Beberapa waktu yang lalu saya menerima email dari Jupi. ia adalah seorang kawan satu network yakni SULUT BOSAMI. Jupi dari tugasnya dan dari hobbynya sering berkelana. Pengalaman dalam berkelana, disertai berbagai foto sering di sampaikan di mutiply.com atau wahana2 lain sejenis.

Dibawah ini adalah salinan pengalamannya mengunjungi SERUI beberapa bulan yang lalu  (2012).

 

Sam Ratulangi memberi ceramah
Sam Ratulangi memberi ceramah

Sam Ratulangi memang sudah tiada tapi karyanya menjadi buah bibir ditanah Papua khususnya Serui. Beliau diasingkan oleh Belanda pada tahun 1946, tak membuat padam semangat untuk membangun. Ditengah pengawasan ketat berhubungan dengan orang tak membuat Pak Ssam Ratulangi merasa terkucil ditanah Papua. Beliau begitu mudah bergaul di kalangana masyarakat Papua dan terus mengajak anak-anak muda Papua untuk belajar, karena anak muda yang akan memimpin negeri ini dimasa depan.

Suatu kesempatan indah untuk mengunjungi Serui, setelah beraktivitas saya masih mendapat kesempatan untuk bertemu langsung para saksi sejarah yang masih hidup, orang-orang yang pernah dekat dengan Pak Sam Ratulangi.

Pertama kali saya ketemu pak Markus Arasui yang berumur 90 tahun, dulunya sebagai mantri suntik, sayangnya pak Markus sudah tidak bisa berjalan harus dipangku, tapi masih bisa mendengar dengan baik, hanya sayangnya sudah suka lupa akan ingatan masa lalu.

Kemudian saya bertemu dengan Bapak Karel Mambai saat ini berumur 81 tahun, masih sehat berjalan dengan tongkat, bisa mendengar dengan baik tapi memorynya sudah banyak berkurang.

Satu hal yang masih terus teringat dipikirannya yaitu kata-kata Bapak Sam Ratulangi ketika mereka masih anak-anak muda, mereka berenam, dipanggil Pak Sam Ratulangi dengan suara besar, “kamu anak muda mau MERDEKA Atau Tidak? “  “MERDEKA” jawab mereka.

Pembinaan generasi penerus
Pembinaan generasi penerus

“Pak Sam Ratulangi baik bagi orang Papua, waktu itu dia  perhatikan anak2 muda di jaga betul dia tahu anak2 ini akan menjadi masa depan atau penggerak kemerdekaan.”

“Anak2 yang diajar semua anak2 baik anak Papua, untuk jadi mantri, siang dia mengajar. Kalau rapat malam”

Yang terakhir saya bertemu dengan Mantri Tonce Bonai lahir 10 mei 1931, cukup tua bukan.

Tapi Pak Tonce sangat kuat dengan umur seperti ini masih sanggup berjalan, berpikir dan menganalisa pasien. Tapi mata sudah mulai kurang baik untuk melihat dimikroskop, mantri tersisa dari jaman Belanda.  Adiknya merupakan orang paling dekat dengan Pak Sam Ratulangi yang selalu ada disamping beliau yakni bapak almarhum Nicolas Bonai, merekalah yang bergerak dibidang politik.

Bapak Sam Ratulangi sebagai dokter dan guru, beliau mengelilingi Yapen dengan perahu, jika pada perayaan 17 agustus semua masyarakat dari kampung-kampung datang ke kediaman beliau masuk bebas. Tapi diluar hari kemerdekaan mereka tidak bisa masuk, jika mereka bertemu langsung ditangkap oleh polisi. Hanya Nicolas Bonai yang sering masuk keluar kantor polisi tapi karena kehebatan berpolitik mereka dibebaskan.

Pak Sam Ratulangi juga mengajarkan pramuka bagi masyarakat ditempat yang dia kunjungi, mendidik anak-anak muda pendidikan politik.

Suatu waktu Sam Ratulangi dicari tentara Belanda, Para masyarakat yang tahu akan hali ini segera menyembuyikan Sam Ratulangi ke dalam lemari  pakaian dan menghanyutkan lewat Kali Tarau ( Manakarua) ke laut.

Pengaruh pendidikan Sam Ratulangi sangat luar biasa di tanah Papua, setiap orang di Serui sangat menghormati beliau, para politisi juga mereka mengagumi karya Sam Ratulangi.

Dibalik kehebatan seorang Putra Minahasa di tanah Papua , saat ini rumah pengasingan Pak Samratulangi yang seharusnya menjadi situs sejarah bangsa tidak terawat dan sementara diklaim milik salah satu keluarga Papua.

Sungguh sedih melihatnya jika hal-hal seperti ini menjadi hilang dari Tanah Papua, pemuda dimasa depan tak ada lagi yang mengetahui akan Sam Ratulangi pernah tinggal di Tanah Papua dan mendidik anak-anak Papua menjadi pemuda masa depan Negara ini.

Saya berterima kasih kepada Om Lefrand Kawoan yang sebagai Ketua Kerukunan Sulawesi Utara di Serui mengantar saya mengunjungi tiga orang saksi kebesaran Sam Ratulangi yang masih hidup hingga saat ini.

Diskusi ketujuh buangan bersam Bp. Silas Papare
Diskusi ketujuh buangan bersam Bp. Silas Papare
Sketsa mengenai tibanya para buangan
Sketsa mengenai tibanya para buangan
Para buangan bertani untuk memberi contoh
Para buangan bertani untuk memberi contoh

coffeete@

Selanjutnya saya ingin tambahkan beberapa foto yang dibuat ditahun 2008 dimanM RATU LANGIE bersama keluarga berdiam selama 2 tahun.

Gerbang dan jalan masuk ke Situs
Gerbang dan jalan masuk ke Situs
Gerbang dan jalan masuk ke Situs
Bp. Adwin dan Ibu, Ibu Shirra dan suami
Ruang depan
Ruang depan
Ruang tempat Ibu Milly di semayamkan (1996)
Ruang tempat Ibu Milly di semayamkan (1996)
Ruang belakang dan sumur
Ruang belakang dan sumur

Kesemuanya bagi saya sangat kukenali, dan semoga penampilan seperti yang difoto dapat dipertahankan. Mungkin ada baiknya sesekali gedung ini dimanfaatkan untuk acara2 tertentu.

SEKIAN dan TERIMA KASIH.