kakak beradik TAMBAJONG dirumah Dr. Pesik di Purwakarta
1930 Kakak beradik TAMBAJONG dirumah Dr. Pesik di Purwakarta

Pada tahun 1938 ketika anak yang ke-3 lahir, keluarga Sam Ratulangie kembali terpaksa tinggal dirumah kakaknya di Bandung. Baru setelah majalah Nationale Commentaren yang dikeluarkan suaminya beredar, maka keluarga Sam Ratulangie dapat menyewa rumah lagi di Bandung, bahkan dapat kembali ke Jakarta. Jadi berlainan sekali kehidupannya dengan kehidupan keluarga kakaknya yang telah mapan. Namun keadaan yang tak menentu tersebut kadang diatas dan kadang dibawah merupakan bekal untuk hidup dijaman Jepang, revolusi dan kemudian sebagai seorang janda yang harus membesarkan anak-anaknya. Pecahlah Perang Dunia II dan Belanda kalah sama Jepang. Tentara KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger) yang banyak diantaranya adalah suku Minahasa mundur ke Australia dan meninggalkan keluarga2 mereka di Batavia tanpa ada yang mengurusnya. Isteri dan anak2 serdadu KNIL yang tinggal di 10e Bataljon (sekarang komplek Rumah Sakit ABRI di Senen, Jakarta) datang kerumah Sam Ratulangie dan meminta pertolongan karena tentara Jepang mengusr mereka dari tangsi yang didiami oleh mereka. Kebetulan rumah keluarga Ratulangie tidak terlalu jauh dari daerah Senen yakni yang sekarang Kramat 5 (?) . Apa yang terjadi kemudian merupakan ceritera tersendiri yang (semoga) dapat dilaporkan kemudian.  Dibawah ini ada kopyan dari “Otobiografi” “Pemerintah Hindia Belanda mempunyai tentara terdiri atas serdadu bangsa kita: KNIL. Karena penjajah berniat mengirim serdadu – serdadu ini keseluruh Indonesia untuk membela kepentingan penjajah, maka isteri dan keluarga mereka di tampung di Tanjung Oost dan Tanjung West, yang terletak di selatan kota Jakarta. Waktu tentara Jepang mendarat, dan suasana menjadi panik penuh frustasi orang – orang mulai keluar dan merampok harta benda siapa saja. Di kamp – kamp Tanjung Oost dan West, wanita – wanita ini dirampok dan mereka lari ke Jakarta, kerumah kami dan memohon bantuan dan pertolongan suami saya. Halaman rumah kami dibanjiri wanita – wanita kebanyakan sambil menggendong atau mendukung anaknya yang sedang menangis karena kehausan dan kelaparan. Suami saya tidak dapat berbuat apa selain menemui pimpinan tentara Jepang di Jakarta untuk melaporkan kejadian ini. Berkatalah ia : “Saya melaporkan sesuatu hal kepada tuan – tuan : Pemerintah Belanda telah menampung para isteri dari serdadu – serdadunya yang berkebangsaan Indonesia di beberapa tempat di Indonesia. Setelah tentara Jepang mendarat mereka dirampok dan melarikan diri kerumah saya dan ratusan manusia memenuhi pekarangangan saya. Tuan-Tuan dapat memrbuat dua hal : Pertama: Tuan-Tuan dapat menyuruh mereka berdiri di depan Tuan-Tuan dan menembak mereka dengan satu atau dua buah mitralyir serentak Tuan-Tuan memusnahkan jiwa mereka, atau Tuan-Tuan dapat memberi mereka makan. Pimpinan tentara Jepang walaupun dalam keadaan perang saraf yang ke dua, memutuskan untuk memberi mereka 2 (?) gram beras seorang dan 20 sen untuk lauk pauk per hari.” Maka disinilah kemampuan berorganisasi dari Marietje diuji. Dengan dana tsb. diatas ia mengatur bahwa dengan bantuan para pemuda pelajar asal Sulawesi yang memang tak dapat bersekolah karena sekolah menengah dan tinggi tertutup sebab guru2nya (yang kebanyakan berbangsa Belanda) dimasukkan ke kamp atau diinterir. Pemuda2 ini dengan naik sepeda membeli beras, gula untuk dibagikan (BUKAN dijual) kepada istri2 KNIL yang dengan demikian tidak perlu kelaparan. (Catatan EDITOR: Ada sedikit perbedaan antara isi bagian naskah yang disalin diatas dengan fakta sebagaimana dilaporkan oleh editor. Hal ini dapat diluruskan jikalau naskah Harry Kawilarang perihal perampokan di Tanjung Oost dan Tanjung West dapat kami temukan kembali)

Tandjoeng Oost tempat penampungan istri2 KNIL
Tandjoeng Oost tempat penampungan istri2 KNIL

Pelajaran organisasi diperoleh langsung dari praktek sewaktu Sam Ratulangie dan kawan-kawan mengambil prakarsantuk melindungi para istri KNIL asal Minahasa yang ditinggal suaminya karena ditawan Jepang. PKC (Penolong Kaum Celebes) ini mengumpulkan, melindungi (terhadap Jepang) dan memelihara serta akhirnya memulangkan para istri kembali ke Minahasa.

Istri2 KNIL menghibur Pengurus Penolong Kaum Selebes
Istri2 KNIL menghibur Pengurus Penolong Kaum Selebes

Keluarga Sam Ratulangie pindah ke Makassar pada tahun 1943. Marietje lekas menyesuaikan diri dengan kehidupan jaman perang. Kehidupan kota Makassar adalah kehidupan yang baru dengan gaya hidup baru Marietje aktif mendampingi suami yang hidup bermasyarakat dan menjadi salah satu pemimpin pilitik. Dijaman perang revolusi sebagai istri Gubernur Pertama Sulawesi. Marietje cepat menyesuaikan diri dalam peran istri tokoh nasionalis dan mau tidak mau harus menjadi tauladan dan pimpinan para wanita. Beliau cepat mengambil keputusan untuk mengganti busana harian gaun menjadi busana kain dan kebaya serta memakai konde (waktu itu belum ada konde tempel). Marietje tidak canggung memakai kain dan kebaya, karena Ibunya sendiri sahari-hari mamakai sarong dan kebaya. Pada masa gadisnya di Amurang, ia sering mamakai sarong dan kebaya. Dan cara berbusana itu dipakai sampai akhir hayatnya pada umur 83 tahun. Segera setelah proklamasi maka para Ibu Republikein di Makassar merasa terpanggil untuk mendirikan dapur umum yang mulanya dimaksud untuk menolong orang Romusha namun kemudian berubah menjadi dapur umum untk para pejuang yang masuk-keluar kota. Marietje bersama Ibu-ibu lain lalu mendirikan Sekolah Menengah dan Perguruan Nasional untuk anak-anak kaum Republikein dan mempekerjakan pemuda-pemudi sebagai guru. Sebagai istri Gubernur, Marietje memahami benar dilemma yang dihadapi suaminya. Pada satu pihak adalah desakan Pemuda yang bersemboyan “Hidup atau Mati”, agar Gubernur menjadi militant dan pada pihak yang lain ia mengerti benar pemikiran suaminya dan para pemimpin Republikein akan bahaya konfrontasi terbuka dengan NICA tanpa memiliki senjata yang memadai. Di ruang tamu, Marietje menemani suaminya untuk ramah tapi tegar untuk tidak tunduk kepada kaum Belanda dan Inggris yang mendesak suaminya agar bekerja sama, namun di pekarangan belakang, ia juga meladeni dan menyebarkan tuntutan para Pemuda agar Gubernur dan para pemimpin mengangkat senjata. ”Merdeka atau Mati” adalah slogan Pemuda yang tidak memperhitungkan arti kehancuran yang ditinggalkan apabila kaum Republikein dilibas dengan kekuatan senjata. Situasi sangat meruncing pada waktu itu, sehingga Marietje harus tabah menghadapi bebagai keadaan. Suatu malam, suaminya bersama Bapak Saelan menyamar sebagai pedagang buah lengkap dengan mamakai sarung dan berjalan keliling kota karena diancam akan diculik oleh Pemuda. Akhirnya, suaminya beserta semua pimpinan Republikein dipenjarakan oleh Belanda. Dan setelah beberapa bulan diasingkan ke Serui, Papua. Pengasingan suami dan kawan-kawan ke Serui, Papua dihadapi dengan tabah, tanpa memperlihatkan rasa takut yang biasa tampak pada wanita dan dengan demikian telah membawa suasana tenang pada Ibu-ibu dan keluarga yang ikut diasingkan. Sejak menjemput suami dan kawan-kawan pada dini hari didepan penjara, sambil mendengar dengungan Lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan seluruh penghuni penjara, melepaskan pimpinan mereka yang dibawa entah kemana, kemudian naik pesawat Catalina didapan pantai Makassar yang pada waktu itu dipenuhi oleh kawan-kawan dan masyarakat Makassar, Marietje tetap tegar. Jelas sikap tenang dari keluarga dan bukan sedih dan panik, sangat mendorong moral Sam Ratulangie dan kawan-kawan yang tidak yahu mau dibawa kemana, hanya melihat bahwa kapal terbang menuju ke timur kearah Matahari terbit dan akhirnya tiba di Serui, Papua. Tidak ada kesedihan dan penyesalan pada Bapak-bapak tersebut yang telah membawa anak istrinya jauh dari sanak saudara. Malah mereka menggunakan waktu dengan baik, dengan bercocok tanam mengisi waktu senggang disamping menyebarluaskan pengaruh dan faham Indonesia merdeka. Demikian juga para istri yang membantu mendirikan perkumpulan IBUNDA IRIAN dengan tujuan meningkatkan ketrampilan wanita Papua. Marietje dan Ibu-ibu lain memimpin peringatan Hari Kartini 21 April 1947 dan 21 April 1948 di Serui. Kabar baik datang ketika dalam perundingan antara Indonesia dan Belanda diatas kapal Renville diputuskan bahwa semua tahanan revolusi harus dibebaskan.

Keluarga2 ex buangan dari Serui tiba di Tanjung Periuk
Keluarga2 ex buangan dari Serui tiba di Tanjung Periuk

Sekembalinya di Jogya beliau tidak sempat mengembangkan dirinya, karena tak lama kemudian berlangsunglah penyerbuan tentara Belanda dibawah Jenderal Spoor ke Jogya. Ppada Malam Natal 1948 suaminya ditangkap lagi. Suaminya kali ini tIdak dimasukkan penjara  akan tetapi dikumpulkan dengan para pemimpin Republik lainnya di Istana Presiden (Istana Hamengku Buwono ke-9) di Jogya. Sekalipun di satu istana kesehatan suaminya semakin memburuk. Pada waktu Belanda merasakan perlu bahwa tahanan2 ini perlu dipindahkan ke satu tempat di Sumatera, maka sebagian tahanan ditranspor melalui Jakarta dan di tempatkan sementara di pos polisi di mana sekarang dibangun Hotel Aryaduta. Marietje pun  mengikuti suami yang ditahan di Jakarta dan bersama anaknya menumpang dikediaman seorang kawan suaminya yakni Ir. Rasad di Taman Menteng. Oleh karena Belanda mendapat kesan bahwa suaminya sudah dalam kondisi kesehatan yang sangat buruk ia dilepaskan dengan alasan “tahanan rumah”. Sekalipun dalam kondisi yang sangat berat Marietje merasa terdorong untuk menjadi pimpinan wanita Republikein. Iapun menjadi Ketua peringatan Hari Kartini 21 April 1949 di Jakarta yang waktu itu masih dikuasai oleh NICA.

Sam Ratulangie wafat 30 Juni 1949 di Jakarta dan dimakamkan di Tondano
Sam Ratulangie wafat 30 Juni 1949 di Jakarta dan dimakamkan di Tondano

Sesudah DR.Sam Ratulangie meninggal pada 30 Juni 1949, Marietje manghadapi masa yang berat dalam kehidupannya, karena dalam keadaan damai bukan perang, beliau harus membesarkan 3 orang anak. Untunglah beliau ditawarkan bekerja di Markas Besar PMI pada bagian Logistik, dan berkutat dalam keseharian rutinitas sebagai seorang pegawai biasa. Bayangkanlah seorang istri mantan Gubernur  Sulawesi, seorang istri pemimpin bangsa dan anggota Volksraad yang terhormat, harus menjadi pegawai biasa demi menghidupi  anak-anaknya. Diperjuangkannya mati-matian, agar standar hidup tidak turun dan dengan tegak kepala dapat hidup diantara kawan-kawan dan keluarga besarnya.

Tjennie bersama anak-cucu dan keponakan2 di Jakarta (1979)
Tjennie bersama anak-cucu dan keponakan2 di Jakarta (1979)

Tinggi hati dalam pergaulan tetap dipertahankan, tetapi untuk menghidupi keluarga ia rela menjadi pegawai biasa. Juga setelah ia pension, maka dicoba mempertahankan dirinya dengan mengambil banyak anak kos dirumahnya dengan segala korban perasaan. Ia berhasil mendorong dan membuat anak-anaknya mandiri. Tantangan kehidupan telah menggemblengnya untuk mandiri dan merdeka sampai akhir hayatnya 10 Juni 1983. Perjalanan hidupnya ibarat tumbuh sebagai merpati jinak, dilindungi dan disayangi, namun setelah mengangkasa berubah menjadi garuda yang tegar untuk mempertahankan hidup keluarganya.

Oma Tjen diantara cucu2nya yang antaranya kini sudah mempunyai cucu sendiri
Oma Tjen diantara cucu2nya ( kira2 tahun 1973)
Oma Tjen diantara cucu2nya ( kira2 tahun 1973)

Itulah Marietje, salah satu dari sekian Pahlawan yang tidak dikenal, yang dengan caranya sendiri memberi sumbangsih dalam pembangunan Negara dan Bangsa.

Makam Marietje selaku VETERAN di pemakaman Keluarga Tambajong di Lopana, Amurang
Makam Marietje selaku VETERAN di pemakaman Keluarga Tambajong di Lopana, Amurang

Riwayat Hidup.

Nama                                                   : MARIA CATHARINA JOSEPHINA RATULANGIE TAMBAJONG Tempat/Tanggal Lahir                   : Amurang, 2 Maret 1901 Wafat                                                   : Jakarta, 10 Juni 1983 Agama                                                                 : Kristen, Protestan Nama Bapak                                     : JAN NICOLAAS TAMBAJONG Nama Ibu                                            : FRANCINA EVERDINA LEFRANDT Kedudukan di Keluarga                                 : Anak ke-7 dari 11 bersaudara Nama Suami                                      : DR.G.S.S.J. RATULANGIE Tempat/Tanggal Menikah           : Bogor, 2 Juni 1928 Nama Anak                                     :  1. Ny. MILLY RATULANGIE ICHWAN (almh)                                                                  2. Ny. LANI RATULANGIE SUGANDI                                                                 3. Ny. UKI RATULANGIE SUDJOKO

Pendidikan 

EERSTE EUROPEESCHE LAGERE SCHOOL MANADO 1907-1913 MEER UITGEBREID LAGER ONDERWIJS (MULO) 1913-1916 CHRISTELIJKE SALEMBA KWEEKSCHOOL 1916-1918

Pekerjaan :

Guru pada HOLLANDSCH CHINESE SCHOOL di Manado 1918-1919 Guru pada TWEEDE EUROPESCHE LAGERE SCHOOL 1919-1920 di Manado Guru pada VIERDE EUROPESCHE LAGERE SCHOOL  JAKARTA 1920-1928 di Jakarta Pegawai Markas Besar Palang Merah Indonesia, Jln.Tanah Abang, Jkarta. 1949-1957

RIWAYAT  PARTISIPASI PERJUANGAN

Zaman penjajahan Belanda

Sebagai pemudi mengikuti persiapan SUMPAH PEMUDA oleh siswa STOVIA, Menikah dan mendampingi DR.RATULANGIE dalam perjuangan melawan Belanda.

Zaman panjajahan Jepang

Membantu DR.RATULANGIE menghimpun dan melindungi para istri KNIL keturunan Minahasa dan memulangkan ke Minahasa, Mendampingi suami sebagai pimpinan masyarakat di Makassar.

Zaman Revolusi Fisik (1945-1949)

MAKASSAR

Mendampingi suami sebagai Gubernur Sulawesi menghadapi NICA dikota, mendukung pemuda pejuang di pedalaman. Menyelenggarakan dapur umum untuk ROMUSHA dan pemuda pejuang yang keluar-masuk kota, mendirikan Sekolah Menengah Nasional & Perguruan Nasional bagi kaum REPUBLIKEIN, Memprakarsai peringatan hari KARTINI pertama 21 April 1946 di Makassar (aksi damai kaum REPUBLIKEIN)

SERUI (PAPUA)

Mengikuti pengasingan suami beserta 7 rekan pejuang ke Serui, membentuk Himpunan wanita IBUNDA IRIAN, Memprakarsai peringatan hari KARTINI pertama 21 April 1947 dan 1948 di Papua.

JOGYAKARTA

Mempersiapkan keluarga untuk berangkat ke Philipina, karena DR.RATULANGIE diangkat menjadi Duta Besar Philipina. Rencana berangkat 20 Desember 1948, tetapi agresi Belanda ke IInyang dimulai tanggal 19 Desember 1948 menjadi penghalang dan DR. RATULANGIE malah ditangkap oleh Belanda ditahan di istana dan kemudian dibawa ke Jakarta (lihat diatas).

JAKARTA

Bulan Februari 1949 Ibu Ratulangie dan kelurga pindah ke Jakarta mengikuti suami yang ditahan, Menjadi Ketua Panitia Hari KARTINI 21 April 1949 sesuai permintaan Ibu-ibu REPUBLIKEIN, peringatan ini yang pertama kali diadakan di Jakarta. Karena sakit, maka DR.RATULANGIE di perbolehkan kembali kerumah dan dirawat dirumah.Pada tanggal 30 Juni 1949, suaminya:  DR. RATULANGIE wafat di Jakarta.

 

Tahun 1949 – Akhir hayat.

Pegawai Markas Besar Palang Merah Indonesia. Kegiatan sosial  a.l. PIKAT di usia lanjut Menjadi Penasihat perkumpulan keluarga DOTU RATULANGIE. Menjadi Penasihat Organisasi wanita SAHATI.

Menerima Tanda Jasa a/n Suaminya
Menerima Tanda Jasa a/n Suaminya

Penghargaan yang diterimakan atas nama suami, sebagai istri, yang diberikan Pemerintah R.I. kepada DR. RATULANGIE sebagai berikut :

BINTANG GERILYA, 10 November 1958

SATYALENCANA PERINGATAN PERJOANGAN KEMERDEKAAN, 20 Mei 1961

SATYALENCANA PERINTIS PERGERAKAN KEMERDEKAAN, 17 Agustus 1965

PERNYATAAN PERINTIS PERS, 31 Maret 1973

Sumber materi dari tulisan beliau, kesaksian kerabat dan pengalaman penulis.

Terima kasih kepada Thomas Sigar untuk scanning foto2 yang diperolehnya dari album Oma-nya Ibu Lien Pesik-Tambajong.