Sudah satu setengah bulan berlalu setelah hari naas 15 Januari 2014…..

Beberapa hari setelah terjadinya musibah adik saya datang berkunjung dan menceriterakan bahwa saudara2 saya yang mempunyai kintal (property) di Sawangan, Kembes (pinggiran kota Manado) “kena” musibah banjir…..Dan kerugian aneka materi cukup besar. Maklumlah mereka kebanyakan adalah pensiunan seperti saya juga. Dan dirumah2 mereka disimpan berbagai perabot antara lain yang sangat berharga seperti piano kelas top, pantaslah sebab saudara saya adalah lulusan sekolah musik di Roma. Disamping itu yang hancur juga adalah peternakan ayam dengan kapasitas beribu2 ekor ayam serta berbagao barang milik pribadi lainnya . 

VIDEO: SULUT BANGKIT oleh Veldy Umbas

Dikatakan pula oleh adik saya bahwa menurut keterangan yang diperoleh maka penyebabnya adalah luapan air  danau Tondano, dimana pintu ajr bendungan yang (katanya) ada, dibuka  dengan sekali gus (a la “Tondano”) dan bukan secara bertahap (a la “lain tempat”) . Benar tidaknya penjelasan ini kita tunggu saja tanggapan KALAU ada. (Dan ternyata ADA, untuk itu silahkan lihat pada akhir posting ini  “Thoughts on this post”.)

Kabar yang dibawa oleh adik saya mengingatkan saya kembali akan peristiwa yang saya alami 10 tahun lalu, yakni ditahun 2004 saya menghadiri suatu Konperensi Danau se Indonesia, karena kebetulan terbaca satu berita di koran bahwa ada satu organisasi internasional bernama LakeNet membantu penyelenggaraannya di Jakarta. Untunglah saya menemukan laporan kehadiran saya pada konperensi itu. Bahkan teringat pula hal2 kecil mengenai acara yang ditempuh. Pada waktu Pembukaan Konperensi saya lihat bahwa para peserta berasal dari berbagai daerah dan juga dari berbagai instansi yang terkait disamping pula pihak2 yang mungkin pernah atau sedang menjalankan kerjasama. Baik dari luar negeri dan dalam negeri. Selain dari pada itu ada beberapa wakil dari negara tetangga yang juga menyajikan pengalaman mereka dalam upaya pelestarian danau mereka seperti dari Pilipina.

Saya tentunya sangat tertarik kepada apa yang akan dilaporkan oleh Pengelola Danau Tondano. Waktu istirahat saya tanya kepada Ibu Dra. Hartiningsih, Ketua Panitia apakah Pengelola Danau Tondano sudah hadir. “Oh sudah…., ini laporan yang dibawanya mengenai Danau Tondano.”  Saya diberikan satu berkas terdiri dari 3 halaman A4 ditik dobel spasi. (Di website saya diatas saya lampirkan pula naskahnya, maaf kurang jelas scanningnya). Waktu pembahasan laporan2 dalam sesi2 ternyata Laporan Danau Tondano tidak akan dibahas …..Mungkin karena isinya begitu “sumir” (alias tidak berisi materi yang berarti dan layak untuk didiskusikan permasalahan2nya).  Pada sidang2 lanjutan wakil Sulut terkait sudah tidak kelihatan hadir lagi, padahal saya ingin sebenarnya berbincang2 dengannya. Yah…. pasti ada kegiatan lain yang perlu dia laksanakan, misalnya syoping di ITC yang katanya murah sekali macam2 barangnya………  Setelah saya baca dokumen yang diberikan ternyata judulnya

sualang01k

sualang02ksualang03k

Laporan yang dibagikan tersebut tidak ada tanggal dan tandatangan  mungkin karena seingat saya Bpk Sualang waktu itu sudah berada di Rutan Salemba, Jakarta. Sebagai satu laporan yang seyogyanya mengharapkan tindak lanjut atau sedikitnya ada kekuatan bobotnya karena didukung oleh satu forum semi-internasional jelas tidak mememenuhi syarat. (Waktu pada saat break saya sempat ngobrol lagi dengan Ibu Hartiningsih dan saya mengeluh karena “disintererst” (tidak adanya perhatian) pihak pelapor SULUT pada materi bahasan, maka Ibu Hartiningsih menjawab: ” Memang begitu, Bu….. karena tidak “basah”…….selalu begitu.” AMPUNNN, kalau “danau” tidak “basah” memang sudah gawat keadaannya……..)

 Sebenarnya sedari tahun2 2004ankeatas maka sekali2 waktu saya browsing dengan Google perihal Danau Tondano. Agaknya jikalau kita bikin printout dari naskah2 tersebut maka kita sudah mendapat tumpukan setinggi 45 cm sepertinya. Seyogyanya para penanggung jawab perlu membaca dan MEMPELAJARI laporan2 tersebut  untuk mencari SOLUSI bagi masalah Danau Tondano agar dapat tersusun satu ROAD MAP  kearah implementasi solusi itu .

Namun demikian……. para pengelola mutlak perlu melaksanakan itu.

INGA!  …… INGA!….. betapa besar nilai kehilangan nyawa dari warga2 Manado dan sekitarnya dan INGA! betapa besar kesedihan saudara, suami, istri, anak , kakak, adik yang kehilangan anggauta keluarganya pada musibah ini dan musibah2 sejenis yang secara periodis berlangsung…..

Pocket2 daerah dimana warga terperangkap banjir Manado.
Pocket2 daerah dimana warga terperangkap banjir Manado 2014 (Team SAR Steven Sumolang)

Dapat terlihat dari gambar diatas dan dibawah ini  bahwa banjir bandang Manado 2014 memang disebabkan TERUTAMA oleh tumpahan Sungai Tondano disamping faktor2 lain.

Map-of-Tondano-Lake-Watershed
Map-of-Tondano-Lake-Watershed (Gambar dari studi Elsje Pauline Manginsela)
Peta Jalan Manado
Peta Jalan Manado (untuk orientasi bagi yang kenal Manado)

Untuk membaca SALAH SATU dari sekian Laporan Ilmiah tentang gawatnya keadaan Danau Tondano, silahkan klik pada tautan berikut:

Identification of Environmental Threats to the Tondano Watershed

Namun jika kita membaca tulisan yang agak populer marilah kini kita mengikuti blog berjudul

INDONESIA NOW by DUNCAN GRAHAM

First published in The Sunday Post 8 September 2013

 SEBAGIANnya  saya kopy dibawah ini

“In 1934 Dutch engineers measured the lake’s depth at an average 40 meters. Forty years later it was 28 meters and two years ago just 12, according to the North Sulawesi Environmental Management Agency.Between 2003 and 2005 the lake and its surrounds were mapped and researched. About a third of the watershed was identified at risk.

Areas of land were replanted with around 10,000 trees. Erosion banks were installed in 21 demonstration plots that included crop rotation to reduce runoff. The long term aim was to help lift incomes and living standards for the people who rely on the lake for food and irrigation. The Minahasa Region, centered on Tondano town, has a population of more than 300,000.

Suitably impressed the Czech Republic began funding a five-year US $415,000 (Rp 4.3 billion) rehabilitation project through its development agency in association with the Minahasa Regency. That was in late 2008 – and it couldn’t have started at a worse time. The global economic crisis hit Europe and within two years the funds had vanished. But not

the weed. Locals had dragged some of the huge green carpets ashore to dry but the task is Herculean. Enthusiasm wilted when the cash flow stopped.

Small sheds were erected on the lakeside housing engine-powered shredders so the dried nitrogen-rich material could be processed into fertiliser. The machines stand idle, quietly rusting while the wind-whipped weed laughs its way to the

further bank, dropping seeds that can last up to 30 years. Rabbits are supposed to be prolific, but eceng gondok can double its population in just over a month.

Despite its criminal record, that includes harboring mosquitoes and starving the lake’s nike fish of oxygen, the weed has some redeeming qualities. It sucks up heavy metals including arsenic so can purify polluted water, particularly from industrial sites. The dried stems are strong, particularly when braided into ropes. Woven through wood or bamboo

slats it makes robust chairs and sofas, though manufacturers say the gray material is too waxy to take paint or varnish. It can also be used to make paper. “The main aim was to bring new cropping patterns that would benefit farmers and also introduce crops for production of biofuels,” said the former project manager Dr Karel Peter Kucera. “There’s a shortage of fuels for transportation and cooking, so farmers have started to cut the trees again. Bio fuels could be used to address this situation.

“We identified about 15,000 hectares that could be used to establish agroforestry plantations. We also recommended harvesting the eceng gondok and use it for production of organic fertiliser, bio gas and furniture.”

In 2011 the Environment Ministry launched a Lake Rescue Plan (GERMADAN) to save 15 lakes,  including Tondano. It is understood most attention is being given to Lake Kerinci in Central Sumatra and Lake Rawapening in Central Java.This year nine ministries signed an agreement for ‘sustainable management’ of the lakes. No budget was announced. An Environment Ministry officer said regional governments had to do more to protect their lakes. In Tondano’s case allowing the spread of fish farms was aggravating the problem becaus feed and excrement encouraged weed growth.

In April this year North Sulawesi, Governor Sinyo Sarudajang told Antara News that he was committed to handling the problem. German experts would visit the lake “soon” and see if the weed could be used to make bio-gas.

 However his staff said it was not known when the German team would arrive.  A circuit of the lake found no sign of control measures, and villagers claimed nothing was being done to halt the invader.
Indonesia isn’t the only victim of eceng gondok, but it seems to be one of the most passive.  Elsewhere a war is being waged with machines, chemical sprays and insects, though all have their downsides.  An infestation in Florida is now reported to be under control.
“The lake should be saved,” said Dr Kucera, “but it needs a good feasibility study and I think honest international and local investors.”
First published in The Sunday Post 8 September 2013
JADI……….  Sambil menunggu KAPAN Bapak Sarundayang ada waktu mengundang dan membahas hal2 bekenaan dengan penyelamatan Danau Tondano……. Marilah kita membaca dulu komentar2 dan rekomendasi2 disalah satu laporan riset yang ada ditumpukan virtual Laporan2 mengenai Danau Tondano:
SILAHKAN BACA Bapak2/Ibu2 Legislatip/Eksekutip Kabupaten MINAHASA:
(Terejemahan dibuat oleh Lani Ratulangi)
  • A weakness at the district level is a low level of technical capacity to analyze and evaluate natural resource issues. There is a need to utilize technical assistance to monitor and evaluate environmental quality. The district governments need to develop better linkages to the local University, other research institutions, non-government organizations and other groups 

    offering technical assistance to better utilize the expertise of these organizations.

  • Kelemahan ditingkat kabupaten adalah rendahnya kemampuan teknis untuk menganalisa dan mengevaluasi isu2 sumber daya alam. Ada kebutuhan untuk menggunakan bantuan teknis untuk memonitor dan mengevaluasi kwalitas lingkungan. Pemerintah kabupaten perlu mengembangkan kaitan2 yang lebih baik dengan universitas2 setempat, lembaga2 penelitian lain, organisasi2 non-pemerintah (LSM2) dan lain2 kelompok yang dapat memberikan bantuan teknis agar keahlian2 yang ada pada orgenisasi2 ini dapat digunakan lebih baik.
  • The comparative advantage of local government at the district level is it closeness to the people, but local governments have not yet developed effective systems for community consultations on environmental issues. This is partly due to the bureaucratic culture evolved from the New Order years as well as a lack of training in approaches to foster greater community participation.
  • Keutungan komparatip pemerintah kabupaten adalah dekatnya kepada penduduk, namun pemerintah lokal ini belum membina sistem2 konsultasi masyarakat yang efektip mengenai isu2 lingkungan. Ini sebagiannya adalah akibat dari budaya birokrasi yang berlangsung dimasa Orde Baru, namun juga akibat kurangnya latihan dalam pendekatan untuk membina partisipasi masyarakat yang lebih besar.
  • Greater attention should be given to development of this capacity in order to better achieve the objectives of local government.
  • Perhatian yang lebih besar perlu diberikan kepada pembinaan kemampuan yang  disebut diatas agar tujuan2 pemerintah lokal dapat dicapai dengan lebih baik.
  • There is also a critical lack of accurate information at the district level on the natural resources of the district. Mapping and information on natural resources tends to be compartmentalized by sectoral agency and not available to the public. There is a need to develop a more comprehensive data base which is easily accessible to all government agencies and to the public.
  • Juga diamati ada keterbatasan yang kritis pada tingkat kabupaten mengenai informasi2 akurat tentang sumber daya alam yang ada dikabupaten. Pemetaan dan informasi tentang sumber daya alam ternyata terkompertemen secara sektoral pada dinas2 terkait dan tidak untuk umum. Sangat diperlukan adalah pengembangan satu data base yang komprehensip yang mudah diakses oleh semua dinas pemerintah dan umum.

Post Scriptum

Hari2 ini (akhir Februari 2014) di beberapa media  misalnya :

http://m.kompasiana.com/post/read/627064/3

dan juga

http://www.suarapembaruan.com/home/pemerintah-pusat-harus-cepat-bangun-waduk-di-das-tondano/31215

disebut perihal pembangunan waduk atau bendungan  “untuk mengurangi resiko tumpahan banjir dari DanauTondano seperti terjadi tanggal 15/1/2014”. Puji Syukur kepada Tuhan ……..

NAMUN itu baru mengatasi sebagian dari masalah Danau Tondano.  AKAR permasalahan belum tersentuh. Dan akar2nya terletak  pada deforestasi yang terjadi di HULU DAS Tondano (memerlukan replanting), pada sedimentasi didasar danau (harus dikeruk) serta eutrifikasi dibadan air (harus membersihan air), enceng gondok dipermukaan air (harus dicari upaya pendaya-gunaan) dll hal yang disebut dilaporan2 yang sudah lama itu. Ada berbagai rekomendasi2 yang sama sekali tidak diperhatikan bahkan dibikin proyek penelitian baru lagi dan baru lagi dan baru lagi…..Yang diperlukan adalah perhatian SUNGGUH2 dan KONSISTEN akan upaya pelestarian ini. Diketahui bahwa disamping memakan waktu minimal lima tahun dengan kebutuhan dana yang SUPER besar yang harus diajukan permohonannya kepada pusat (“Blue Book” BAPPENAS). Hal ini memerlukan kemauan, semangat, kejujuran dan “ausdauer” yang besar. Oleh karena itu YTH Bapak Gubernur SULAWESI UTARA perlu sesegera mungkin menetapkan satu Team Pengelola Danau Tondano yang bertanggung jawab penuh, yang profesional dan FULL TIME. Sebaiknya berasal dari dinas2 sektoral dan lembaga2 penelitian. Hal ini diperlukan karena Sang Danau Tondano sudah memberikan peringatan keras agar masyarakat SULUT segera memilih: PELESTARIAN DANAU TONDANO atau “more of the same as on 15 January 2014” . Silahkan pilih….

ORA et LABORA