MEI 31, 2013

Suatu sore di saat aku sedang beranjak untuk mandi di sumur. Kakak piara (baca: kakak angkat) memanggilku dengan penuh semangat. Dia sedang duduk-duduk di bale-bale depan rumah bersama Baskia—tetangga yang sekaligus masih saudara dekat kami.

Aku menghampiri mereka penuh keheranan dan menyimpan penasaran tinggi. Dengan masih memegang ember, handuk serta perlengkapan mandi lainnya, aku sempatkan mampir dulu ke bale-bale.

“Pak guru, beta kasih nama pak guru di Ratna pu anak dong.” Katanya dengan logat yang khas. Ratna juga saudara angkatku yang tinggal beda rumah dan baru saja melahirkan anak laki-laki lucu.

Aku tersenyum ditambah sedikit tertawa mendengar pernyataan itu. “Maksudnya, dong pu nama Fahmi?” Aku bertanya bermaksud menegaskan.

“Iyo, beta kasih nama Fahmi di anak laki-laki kecil itu. habis, pak guru su mau pergi tho, jadi biar sudah buat kenang-kenangan. Pak guru Fahmi pi jawa, baru Fahmi kecil tinggal di Urat.” Jelasnya.

Aku tertawa mendengar penjelasan itu. “Pak guru, dong mirip dengan pak guru, rambut lurus, kulitnya lai putih.” Tambahnya sebelum aku berkomentar.

“Ahh… kah?” Tanyaku heran.

“Iyo, dulu pas Ratna hamil pak guru jalan lewat di belakang dia.” Katanya.

Aduh, aku makin kebingungan, kenapa gara-gara aku lewat di belakang orang hamil, terus anaknya mirip denganku?

“Pak guru, disini, kalau ada orang hamil, orang lain tara boleh lewat di belakangnya, nanti anaknya tara mirip orang tuanya lai. Tapi mirip orang yang lewat itu.” Kakak piara memberikan penjelasannya.

“Iyo pak guru, besok-besok kalo saya hamil, saya minta pak guru lewat di belakang saya sudah, biar sa pu anak itu mirip pak guru!” Baskia menambahkan.

Aku tertawa, dan tak menyangka mendengar mitos itu.

“Ohhh, tarapapa tho, baik. Berarti kalo mirip saya itu gantteng!” candaku.

“Iyo pak guru ganteng. Sapa bilang pak guru tara ganteng.” Celetuk Baskia. Tawa kami semua pun pecah.

“Hahaaaeeee…” Tertawa khas mereka pun keluar. Aduh, ada-ada saja.

Jujur, ada sedikit kebanggaan dan merasa terhormat namaku dipakai oleh orang kampung. Itu artinya, aku akan selalu diingat bersamaan dengan tumbuh kembangnya si Fahmi kecil itu.

Terharu rasanya. Aku melangkah riang menuju sumur dengan mulut menyusun senyum. Angin semilir sore di kampung memang terasa menyejukkan. Mendadak aku jadi kepikiran, besok kalau aku punya anak mau dikasih nama siapa ya?? Begitu pikirku dalam hati. Hahaaaeee *prook!*