Tujuh Pendekar Wanita Yang Berprestasi di Dunia pada 2011
Oleh:Harry Kawilarang 8:33am Jan 2, 2012

Pada tahun 12011 lalu, terdapat 7 wanita yang menonjol sebagai pendekar karena prestasi mereka. Para “Magnificent Seven” ini berperan mengatasi kemelut ekonomi akibat krisis keuangan dunia, memperjuangkan perdamaian dan demokrasi dengan prinsip yang kukuh dan moralitas tinggi.

Angela Merkel
Angela Merkel, Kanselir Jerman, memimpin negeri yang berada di urutan keempat sebagai Negara Gross Domestic Product (GDP) keempat terbesar di dunia patut meraih penghargaan sebagai wanita yang berprestasi tahun 2011. Ketika Uni Eropa menghadapi krisis hutang, Kanselir Angela Merkel menjadi pemimpin de facto Zone Europe. Karena keampuhan ekonomi Jerman dibawah kepemimpinannya, sehingga para pemuka Uni-Eropa tak dapat membuat keputusan apapun tanpa dukungannya.
Harian Prancis, Le Monde dalam angketnya di Prancis, sekitar 60% dari publik menempatkan Angela Merkel sebagai pemimpin paling sukses, karena dapat mencegah dan mengantisipasi krisis keuangan yang jauh lebih baik ketimbang Presiden mereka, Nicolas Sarkozy yang meraih 33%.
Pada 2011, beberapa negara yang tergabung dalam Uni Eropa mengalami krisis akibat ambur-adulnya pengelolaan lembaga-lembaga keuangan mereka hingga dilanda hutang tinggi, dan meroketnya tingkat pinjaman. Merkel dihadapkan dengan tantangan perimbangan dengan membatasi pengadaan pemberian dana pinjaman untuk menyelamatkan posisi perekonomian di dalam negerinya . Untuk mengatasinya, ia membuat kebijakan ketat hingga masyarakat Jerman tidak mudah berfoya dalam menghamburkan uang mereka untuk mencegah terjadinya pinjaman darurat (bailout). Kebijakan ini berhasil, hingga Angela Merkel menganjurkan negara-negara anggota Uni Eropa untuk memperbaiki dan mendisiplinkan fiscal mereka agar tidak mengalami krisis ekonomi seperti yang sudah terjadi di Italia dan Yunani. Bila saja terapan yang disebut Eurozone berhasil diatasi, Merkel dapat menjadi pahlawan karena jasanya menyelamatkan Uni Eropa dari kemelut krisis keuangan.

Aung San Suu Kyi
Sebutan pendekar yang kedua, jatuh pada Aung San Suu Kyi, pemuka Hak Azasi Manusia dari Myanmar. Ia menjadi tahanan baik penjara maupun tahanan rumah sebanyak 15 kali dalam 21 tahun, karena sikapnya yang menentang arus politik rezim, yang baru pada tahun 12011 penguasa Myanmar membebaskan dirinya dan mengakui partai Liga Demokrasi Nasional (NLD, National League for Democracy) sebagai partai politik yang sah dan dapat mengikuti pemilihan umum.
Suu Kyi mengatakan bahwa ia terinspirasi melakukan aksi damai tanpa kekerasan dari mendiang Martin Luther King Jr dari AS dan Mahatma Gandhi, yang merupakan dua pemuka lambang non-kekerasan di dunia internasional. Selama masa tahanannya, ia berhasil menerapkan reformasi demokrasi damai dalam aksi tuntutannya pemilihan umum yang bebas di Myanmar. Ia mendirikan partai NLD pada 1988, dan pada 1990 partainya memenangkan Pemilu, tetapi penguasa junta militer menghalanginya untuk memimpin Myanmar. Pada 1991, ia meraih hadiah nobel untuk perdamaian, tetapi ia tetap di tahan oleh penguasa militer. Walau begitu, Suu Kyi tetap menjabat sebagai Sekretaris-Jendral partai. Kendati NLD lama dibekukan, tetapi hidup kembali pada November 2010 sekalipun tidak diperkenankan ikut Pemilu. Pihak penguasa untuk pertama kali menyelenggarakan Pemilu setelah 20 tahun dan memberi izin NLD untuk ikut serta. Inipun terjadi setelah penguasa mendapat tekanan bertubi-tubi dari dunia internasional, termasuk organisasi regional ASEAN. Perubahan di Myanmar untuk terbuka menerapkan demokrasi tak terlepas dari perjuangan Aung San Suu Kyi yang gigih, ulet dan tegar walau dengan penuh pengorbanan. Namun pada akhirnya berhasil. Sungguh merupakan prestasi yang luar biasa yang dilakukan wanita Asia ini.

Dilma Rousseff, Presiden Brazil
Kendati di masa kecil ia bermimpi ingin menjadi prajurit pemadam kebakaran, ataupun seorang artis sirkus. Ternyata ia menjadi Presiden wanita pertama Brasil, yang termasuk diantara negeri-negeri terpadat di dunia (juga merupakan kekuatan ekonomi masa datang). Suatu kenyataan yang tidak pernah dibayangkan seorang gadis kecil di masa lalu.
Dimulai dengan karier sebaga pegawai negeri biasa yang tak pernah bekerja di lingkaran kantor kepresidenan, Dilma Rouseff di kukuhkan menjadi Presiden pada Januari 2011. Pada tahun pertama sebagai kepala negara, ia pecat lima anggota cabinet dan puluhan pejabat lainnya karena terbukti terlibat korupsi. Ia mendukung dan berperan langsung di sector pebankan, pertambangan minyak dan enerji lainnya. Karena keberhasilannya memperbaiki perekonomian Brazil hingga namanya melambung naik hingga 72% di bulan Desember 2011. Sekarang ini Brazil merupakan negara yang paling berpengaruh di Amerika-Selatan, negeri demokrasi terbesar di dunia (dengan populasi sekitar 200 jiwa) dan sebagai salah satu kekuatan ekonomi yang disegani di dunia berkat kepemimpinan Dilma Rouseff.

Christin Lagarde, Direktur Dana Moneter Internasional (IMF)
Christina Lagarde memimpin lembaga keuangan internasional ini sejak Juli 2011 sebagai wanita pertama. I a mempromosikan kerja-sama internasional untuk menstabilkan spasar bursa keuangan. Jebolan sarjana hokum ini adalah mantan Menteri Keuangan Prancis. Ia meraih posisi kepemimpinan IMF menggantikan Dominique Strauss-Kahn yang di copot karena dituduh terlibat dalam skandal seks ketika berkunjung ke AS. Sebagai pimpinan IMF di masa krisis Eurozone sudah melihat cara penyaluran milyaran mata-uang Euro dalam pengadaan pinjaman darurat yang ambur-adul di beberapa negeri Erop lingkungan Uni –Eropa karena terancam bangkrut. Langsung saja ia melakukan perombakan reformasi dengan menerapkan restrukturisasi system hutang terhadap berbagai perbankan di Eropa.
Christin Lagarde sangat vokal dan sering mengecam penyebab terjadinya krisis moneter pada 2008, yang terlalu di dominasi oleh kaum Adam, yang selama ini menempatkan diri sebagai yang “paling sok tau,” ternyata menjadi perusak industry perbankan.

Ellen Johnson Sirleaf, Leymah Gbowee, and Tawakkul Karman
Pada tahun 2011, terdapat 3 wanita yang meraih hadiah nobel karena prestasi mereka memperjuangkan perdamaian dan demokrasi. Mereka itu adalah Presiden Ellen Johnson Sirleaf dari Liberia, Tawakkul Karaman, aktivis dari Yemen, dan aktivis perempuan Leymah Gbowee yang juga dari Liberia. Tawakkul Karaman yang berusia 32 tahun adalah wanita Arab pertama dan jya merupakan yang termuda dalam sejarah peraih hadiah nobel perdamaian.
“Kita tidak pernah akan dapat meraih demokrasi dan perdaiaman bila wanita tidak memperoleh hak yang sama dengan pria untuk mengembangkan pembangunan masyarakat yang harus memiliki derajat yang sama,” tulis pihak panitya pemenang hadiah nobel . Selama ini mayoritas penerima hadiah nobel yang sudah berusia 110 tahun adalah kaum pria. Tetapi kali ini pilihan jatuh pada tiga wanita yang meraih 1,5 Juta dollar yang memperjuangkan perdamaian dan demokrasi di dunia. “Jadi tepat juga kiasan Cina yang mengatakan, ‘Wanita itu menguasai lebih dari planit bumi ‘ ini” ujar Thorbjoern Jagland, selaku pimpinan Komisi Nobel Norwegia kepada ketiga wanita pemenang hadiah nobel.

TERIMA KASIH kepada Bung HARRY KAWILARANG***