Taksonomi Mahasiswa: Classis baru

by Alva Supit on Thursday, October 6, 2011 at 12:18pm

Setelah lebih dari 1 semester mengajar—atau lebih tepatnya, bergaul dengan—mahasiswa Biologi, gw berkesimpulan bahwa mereka patut digolongkan dalam sebuah classis tersendiri.

‘Emang kenapa?’ gitu mungkin kamu mikir.

Karena, menurut gw, sosok-sosok makhluk imut dan norak itu, yang gw temuin tiap hari di kampus, memiliki karakteristik yang khas. Unik, berbeda dengan kingdom animalia lain pada umumnya. Meskipun mereka masih memiliki karakteristik chordata (bertulang belakang, tubuh simetris bilateral, punya celah nasofaring yang berbentuk hidung), mereka memiliki taxa yang spesial dan hierarki yang terdiferensiasi dalam pandangan gw.

Ciri-ciri spesifik classis mahasiswa:

Karena merupakan makhluk bipedal,  mereka suka lari-lari nggak karuan. Kejar-kejaran sambil tertawa kayak mak lampir. Mereka suka manggil-manggil gw, “Mener,” dan waktu gw balik nanya, “Kenapa?” mereka malah nyengir dan bilang: “cuman miskol!”

Awalnya gw mikir: “Dasar sarap.” Tapi gw mulai menikmati dinamika mereka.

Mereka memiliki tingkah laku yang spesifik dalam social networking: suka nge-add dosen di FB tapi malah nyesel, karna takut berkomentar yang macem-macem, jangan-jangan nanti nilainya dipotong ama dosen ybs.

Mereka memiliki satu identitas dan rasa kebersamaan yang tinggi sebagai satu classis. Terutama kalo lagi UJIAN.

Mereka memiliki motivasi yang gede untuk dapet IP tinggi pada minggu-minggu pertama dan 2 minggu terakhir pada setiap semester. In between? Ah, biasa jo dang kwa toh?

Mereka punya pola makan sendiri.  Nasi campur ayam pada tanggal 1-10 tiap bulannya, dan supermi campur nasi tanggal 25-30 bulan yang berjalan.

Mereka memiliki sistem respirasi yang unik: WiFi adalah nafasku.

Mereka memiliki sistem indera yang kompleks. Mereka dapat memprediksi dengan tepat apakah dosen sedang bad mood atau tidak.

Mereka memiliki sistem ekskresi yang juga berfungsi sebagai alat komunikasi. Mereka selalu merasa ingin pipis kalo kuliah mulai membosankan. (Temen-temen dosen, sadarilah: kalo mahasiswa udah pada minta ijin, itu tandanya mereka BOSAN).

Prestasi belajar mereka sangat tergantung dari sistem kardiovaskular mereka. Kalo lagi broken heart, prestasi menurun, suka duduk di sudut, tatapan kosong, mulut komat-kamit, sambil tangan menggenggam HP erat-erat. Rupanya baru diputusin pacar via SMS. Kalo udah gini, gw sebagai dosen harus cepet-cepet menutup sesi perkuliahan dan memulai sesi konseling.

Mereka memiliki kehidupan lain di malam hari. Meskipun tergolong makhluk diurnal, beberapa ordo juga hidup pada malam hari. Mereka suka ngumpul-ngumpul di teritori tertentu sambil meminum senyawa etanol dan mempererat persahabatan dengan cara mereka sendiri.

Semua kisah ini berawal di Februari 2011. Gw pertama kali menginjakkan kaki di Fakultas MIPA Unima. Kesan pertama: angker dan berdebu. Tapi kesan angker itu langsung hilang setelah gw ketemu sama Opa Sarinusi, satpam tertua di Unima. Dengan hangatnya, beliau menyambut gw dengan tulus. Setulus merpati. Caelah.

Kalo kesan berdebunya? Loe jawab aja sendiri.

Nah, setelah sungkeman dengan pembesar-pembesar fakultas, akhirnya gw diijinkan untuk memulai tugas mulia—yang gak akan gw sesali sampai selamanya: mengajar.

“Perkenalkan, nama saya Alva. Dokter Alva,” ujar gw garing dengan suara yang hampir gak kedengaran.

Mata anak-anak menatap gw tajam. Entah apakah mereka juga gugup kayak gw, ataukah mereka pengen mengguna-gunai gw, gw gak tau. Pokoknya, sesi pertama gw sebagai dosen gw lalui dengan susah payah kayak tante muda yang pengen melahirkan anak pertamanya.

Siapa menyangka, itu akan menjadi awal dari petualangan gw mengarungi dunia akademik bersama dengan teman baru gw: classis Mahasiswa.

Nah, kembali ke taksonomi mahasiswa tadi. Di pandangan gw, classis mahasiswa dapat dibagi atas beberapa ordo, yaitu:

1.       Ordo konservatif.

Mereka suka dapet nilai bagus. Ciri-cirinya: suka bangun pagi, datang di kampus sebelum dosen tiba, selalu bikin tugas—meskipun cuman nyalin dari temen kos atau copy-paste dari Wikipedia. Pokoknya, semua tugas akademik lancar-lancar aja deh. Mereka yang paling sering protes kalo dosen mau mindahin jam kuliah. Mereka juga yang paling sering meneror dosen kalo dapet nilai C. Mereka suka membentuk kelompok belajar—skalian beking gohu, makang-makang, jalan-jalan, chatting bareng, dll.

Ordo ini terbagi atas beberapa genus.

a.       Konservatif sayap kanan (mengandalkan Tuhan, baca doa 20x sehari, nggak mau nyontek saat ujian, menjaga jarak dengan dosen agar nilainya tetap objektif).

b.      Konservatif sayap kiri. Ini cuman istilah buatan gw aja. Mereka ingin mencapai nilai yang sempurna, gak peduli mo nyontek kek, mo nyogok dosen, mengantar upeti, bahkan merelakan kehormatannya (halah!) demi nilai tinggi, mereka tetap mau.

c.       Konservatif animisme. Mereka suka menyantet dosen yang pelit nilai sebagai perwujudan rasa balas dendam. Untunglah ordo ini sudah punah 15 abad lalu.

2.       Ordo idealis.

Ordo ini ditandai dengan keinginan yang menggebu-gebu untuk mencapai suatu tujuan yang bahkan nggak terpikirkan oleh dosen. Misalnya: pengen jadi pemenang nobel, pengen menyelamatkan paus biru dari kepunahan, pengen menghentikan global warming. Ordo ini, meskipun nggak harus menonjol di kampus, tapi memiliki potensi yang amat besar untuk menjadi pemimpin di masa depan.

3.       Ordo melambai.

Beberapa persen dari populasi mahasiswa termasuk dalam ordo ini. Mereka adalah makhluk-makhluk pinter yang suka membawa textbook yang tebalnya kayak ban radial, mondar-mandir lab-jurusan-fakultas dengan gaya melambai yang khas. Meskipun sering dikata-katain sama ordo lainnya, ordo melambai terbukti paling cepat menyelesaikan beban kredit yang dikontraknya. Berbeda dengan anggapan orang, menurut gw, they are true gentlemen, actually!

4.       Ordo garis keras.

Mereka sering duduk di bagian belakang kelas. Mereka sering dikeluarkan di tengah semester karena gak mencapai 80% syarat kehadiran. Sebagian dari ordo ini merupakan makhluk nokturnal (hidup pada malam hari) dan  keluar pada siang hari hanya untuk mencari makan. Mereka mengkonsumsi sejenis etanol untuk bertahan hidup. Mereka memiliki cara tersendiri untuk bertahan hidup (persahabatan), memiliki musik mereka sendiri (metal-scream-rock), gaya mereka sendiri (emo-punk).  Yang menjadi kekuatan mereka adalah persahabatan yang kental dan cinta yang ekstra dari Tuhan. Sungguhan lho! Karena sesungguhnya ordo inilah yang paling dirindukan Tuhan.  #tuhantidakmarah

5.       Ordo nekad.

Mereka adalah ordo yang nggak segan-segan mencegat gw di jalan, menanyakan nilai ujian tadi siang, meminta nomer HP gw lalu mengirimkan SMS-SMS rayuan, menunjukkan sikap ganjen yang berlebihan kalo gw dicuekin dan kegembiraan yang abnormal begitu tahu permohonan nilai A-nya dikabulkan.

6.       Ordo jenius.

Mereka adalah ordo yang membuat gw panik di tengah-tengah sesi belajar-mengajar karena mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang rumit. Beberapa dosen akan berdiplomasi, “Oke, itu jadi tugas kalian buat minggu depan.”  Ada juga dosen yang berusaha menjawab dengan segala kemampuan yang dimilikinya, meskipun nantinya malah memunculkan teori baru yang aneh bin ajaib.

Sebagai dosen baru, gw merasa harus jujur dengan keterbatasan gw. Mahasiswa sekarang emang pinter-pinter. #Untungsoadawifi. Dosen pun goes OL.

7.       Ordo beriman.

Ordo ini percaya ama semua yang gw katakan. Meskipun gw udah menyesatkan mereka dengan sengaja, mereka tetap aja percaya ama gw. Sebagai dosen, gw merasa perlu untuk mengubah sistem pendidikan di Indonesia supaya mahasiswa menjadi lebih kritis dan berani mengkoreksi dosen kalo menurut mereka ada yang nggak logis.

8.       Ordo coy-coy. 

Mereka adalah ordo yang fleksibel, suka mendekatkan diri ama gw (yang kebetulan juga suka mendekatkan diri ama mereka), yang nggak segan-segan buat menepuk bahu gw sambil minta kopian film dari laptop gw. Kalo gw punya rokok, pasti udah dimintain. Untung gw cuman punya spidol. Sisi positif ordo ini, menurut prediksi gw, bakal lulus seleksi alam sampe di tingkat nasional. Loe tafsirin sendiri deh apa artinya.

9.       Ordo underground.

Ordo ini jarang sekali terlihat di kampus. Mereka hanya mengontrak sekitar 6 SKS, itupun jarang masuk. Kalo mereka nggak berubah, maka ordo ini dipastikan akan punah dalam 2 tahun.

10.   Yang terakhir: Ordo kurang kerjaan.

 Mereka adalah mahasiswa yang, meskipun udah tau banyak tugas yang harus dicatat, tetep aja bela-belain membaca notes nggak bermutu ini sampe abis.

Kamu masuk di ordo mana?  Gw gak peduli. Tiap ordo punya caranya masing-masing untuk menikmati perkuliahan.

Karena sebagai dosen, gw menaruh harapan yang tidak terbatas terhadap semua mahasiswa gw. Mahasiswa, yang gw yakin, suatu saat nanti, akan menjadi pemimpin di marketplace loe masing-masing.

Mahasiswa, yang suatu hari nanti, akan menggantikan posisi gw, mengajar classis mahasiswa generasi berikutnya yang terus berevolusi entah sampai kapan.

Salinglah menjaga, friends. Kalo ada temen di ordo kamu yang udah mulai menghilang dari peredaran, dekatilah dia, rangkul dia lagi, bisikkan perkataan positif ke jiwanya. Pastikan nggak ada satupun yang terhilang dari angkatan kalian sampai di ujung toga wisuda. Dan gw, meskipun dari jauh, akan dengan bangga tersenyum dan berkata pada diri gw sendiri: “LIHAT TUH! Itu mahasiswa loe!”

Gw menaruh HARAPAN YANG TIDAK TERBATAS di atas pundak loe. Inget itu.

Tetaplah kejar cita-citamu.  Gw janji, gw akan bantu loe sekuat tenaga.

GBU…